Bisa Jadi Pusat Penyebaran Covid-19, Pemkot Siapkan Aturan Pengunjung dan Pedagang Pasar

by -

METROPOLITAN – Direksi Perusahaan Umum Daerah Pasar Pakuan Jaya (Perumda PPJ) Kota Bogor, bakal terbitkan sejumlah regulasi yang berlaku pada pedagang dan pengunjung pasar. Hal tersebut dikatakan langsung Direktur Utama Perumda PPJ Kota Bogor Muzakir.

 

Muzakir mengatakan, penerbitan regulasi tersebut dinilai perlu dilakukan, setelah adanya satu kasus positif covid-19, yang berasal dari kluster pasar. “Ini sebagai antisipasi kedepan kami, agar kejadian serupa tidak terulang kembali,” katanya.

 

Ia bercerita saat ini, wacana regulasi tersebut sedang dimatangkan di internal Pemkot Bogor. “Regulasi itu sedang digojlog di Bagian Hukum dan Ham Pemkot Bogor. Semoga saja regulasi ini bisa selesai segara. Kalau selesai hari ini, besok akan kami langsung terapkan,” ujarnya.

 

Muzakir bercerita, kedepan pemilik toko tidak boleh melayani pengunjung yang tidak menggunakan masker. Jika pedagang masih melayani, Perumda PPJ akan memberikan sanksi berupa SP 1,2,3. Jika SP 3  pedagang masih melanggar juga, Perumda PPJ tak segan untuk menutup rukonya selama 7 sampai 14 hari kedepan

 

“Kalau untuk pengunjung jika mereka tidak menggunakan masker akan kita larang masuk, dan kita amankan untuk kemudian kami serah kepada Satpol-PP. Kemudian kami serahkan kepada Satpol-PP mengambil tindakan sebagai pihak berwenang,” ucapnya.

 

Muzakkir mengatakan, hari ini pihaknya mulai menutup total lantai 1 Pasar Bogor, pasti timbul pertanyaan kenapa tidak ditutup semua. Karena lantai satu itu komoditinya adalah pakaian dan peralatan dapur, berbeda dengan lantai dasar yang menjual kebutuhan pokok juga lantai lainnya yang menjual sembako.

 

“Karena komoditinya berbeda saya putuskan untuk menutup totoal lantai 1 saja, penutupan dilakukan petugas unit pasar Bogor dan langsung dilakukan penyemprotan secara intensif,” ungkap Muzakkir.

 

Aasan kedua kenapa tidak satu pasar saja langsung ditutup, karena kebutuhan Sembako Kota Bogor terpenuhi dari para penjual di Pasar Bogor, apabila langsung ditutup dikawatirkan akan terjadi penumpukan dipasar lain sehingga social distancing dan Physical Distancing tidak terpenuhi.

 

“Kalau distop dadakan akan kesulitan stok sembako di Kota Bogor. Itu harus dijaga oleh kami juga, tidak bisa ada positif langsung ditutup total satu pasar. Harus dilihat efeknya bagaimana,” tambahnya.

 

Sementara itu, Walikota Bogor Bima Arya Sugiarto mengatakan, sejatinya kasus positif covid-19 di pasar memang sudah lama diprediksi bakal terjadi. Hal ini lantaran dari sejumlah kasus positif yang terjadi, hampir semua mereka pernah beraktivitas di tempat kerumunan.

 

“Ini sebenarnya sudah kita prediksi, dari sejumlah kasus positif yang ada pasti sebelumnya pernah bepergian ke ketempat publik seperti pasar

Oleh karna itu kita fokus kepada pasar jika pasar itu menjadi kluster utama, penyebaran covid-19 di Kota Bogor,” kata Bima.

 

Meski Bima meyakini jika pasar menjadi salah satu potensi penyebaran besar covid-19 di Kota Bogor, namun dirinya mengaku kesulitan untuk melakukan penertiban di pasar. “Ini bukan permasalahan mudah, bukan hanya soal masyarakat mengais rizkinya disana, tapi saat ini kita akan masuki momen Lebaran,” cetusnya.

 

Meski begitu, tidak menutup kemungkinan bakal terjadi penambahan kasus covid-19, jika pasar tetap dibiarkan beroperasi. “Tapi kita tidak punya pilihan lain karna sudah ada kasus positif disana. Bukan tidak mungkin akan terus bertambah, karna pedagang yang positif itu setiap hari berinteraksi dengan orang lain, baik pedagang sekitar maupun pengunjung pasar,” tegasnya.

 

Bima juga menghimbau kepada masyarakat agar senantiasa mengikuti arahan dan kebijakan pemerintah, dengan mengikuti segala kebijakan dan protokol kesehatan. “Maka dari itu kami minta sementara pasar ditutup, khususnya sektor yang tidak dikecualikan. Kalau sembako masih bisa beroperasi karna sesuai dengan regulasi yang berlaku,” tutupnya. (ogi/b/suf)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *