Ayah, Aku Berhutang Padamu

by -

Sosok yang tak pernah kenal pamrih. Pemikul beban berat yang tak pernah merintih. Dialah seorang Ayah. Tak pernah peduli siang dan malam mengumpulkan pundi-pundi rupiah demi kelangsungan hidup keluarganya.

Membenarkan handphone milik orang dengan teliti. Konter handphone (HP) Surya Cell telah menjadi saksinya selama 10 tahun. Terkadang Ia melamun dan berpikir; “Cukupkah rupiah-rupiah ini aku berikan kepada mereka dirumah?”, dalam hati ia membatin.

Tak jarang, dia harus menahan nafsunya untuk memakan makanan yang terasa enak di lidah, demi istri tercinta dan kedua anaknya. Malangnya, Ia lebih memilih tidak makan dan pulang untuk menghemat biaya pengeluaran. Kemudian makan bersama lauk ikan, tahu, tempe dengan orang istimewa di rumah kontrakannya.

Dulu, waktu dia masih bujangan hidupnya terbilang makmur. Dia dulu bekerja sebagai manager gudang di sebuah brand ternama dan bergaji lumayan. Namun, sifat royalnya di masa muda itu tak bisa dibendung. Dia tak segan mentraktir kawan-kawannya berapapun jumlahnya. Dia tak pernah terpikir untuk menabung. Alhasil, dia tak pernah sanggup membeli rumah di tanah Jakarta.

Kota Jakarta memang terkenal dengan ramai kotanya. Akan tetapi, harga tanah di kota ini sangatlah mahal dan dia tidak bisa menjangkaunya. Tapi, dia selalu berusaha dan membawa kegembiraan dalam keluarganya. Meskipun, kegembiraan itu tidak berupa materi. Canda tawa, dan peduli kepada anak-anaknya selalu dia pelihara. Karena baginya keluarga adalah harta yang paling berharga.

Sekarang anak sulungnya masih berkuliah di Politeknik Negeri Jakarta, dengan beasiswa gratis. Pria kelahiran 1974 ini mengatakan, bahwa tanggung jawabnya sebagai seorang Ayah belumlah berakhir. Dia masih harus membiayai anak sulungnya walaupun sudah menerima beasiswa, ia tidak pernah lupa akan tanggung jawabnya.

Sosok Ayah itu adalah Pak Deddy, seorang tukang service HP. Berprofesi sebagai tukang service HP tidaklah mudah. Bagi yang melihat sebelah mata, menurut ayah saya, berprofesi sebagai tukang service HP membutuhkan pengetahuan dan ilmu khusus. Tanggung jawab saat membenarkan HP diperhatikan karena hasil yang didapat sangat bermakna bagi pemilik HP-nya.

Saya salut dengan ayah saya walaupun profesi ini selalu dipandang sebelah mata oleh orang, tapi setidaaknya pekerjaan ini adalah sebuah pekerjaan yang mulia, pekerjaan yang halal. Karena dari pekerjaan ini ayah saya dapat membiayai hidup istri dan kedua anaknya.

Itulah hasil perjuangan sosok ayah, pria terhebatku. Sosok yang sangat sederhana penuh semangat, tak kenal lelah, tidak pernah mengeluh dan selalu bersyukur dengan keadaan yang ada. Namun siapa sangka, sosok sederhana ini punya pikiran dan pandangan yang berbeda dengan orang-orang sekitarnya. Menurut beliau pendidikan adalah hal yang paling utama dalam hidupnya.

Karena itu, walaupun profesi ayah saya sebagai tukang service HP, tapi tidak membuat patah semangat untuk membiayai sekolah anaknya ke jenjang yang lebih tinggi. Karena ayah saya ingin kelak anak-anaknya bisa mendapatkan pekerjaan yang lebih baik darinya. Ayah saya juga selalu mengajarkan pada anaknya agar tidak mudah putus asa dan selalu bersikap jujur pada orang sekitar.

Dari sosok tukang service HP, saya bisa menempuh pendidikan hingga jenjang perguruan tinggi. Saya bangga terlahir dikeluarga yang penuh dengan kesederhanaan. Saya bangga menjadi anak seorang tukang service HP.

Sehat selalu ayah, Doakan anak-anakmu semoga tidak mengecewakanmu ayah.

Penulis adalah Iffa Naila Safira, Mahasiswi Politeknik Negeri Jakarta

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *