Hidupku Antara Cinta dan Dosa

by -

METROPOLITAN – Kenekatanku menjalin hubungan cinta dengan wanita bersuami berbuah petaka. Aku yang awalnya iseng akhirnya jatuh cinta betulan.

Aku tidak tahu harus berkata apa ketika suatu hari suaminya menelepon dan memaki-maki diriku…

Namaku Andi, aku asli Bogor dan bekerja di Jakarta. Aku akrab dengan seorang wanita yang sudah bersuami.

Awalnya aku hanya menganggap dia sebagai kakak dan aku juga senang dan merasa nyaman berbincang dengannya.

Tapi seperti kata pepatah jawa “tresno jalaran soko kulino”, karena terlalu sering bersama membuat kami berdua jatuh cinta.

Meskipun hubunganku dengannya dimulai dari sekedar sms dan lewat handphone saja tapi lama kelamaan kami saling rindu.

Mungkin mbakku itu juga sedang kesepian karena suaminya bekerja di luar kota, dan karena itu pula dia bebas bertelponan denganku seharian bahkan sampai larut malam.

Aku mengenal si mbak secara tidak sengaja di sebuah supermarket, dari perkenalan itu aku mendapat nomor ponselnya, waktu itu aku tidak tahu dia sudah menikah.

Hubugan kami lewat hp dan sms tidak berlangsung lama, suatu hari ketika suaminya berangkat ke luar kota dalam waktu lama, dia mengajakku ketemuan dan makan bareng.

Aku merasakan sikapnya yang aneh dan perhatian yang besar kepadaku. Aku jadi hanyut dan sangat menikmati saat-saat itu. Dia pun merasakan hal yang sama dan mengaku sangat bahagia berdua denganku.

Saat kucium keningnya dia tidak menolak dan bahkan dia memejamkan kedua matanya sebagai pertanda dia menyukaiku.

Sejak pertemuan itu, kami menjadi sering bertemu, sekali seminggu menjadi dua tiga kali seminggu. Kami seperti anak muda yang sedang hanyut dengan cinta.

Dan parahnya kami tidak lagi sekedar jalan dan makan berdua, tetapi lebih dari itu, kami sudah seperti layaknya suami istri.

Kami melakukan hubungan itu tanpa ada rasa takut lagi. Kehidupan kami betul-betul sangat romantis dan melenakan.

Hingga suatu hari, apa yang kutakutkan akhirnya terjadi juga. Aku masih ingat malam itu, kami lagi chating dengan mesranya, kukirimi dia pesan romantis dan bahkan pesang tentang hubungan kami.

Lalu tiba-tiba telponku berbunyi, kupikir si mbakku menelpon. Aku angkat dengan semangat tapi yang terdengar di sana bukan suara mbakku tapi suara laki-laki yang tidak lain adalah suaminya.

Ya Tuhan, aku kaget setengah mati bercampur takut. Aku gugup dan tidak mampu berkata-kata. Aku dicaci maki oleh suaminya dan bahkan dengan apapun aku berusaha mengelak, suaminya tidak percaya padaku.

Di belakang aku mendengar suara mbakku yang menangis dan meminta maaf berkali-kali.

Dan sejak itulah aku putus hubungan dengannya, nomor yang dia berikan tidak aktif lagi. Kadang sembunyi-sembunyi aku meneleponnya dari nomor lain sekedar ingin mendengar suaranya, aku rindu tapi takut suaminya.

Tetapi nomornya sudah tidak pernah aktif lagi. Aku betul-betul merasa sangat kehilangan.

Sekitar satu bulan dari kejadian malam itu, aku tak menyangka mendapat telepon darinya, dia meminta maaf padaku dan mengucapkan kata perpisahan.

Sungguh aku betul-betul jatuh cinta kepadanya dan tidak sanggup mendengar ucapan itu. Aku menangis, diapun menangis.

Kehilangan dirinya membuat hidupku pincang, aku jadi tidak bersemangat, kemanapun aku pergi aku selalu berharap bertemu dengannya di tempat itu, tetapi membayangkan dia sedang bersama suaminya membuatku lunglai, lemas. (cer)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *