Tarawih #DirumahAja

by -

Ramadan merupakan bulan yang ditunggu-tunggu umat muslim. Namun di tengah pandemi virus corona atau Covid-19, bulan suci yang tinggal beberapa pekan ini tidak akan seperti tahun sebelumnya. Tagar #DirumahAja yang digaungkan pemerintah memengaruhi segala aktivitas di Bulan Ramadan. Terlebih Menteri Agama Fachrul Razi telah menerbitkan Surat Edaran terkait Panduan Ibadah Ramadan dan Idul Fitri.

RAZI menilai umat Islam diperkirakan akan menjalani ibadah puasa dalam suasana berbeda tahun ini, seiring ter­jadinya pandemi virus corona. ”Surat edaran ini dimaksudkan untuk memberikan panduan beribadah yang sejalan dengan syariat Islam, sekaligus men­cegah, mengurangi penyeba­ran dan melindungi pegawai serta masyarakat muslim di Indonesia dari risiko Covid-19,” kata Razi dalam keterangan resminya, Senin (6/4).

Surat Edaran Nomor 6 Tahun 2020 itu salah satu poinnya mengatur pelaksanaan salat Tarawih agar dilakukan ber­sama keluarga inti di rumah masing-masing. ”Salat Tarawih dilakukan secara individual atau berjamaah bersama kelu­arga inti di rumah,” ujar Razi dalam surat tersebut.

Tak hanya Tarawih, Razi juga turut menginstruksikan agar prosesi sahur dan buka puasa dilakukan individu atau kelu­arga inti di rumah masing-masing. Ia melarang adanya sahur on the road atau buka puasa bersama. ”Buka puasa bersama, baik dilaksanakan di lembaga pemerintahan, lembaga swasta, masjid mau­pun musala, ditiadakan,” je­lasnya.

Selain itu, Razi pun turut mewajibkan umat Islam men­jalankan ibadah puasa di Bu­lan Ramadan dengan baik berdasarkan ketentuan fikih ibadah. Ia juga meminta agar tadarus Alquran dilakukan di rumah masing-masing berda­sarkan perintah Rasulullah SAW untuk menyinari rumah dengan bacaan Alquran.

”Peringatan Nuzulul Quran dalam bentuk tablig dengan menghadirkan penceramah dan massa dalam jumlah be­sar, baik di lembaga pemerin­tahan, lembaga swasta, masjid maupun musala, ditiadakan,” tutur Razi.

Selain itu, Razi turut meng­instruksikan agar masyarakat tak menggelar iktikaf di Bulan Ramadan di masjid atau mu­sala. Biasanya, ibadah Iktikaf dilakukan sepuluh malam terakhir di Bulan Ramadan di masjid.

Tak hanya mengatur ibadah di Bulan Ramadan, Razi juga turut mengatur terkait kegia­tan ibadah jelang memasuki Lebaran Idul Fitri. Salah satu­nya adalah instruksi agar tak­biran keliling ditiadakan. Ia meminta masyarakat cukup menggelar takbiran di masjid atau musala menggunakan pengeras suara.

Selain itu, Razi turut meng­instruksikan agar pelaksanaan salat Idul Fitri yang biasanya dilaksanakan berjamaah di masjid atau di lapangan untuk ditiadakan. Ia pun menunggu terbitnya Fatwa MUI terkait pedoman ibadah salat Idul Fitri di tengah wabah corona. ”Silaturahmi atau halalbihalal yang lazim dilaksanakan ke­tika Hari Raya Idul Fitri bisa dilakukan melalui media so­sial dan video call/conference,” katanya.

Sebelumnya, Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) me­minta umat Islam melaksana­kan salat Idul Fitri tahun ini di rumah masing-masing demi menekan laju penularan virus corona. Salat Tarawih juga sebaiknya dilaksanakan di rumah selama Bulan Ramadan. Hal itu tertuang dalam Surat Edaran Nomor 3953/C.I.034/04/2020 dari Ketua Tanfidziyah PBNU Ro­bikin Emhas. ”Memanjatkan doa untuk para leluhur, serta berbagai amaliyah dan ibadah lain, termasuk menjalankan salat Tarawih selama Bulan Ramadan dan salat Idul Fitri selama pandemi Covid-19 di rumah masing-masing atau sesuai protokol pencegahan Covid-19 yang ditetapkan pe­merintah pusat dan daerah,” demikian kutipan dalam surat tersebut.

Kemudian, PBNU juga me­minta umat Islam, khususnya warga NU, agar tetap mem­perkuat tali silaturahmi dalam momentum Hari Raya Idul Fitri 1441 Hijriah. Meski de­mikian, umat Islam tetap ha­rus menaati kebijakan pem­batasan sosial (social distan­cing) dan menjaga jarak fisik (physical distancing).

Masih dalam surat edaran yang sama, PBNU meminta seluruh Pengurus Wilayah dan Pengurus Cabang untuk mem­bentuk Gugus Tugas NU-Pe­duli Covid-19. Aspek yang mesti diprioritaskan adalah bidang kesehatan dan sosial ekonomi. ”Kepada seluruh warga nahdliyin agar senan­tiasa menaati keputusan, ke­bijakan dan imbauan pemerin­tah pusat dan daerah dalam mencegah penyebaran Co­vid-19, termasuk mengenai mudik Lebaran,” mengutip surat edaran.

Surat Edaran PBNU tersebut ditandatangani Ketua Umum Said Aqil Siroj, Sekjen Helmy Faishal Zaini, Pejabat Rais Aam Miftachul Akhyar dan Katib Aam Yahya Cholil Staquf.

Begitu juga dengan Pimpinan Pusat Muhammadiyah resmi menerbitkan surat edaran tentang Tuntunan Ibadah da­lam Kondisi Darurat Virus Corona. Surat Edaran Nomor 02/EDR/I.0/E/2020 itu salah satunya mengatur terkait poin ibadah di Bulan Ramadan dan Idul Fitri bila virus corona be­lum mereda di Indonesia.

Salah satu poin yang tertuang dalam surat edaran itu adalah tak perlu menggelar salat Ta­rawih berjamaah dan kegiatan lainnya bila virus corona belum mereda. Muhammadiyah menganjurkan agar salat Tara­wih dilakukan di rumah masing-masing. ”Takmir tidak perlu mengadakan salat berjamaah di masjid, musala dan sejenis­nya, termasuk kegiatan Rama­dan yang lain seperti ceramah-ceramah, tadarus berjamaah, iktikaf dan kegiatan berjamaah lainnya,” demikian isi surat edaran tersebut.

Sementara itu, Majelis Ulama Indonesia (MUI) melalui Ke­tua Bidang Pendidikan dan Kaderisasi MUI, Abdullah Jaidi, meminta umat Islam melaksanakan salat Tarawih di rumah apabila wabah virus corona masih terjadi sampai Bulan Ramadan tahun ini. Bulan Ramadan berlangsung pada akhir April sampai Mei 2020. ”Sesuai arahan MUI ba­hwa kita menghindari tempat berkumpul yang membuat menularnya wabah itu sen­diri. Sesuai imbauan itu se­baiknya kita tetap Tarawih di rumah,” kata Abdullah.

Abdullah meminta masyara­kat tak perlu khawatir dan gusar bila salat Tarawih dige­lar di rumah akan mengurangi pahala ketimbang di masjid. Menurutnya, salat Tarawih di rumah tak akan mengurangi pahala. ”Ibadah wajib saja disarankan di rumah. Apalagi yang sunah. Nah, itulah per­timbangannya kenapa MUI mengarahkan berkenaan dengan salat Tarawih dan sa­lat Idul Fitri yang dua-duanya ibadah yang sunah,” ujarnya.

Senada dengan Abdullah, Ketua Dewan Pertimbangan MUI Din Syamsuddin menga­takan, MUI mengedepankan prinsip agar umat Islam men­ghindari mudarat di tengah wabah corona. Menurutnya, dalam kondisi saat ini hanya tempat ibadah saja yang ber­pindah dari masjid ke rumah. Meski begitu, ia menyatakan semua tempat di bumi ini ada­lah masjid yang bisa digunakan untuk beribadah. ”Keadaan seperti sekarang, kita mengha­dirkan masjid dalam diri. Kita pindahkan masjid ke rumah. Lebih bagus ada di rumah dengan rasa masjid. Jadi ini semata dalam keadaan darurat,” ungkap Din. (cn/mam/run)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *