Bantu ‘Korban’ Terdampak Corona di Bojonggede

by -

Lembaga sosial milik Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Pusat, PWI Peduli, melakukan Program Masuk Desa untuk menyalurkan bantuan kepada warga terdampak virus corona (Covid-19). Salah satu desa yang dikunjungi berada di Kecamatan Bojonggede, Kabupaten Bogor.

KETUA PWI Peduli Pusat, M Nasir, mengatakan, program ini ditempuh untuk mencari warga terdampak Covid-19 yang belum mendapat perhatian pemerintah. Sebelumnya, PWI Peduli juga memberikan ban­tuan untuk Kota Bogor pada Kamis (26/3) dengan mengi­rimkan paket bantuan keseha­tan untuk PWI Kota Bogor.Bantuan berupa paket keseha­tan ini dikirimkan Sekretaris PWI Peduli Pusat, Elly Pujiast­uti, via jasa pengiriman, sete­lah berkoordinasi dengan Ke­tua M Nasir dan Bidang Dist­ribusi Karim Paputungan. Paket awal berupa sanitizer, masker dan vitamin diterima Wakil Ketua PWI Kota Bogor Billy Adhyaksa di kantor Jalan Kesehatan, Tanahsareal, Kota Bogor. Menurutnya, PWI Pe­duli hadir ke desa dengan membawa bantuan bahan pangan, air mineral dalam ke­masan, makanan ringan, pe­ralatan mandi seperti sabun, shampo dan lain sebagainya. Semua bantuan itu dibeli dengan dana dari sumbangan donatur yang masuk ke dua rekening PWI Peduli, yakni Bank Man­diri nomor rekening: 1030009021946 (cabang Ja­karta Sabang) dan Bank BNI 867855994 (cabang Gambir).

“Saya berterima kasih kepada donatur dan PWI Peduli. Saya nggak bisa ke mana-mana, karena diisolasi di rumah,” kata seorang pembantu rumah tangga yang sering dipanggil Kus itu. Wanita berusia 45 tahun ini tadinya bekerja di sebuah rumah milik suami-istri yang dua-duanya meninggal, karena positif corona pada Maret 2020. Hingga akhirnya Kus mengisolasi diri di rumahnya.

Lalu, paket bantuan lainnya diberikan kepada pemuda yang baru lulus kuliah jurusan Elek­tro di sebuah perguruan tinggi di Jakarta. Dia ini sebenarnya anak majikan Kus. Pemuda ini mendadak menjadi yatim-piatu dalam waktu tiga hari. Ibunya meninggal karena virus corona pada 19 Maret 2020 di RS Persahabatan, Jakarta, lalu disusul ayahnya meninggal 21 Maret 2020 di RS Tarakan aki­bat penyakit yang sama.

Sementara kakaknya hingga Rabu masih dirawat di RSUD Cibinong dalam status Pasien Dalam Pengawasan (PDP). Tentu saja ia menjadi tang­gungan pemerintah, karena dalam perawatan. Sedangkan adiknya yang baru lulus kuliah tinggal di rumah sendirian. Untuk urusan makan sehari-hari dibantu warga secara ber­gantian. “Saya yang mengatur pengiriman makanan untuk dia. Terima kasih PWI Peduli sudah ikut membantu,” tutur ketua blok yang sering disapa Puji itu. Karena ada tata cara dalam masa darurat pandemi Covid-19, sambung dia, peng­iriman makanan diberikan dengan cara dicantolkan di pagar rumah penerima setelah dihubungi via WhatsApp (WA). Pengiriman bantuan yang di­salurkan PWI Peduli pun de­mikian. Sekretaris PWI Peduli Pusat, Elly Pujianti, menghu­bungi via WA terlebih dulu baru M Nasir datang ke depan rumah. Penyampaian barang bantuan hanya diantar sampai pintu gerbang tanpa masuk rumah.

Pemuda yang enggan nama­nya dikorankan ini tinggal di rumahnya seorang diri lebih dari dua minggu. Sudah dites cepat Covid-19, hasilnya ne­gatif. Tapi pada 5 April baru boleh keluar rumah. “Terima kasih bantuannya. Saya di ru­mah supaya tidak jenuh saya main internet, kadang baca buku. Tapi saya masih teringat ibu saya,” pungkasnya. (rm/els/py)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *