Hidupku antara Cinta dan Dosa

by -

METROPOLITAN – aneh dan perhatian yang besar kepadaku. Aku jadi hanyut dan sangat menikmati saat-saat itu. Dia pun merasakan hal yang sama dan mengaku sangat bahagia berdua denganku.

Saat kucium keningnya dia tidak menolak dan bahkan dia memejamkan kedua matanya sebagai pertanda dia menyukaiku. Sejak pertemuan itu, kami menjadi sering bertemu, sekali seminggu menjadi dua tiga kali seminggu.

Kami seperti anak muda yang sedang hanyut dengan cinta. Dan parahnya kami tidak lagi sekedar jalan dan makan berdua, tetapi lebih dari itu, kami sudah seperti layaknya suami istri.

Kami melakukan hubungan itu tanpa ada rasa takut lagi. Kehidupan kami betul-betul sangat romantis dan melenakan. Hingga suatu hari, apa yang kutakutkan akhirnya terjadi juga.

Aku masih ingat malam itu, kami lagi chating dengan mesranya, kukirimi dia pesan romantis dan bahkan pesang tentang hubungan kami.

Lalu tiba-tiba telponku berbunyi, kupikir si mbakku menelpon. Aku angkat dengan semangat tapi yang terdengar di sana bukan suara mbakku tapi suara laki-laki yang tidak lain adalah suaminya.

Ya Tuhan, aku kaget setengah mati bercampur takut. Aku gugup dan tidak mampu berkata-kata. Aku dicaci maki oleh suaminya dan bahkan dengan apapun aku berusaha mengelak, suaminya tidak percaya padaku. Di belakang akuĀ  (bersambung)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *