Ikuti Anjuran Pemerintah, Sembuh dari Corona

by -

METROPOLITAN – Sembuh dari virus corona, tentu jadi berkah tersendiri bagi Anton. Warga Sukaresmi, Kecamatan Tanahsareal ini sempat tidak percaya bisa dinyatakan sem­buh dari virus mematikan itu.

Sejak divonis positif Covid-19, Anton yang biasa jadi sopir ojek online langsung dibawa petugas medis. Keseharian­nya yang biasa keliling mengantar penumpang ter­paksa terhenti. Ia hanya boleh diam di rumah, melakukan isolasi mandiri bersama anak dan istri.

”Hasil ini saya dapat setelah tes darah di RS Mulia pukul 02:00 WIB pada 2 April 2020. Saya kemudian dirujuk ke RS Islam, tapi saya ditolak,” keluh­nya. Sampai akhirnya ada tetangga yang mengetahui kondisinya lalu melaporkan­nya ke RSUD Kota Bogor. ”Saya kemudian dijemput petugas agar ikut rapid test dan men­jalani pemeriksaan lanjutan di RSUD,” terangnya.

Sepulang dari rumah sakit, Anton bersama anggota kelu­arganya diminta melakukan isolasi mendiri. Selama masa karantina, ia harus mengon­sumsi obat selama tiga hari dan mengonsumsi vitamin,” terangnya.

Ada pun gejala yang ia ra­sakan yakni badan panas, mual, pusing, batuk dan tidak nafsu makan. Proses karan­tina mandiri itu cukup berat, antara takut dan melawan takut. Terlebih dengan mun­culnya berita-berita di luar tentang Covid-19. ”Sedangkan dari sisi sosial, di tengah ma­syarakat saya merasa bersalah, gara-gara saya sekampung jadi ketakutan,” imbuhnya.

Selama karantina, otomatis ia dan sang istri tidak bisa bekerja dan tidak memiliki pemasukan. Meski begitu, ia bersyukur karena ada donatur dari warga dan rekan-rekan GP Ansor Kabupaten Bogor yang menyokong kebutuhan sehari-hari. ”Termasuk ban­tuan dari pemerintah setem­pat dan Pemkot Bogor,” ujar­nya.

Saat karantina pun, warga sekitar merasa ketakutan. Ia sendiri merasa dikucilkan. Sebab, selama 14 hari cuma tim yang antar kebutuhan sehari-hari tanpa bertegur sapa. ”Intinya, kalau ada pa­sien PDP Covid-19 di ling­kungan masyarakat pasti mereka menjauhi karena takut tertular,” katanya.

”Berat memang,” kenangnya. Satu sisi berjuang untuk ber­tahan dan satu sisi lainnya berjuang melawan ketakutan dikucilkan masyarakat. ”Ka­lau terjangkit virus ini tetaplah tenang. Yakini bahwa kita mempunyai antibodi yang kuat. Yakin kita bisa sembuh. Ikuti saja anjuran dokter,” be­bernya.

Lalu bagi masyarakat yang terpapar virus corona, jangan pernah menolak diperiksa atau menjalani isolasi, baik mandiri atau di RS. ”Dengan kita mengikuti prosedur yang ditetapkan, ini akan mem­bantu lingkungan agar tidak terpapar virus ini. Jangan bandel, karena memang sangat berisiko dan sudah banyak korban jiwa,” terang­nya.

Menurutnya, virus ini sang­at cepat menular. Tetap jaga jarak, pakai masker, cuci tangan dan mandi setelah keluar rumah. ”Ini harus benar-benar dijalankan supaya keluarga terhindar dari virus ini,” bebernya.

Sementara untuk PSBB, sebenarnya lantaran pemerin­tah sayang kepada rakyatnya. Tapi, kalau masyarakat menga­baikannya, maka wabah ini tidak akan hilang. ”Kasihan tenaga medis yang sudah merasa kewalahan dengan tidak disiplinnya masyarakat,” tuturnya.

 

Lalu, Lurah Sukaresmi, Susanto, menambahkan, selain Anton, masih ada tu­juh warga lainnya yang ter­papar dan kemudian sembuh. ”Alhamdulillah sudah ne­gatif. Agar tidak meluas, PSBB melalui gugus tugas terus diperketat di wilayah tersebut,” jelasnya.

Sedangkan untuk pasien yang menjalani perawatan man­diri, pihaknya terus menyokong bantuan logistik dan meny­ediakan dapur darurat untuk memenuhi kebutuhan pangan hingga pasien yang terpapar bisa sembuh total dan kem­bali beraktivitas. (yos/c/feb/py)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *