Ini Riwayat Lengkap Pasien Corona di Bogor

by -
Ilustrasi

METROPOLITAN.id – Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Bogor mengumumkan secara resmi pasien positif virus corona.

Hingga saat ini, ada tiga orang yang sudah dinyatakan positif dan satu di antaranya meninggal dunia.

“Terkait pasien positif yang ada di Kabupaten Bogor, memang pada awalnya kami belum mendapat kabar yang terang. Karena yang positif ini mereka berurusan di Jakarta dan ber-KTP Jakarta sehingga tidak terpantau kami. Tetapi tinggalnya di Kabupaten Bogor,” kata Bupati Bogor Ade Yasin saat penyemprotan disinfektan di SMA Negeri 2 Cibinong, Kamis (19/3).

Dua dari tiga pasien positif corona berasal dari Bojonggede dan merupakan ibu dan anak. Sang anak, laki-laki (35), merupakan kasus positif akibat tertular dengan pasien asal Depok saat ikut berdansa.

25 Februari 2020 laki-laki ini berdansa dengan guru dansa berusia 33 tahun.

26-28 Februari 2020 mulai demam dan sembuh pada 28 Februari.

29 Februari mengeluh tidak bisa mencium dengan baik. Alat penciumannya terganggu dan dia tetap bekerja seperti biasa menggunakan transportasi umum seperti ojek online, KRL, MRT dan busway.

7 Maret merasakan nafas berat.

12 Maret diperiksa darah dan rontgen di RS Persahabatan

14 Maret dilakukan pemeriksaan swab

14 Maret mengeluh sakit sendi

17 maret, berdasarkan advice dari rumah sakit, disarankan isolasi mandiri.

“Pertama laki-laki usia 35 tahun, pegawai swasta, dia adalah rentetan dari kejadian pertama yang dansa. Walaupun lelaki itu terlihat sehat, virus itu menular ke ibunya berumur 67 tahun, karyawati swasta,” terangnya.

Menurutnya, sang ibu dinyatakan positif pada 14 Maret melakukan tes dan keluar hasilnya pada 16 maret yakni positif corona.

27 Februari ia mengikuti seminar di jakarta

28 Februari menjenguk mantan suami di RS Tarakan yang terkena pneumonia lalu ia mengalami diare

29 Februari periksa ke dokter di Jakarta, minum obat selama empat hari tetapi belum sembuh

10 Maret dirawat di RS Jakarya. Setelah dicek lab dan rontgen paru, diketahui ada infeksi paru dengan diagnosa pneumonia

14 Maret dirujuk ke RS Persahabatan karena anaknya khawatir sang ibu kena corona.

14 Maret dilakukan cek lab covid

16 Maret keluar hasilnya positif corona

“Tadi malam penderita meninggal dunia di RS Jakarta dan akan langsung dikebumikan di Jakarta pula,” ungkap Ade Yasin.

Untuk sang anak yang positif, Ade Yasin mengaku telah memerintahkan RSUD Cibinong untuk menjemputnya untuk mengikuti karantina. Sebab, laki-laki tersebut memang tinggal di Kabupaten Bogor meski aktifitasnya sehari-hari kebanyakan di Jakarta.

Tak hanya itu, Ade Yasin mengaku pihaknya sedang melakukan treking kepada siapa saja yang kemungkinan pernah berinteraksi langsung dengan pasien positif corona tersebut.

“Pertama kita harus wawancara dengan yang positif pernah berhubungan dengan siapa saja. Tapi yang sudah ketahuan adalah pembantu, itu yang sedang kami cari. Lalu tukang ojek karena pernah naik juga dan beberapa orang yang diindikasikan pernah kontak langsung,” bebernya.

Ade Yasin memastikan, dua orang tersebut merupakan kasus pertama positif corona di Kabupaten Bogor. Selain keduanya, dirinya mengaku baru saja mendapat laporan ada seorang pramugara yang merupakan warga Kabupaten Bogor positif corona.

“Ada satu lagi, jadi hari ini kita dapat tiga kasus. Laki-laki 27 tahun, Cibinong, pramugara, riwayat perjalanan terakhir Singapura. Timbul gejala 6 Maret, sehari kemudian pengambilan sampel di RSCM. 12 Maret diinfokan negatif, hasil pemeriksaan kedua positif tanggal 15 Maret. Jadi dua diisolasi dan satu meninggal,” pungkas Ade Yasin.

Sementara itu, Kepala Bidang Pelayanan Kesehatan pada Dinkes Kabupaten Bogor dr Kusnadi mengatakan, selain tiga orang yang positif, total ada 86 orang dalam pemantauan (ODP). 39 di antaranya sudah selesai penanganan dan 47 lainnya masih dalam pemantauan.

“Untuk Pasien Dalam Pengawasan (PDP), total ada 22 orang. Selesai penanganan 17 orang dan lima orang masih dalan pengawasan,” terang Kusnadi.

Saat ditanya mengapa baru saat ini terungkap, Kusnadi mengaku warga yang positif corona berKTP Jakarta. Mereka juga awalnya ditangani di Jakarta sehingga awalnya tidak terdeteksi.

“Tidak terdeteksi karena KTP Jakarta, daftar di RS Jakarta, tapi rumahnya di Bogor. Kami harus tanggung jawab juga. Bukan kecolongan, tapi masuknya cluster jakarta,” katanya.

Menurut Kusnadi, daerah perbatasan seperti Kabupaten Bogor memang cukup rawan penularan virus corona. Untuk itu, Dinkes terus melakukan pemantauan hingga saat ini.

“Makanya kita pantau terus,” ujar Kusnadi. (fin)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *