Tetap Optimis meski Dihantui Ketakutan

by -

Menjadi garda terdepan dalam penanganan Covid-19 bukanlah perkara mudah. Banyak risiko yang dihadapi, bahkan hingga kematian. Ini juga yang dirasakan Ungky Agus Setiawan (40), seorang dokter spesialis paru.

DOKTER Ungky adalah garda terdepan penanga­nan Covid-19 di Rumah Sakit Saiful Anwar (RSSA) Malang. Ia termasuk kategori Orang Dengan Ri­siko (ODR) tinggi terinfeksi virus, sebab keseha­riannya langsung berkomunikasi, bahkan bersen­tuhan dengan pasien.

Tetapi masyarakat sangat membutu­hkan perannya, apalagi dalam situasi yang mewabah di seluruh dunia. Lahir batin atau fisik dan spikis tentu harus kuat dengan segala risiko. ”Semua meny­emangati, kita siap. Karena (dokter, red) penyakit paru, kita harus siap. Ya seperti ten­tara kita di depan,” katanya. ­

Ungky yang alumni Univer­sitas Brawijaya (UB) itu sadar sebagai orang yang rentan terinfeksi. Karena itu, ikhti­arnya adalah menggunakan Alat Pelindung Diri (APD) sesuai standar dan prosedur penanganan Covid-19. Selain itu, juga meningkatkan imu­nitas diri melalui makaman bergizi serta bekerja sesuai porsi. Tubuhnya harus menda­pat cukup istirahat atau se­banding dengan kerjanya. ”Ya menggunakan APD lengkap, meningkatkan imun. Kemu­dian paling penting kita pu­nya optimis dan kerja sesuai porsi. Kalau memang keca­pekan, ya semua ada batasnya. Kita harus jaga kondisi,” ucap­nya.

Ungky juga bekerja secara tim bersama para dokter dan pe­rawat lain dengan segala risiko. Tetapi sebagai profesional pang­gilan tugas harus tetap dijalan­kan. ”Saling menyemangati ya. Rasa takut itu ada, tapi ini demi masyarakat semuanya. Kalau tidak kita tangani siapa lagi yang membantu permasalahan ini,” imbuhnya.

Kunci terpenting yang harus dipegang dalam kondisi se­karang ini adalah optimisme dan berpikir rasional. Masy­arakat harus menjauhkan diri dari berpikir tidak rasio­nal, apalagi apatis, sambil terus meningkatkan kewas­padaan sesuai yang disaran­kan. ”Jadi keresahan yang berlebihan, yang membuat berpikir tidak rasional itu yang harus disingkirkan. Kita ha­rus optimis pasti bisa. Ya (optimisme akan menbantu, red). Kewaspadaan tinggi harus kita jalankan dalam kondisi seperti ini,” ujarnya.

Di sisi lain, dokter Ungky tak kuasa menahan air ma­ta ketika ditanyakan apa yang ada di pikirannya ketika ha­rus bersentuhan langsung dengan pasien corona di RSSA Kota Malang, Jawa Ti­mur. Takut atau tidak? ”Gi­mana ya, kita sudah disum­pah,” kata dr Ungky terhen­ti, seraya meneteskan air matanya.

”Kalau dulu sudah menanga­ni SARS. Tapi, Covid ini per­jalanannya cukup cepat. Ka­rena penyakit baru. Ya, kita harus siap,” tambah Ungky sambil menarik napas dengan kalimat yang masih terbata-bata. (mer/rez/run)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *