Awas! Penularan Covid-19 Gelombang Dua

by -

METROPOLITAN – Pasca-arus balik Lebaran, penyebaran virus corona atau Covid-19 gelombang kedua kini menjadi ancaman yang harus diwas­padai. Gelombang kedua penyebaran Covid-19 di Jakarta diprediksi akan terjadi seiring arus balik Lebaran warga ke wilayah Jabodetabek.

Ahli epidemiologi Universitas Indonesia Pan­du Riono mengatakan, gelombang kedua ini tak akan bisa dihindari jika pemerintah tak segera mengintervensi warga yang balik dari kampung halaman. ”Sekarang gelombang pertama pun belum selesai. Intinya kalau ada pergerakan masyarakat seperti mudik dan arus balik itu selalu potensi untuk pening­katan kasus,” ujar Pandu.

Pandu melanjutkan, gelom­bang kedua terjadi ketika kasus meningkat, kemudian sempat turun dan naik lagi di fase awal penyebaran corona. Sementara saat ini belum terjadi grafik penurunan kasus. Namun gelombang dua, je­lasnya, juga bisa terjadi ke­tika gelombang pertama be­lum turun dan justru men­ciptakan puncak kasus baru.

”Kalau masih tinggi terjadi peningkatan akan memben­tuk dua puncak, tiga puncak, belum sampai benar-benar turun itu akan membentuk puncak baru atau gelombang dua itu,” katanya.

Kondisi ini diyakininya akan semakin parah dengan ren­cana penerapan tatanan hidup baru atau New Normal dari pemerintah saat aktivitas so­sial ekonomi kembali dibuka.

Untuk itu, ia mendorong pemerintah provinsi Jakarta berinisiatif menyiapkan laya­nan tes bagi warga yang kem­bali ke Ibu Kota. Sejumlah syarat tes uji Covid-19 bagi warga yang akan kembali ke Jakarta menggunakan rapid test maupun Polymerase Chain Reaction (PCR) dinilainya tak akan efektif.

Pemerintah diketahui me­wajibkan warga yang beper­gian dengan pesawat, kereta api, perjalanan darat, maupun laut, menunjukkan surat be­bas Covid-19 dari hasil rapid test maupun PCR.

Namun, menurut Pandu, surat bebas Covid-19 itu justru bisa menjadi celah untuk mengelabui petugas. ”Itu kan bisa saja dipalsukan. Jadi lebih baik Pemerintah DKI siapkan tempat tes supaya lebih dini kita temukan yang butuh pe­rawatan,” ucap Pandu.

Sementara itu, Ketua Umum Indonesian Environmental Scientsts Association (IESA) Tri Edhi Budhi Soesilo men­gungkapkan prediksi gelom­bang kedua corona pada awal Agustus mendatang.

Prediksi ini dilakukan ber­dasarkan simulasi perhitung­an arus mudik sejak April sampai akhir Juni 2020 dan arus balik dari akhir Juni sam­pai akhir September 2020 dengan tingkat penularan atau R0=2.

R0 merujuk pada angka re­produksi atau tingkat penu­laran virus. Jika angka R di atas satu, jumlah kasus ku­mulatif meningkat. Semen­tara jika di bawah 1, maka kasus akan berkurang atau hampir tidak ada.

”Gelombang kedua dengan R0=2 meningkat cepat di awal Agustus 2020 dan mencapai puncak pada akhir September 2020,” kata Budhi dikutip dari paparan soal ’Model Pan­demi Covid-19 di DKI Jakar­ta saat Mudik, Lebaran dan Arus Balik’.

Sementara jika mengguna­kan perhitungan R0=5, maka gelombang kedua kasus po­sitif Covid-19 di Jakarta akan lebih cepat mencapai puncak di awal September 2020.

Hal itu disebabkan angka kontak meningkat 2,5 kali jika dibandingkan R0=2 se­hingga orang yang terinfeksi lebih banyak. ”Hasil simu­lasi memperlihatkan pening­katan kasus positif dengan cepat terjadi awal Agustus 2020,” jelasnya.

Sedangkan jika mengguna­kan perhitungan R0=8, gelom­bang kedua akan mencapai puncak pada Agustus 2020 dengan jumlah kasus men­capai kurang lebih 70 ribu.

Menurut Budhi, jumlah ka­sus positif pada gelombang kedua memang sangat ber­gantung pada berapa R0 yang terjadi di masyarakat akibat pergerakan masyarakat yang kembali ke Jakarta. ”Semakin besar angka kontak (R0) akan semakin cepat jumlah kasus positif Covid-19 bertambah dan semakin cepat mencapai puncak,” kata Budhi.

Sementara arus balik dike­tahui sangat berisiko meny­ebarkan penularan. Kondisi ini diperparah dengan kebi­jakan pemerintah yang tak konsisten saat mengeluarkan larangan mudik.

Tak lama setelah melarang mudik, pemerintah justru memberi kelonggaran pada sejumlah orang yang tetap diizinkan untuk bepergian. ”Dispensasi dari pemerintah untuk bepergian itu diman­faatkan masyarakat dengan ’akal-akalan,” ujarnya.

Padahal, lanjutnya, orang yang sudah tertular tidak akan langsung menunjukkan ge­jala krena ada masa inku­basi 14-20 hari. ”Artinya orang yang tertular tanggal 1 mis­alnya, akan sakit pada 14-20 hari kemudian, apalagi kalau tidak segera periksa, akan menambah waktu seseorang dinyatakan positif,” tutur Budhi.

Kasus positif Covid-19 di Indonesia per 28 Mei 2020 mencapai 24.538. Jakarta di­ketahui masih tertinggi se­cara nasional. Jumlah kasus­nya mencapai 7.001 kasus. Dari jumlah tersebut, 1.702 sembuh dan 509 orang me­ninggal dunia. (cn/mam/run)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *