Pelanggar makin Barbar, 2.882 Orang Cueki PSBB

by -

Sejak diberlakukannya Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) di Kota Bogor, sejak Rabu (15/4), 1.972 pelanggar masuk daftar pelanggaran PSBB tahap pertama maupun tahap dua.

WAKIL Wali Kota Bogor Dedie A Rachim mengatakan, selama periode PSBB tahap pertama dan dua, tidak menggunakan mas­ker dan sarung tangan merupakan dua pe­langgaran tertinggi yang didapatkan petugas di lapangan, dari enam jenis pelanggaran yang ada.

Tak hanya itu, di posisi tiga ada pelanggaran kapasitas bagi kendaraan roda empat. Semen­tara di posisi empat ada pelanggaran jaga jarak. ”Paling sedikit itu pelanggaran suhu tubuh di atas normal dan pelanggaran perbedaan Kartu Tanda Penduduk (KTP) pada roda dua,” kata Dedie kepada Metropolitan.

Jika dirinci, jumlah keseluruhan pelanggar penggunaan mas­ker selama masa PSBB tahap satu dan dua mencapai 768 pelanggar, pelanggaran ka­pasitas roda empat 345, pe­langgaran KTP penumpang roda dua 214, suhu tubuh di atas normal 26, pelanggaran jaga jarak 236 dan tidak meng­gunakan sarung tangan 383 pelanggar.

Dedie menyebut sejak di­berlakukannya PSBB tahap dua di Kota Hujan ini, seba­nyak 309 surat peringatan sudah dikeluarkan pihaknya untuk menindak para pelang­gar.

Tak hanya itu, selama masa PSBB tahap dua ini juga pi­haknya mencatat ada 215 pelanggaran yang dilakukan para pengusaha. Khususnya mereka yang melanggar jam operasional usaha yang sudah ditentukan Pemerintah Kota (Pemkot) Bogor.

”Sebanyak 308 surat pe­ringatan, 215 pelanggaran jam operasional,” kata Kepala Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP) Kota Bogor Agus­tian Syah.

Satuan penegak perda itu juga mencatat ada 360 pelang­garan yang dilakukan masy­arakat. Khususnya mereka yang tidak menggunakan masker. Bahkan, setidaknya ada enam pengusaha nakal juga menjadi sasaran penye­gelan Agus bersama jajaran­nya.

”Kalau ditotal, selama masa PSBB ini kami mengeluarkan 309 surat peringatan, 215 pe­langgaran operasional, enam penyegelan, 20 kasus pem­bubaran paksa kerumunan, hingga 360 pelanggaran yang dilakukan masyarakat karena tidak memakai masker,” pa­parnya.

Ia juga mengaku tengah fo­kus melakukan pengawasan di sejumlah tempat keramai­an yang kerap dikunjungi masyarakat jelang berbuka puasa (ngabuburit, red), se­perti taman kota, ruang ter­buka hijau, pusat jajanan atau kuliner hingga tempat kera­maian lainnya.

Sebanyak 80 personel pun disiagakan pihaknya setiap hari untuk melakukan peng­awasan. Selama masa PSBB di Kota Bogor, Agus mengaku telah menerapkan tiga meka­nisme operasi.

”Pagi kita penindakan pe­langgaran PSBB kepada ma­syarakat, seperti tidak pakai masker. Siang patroli dan pemberian surat peringatan kepada unit usaha yang ban­del atau masyarakat yang melanggar. Malam pengawa­san jam operasional unit usaha,” ujarnya.

Sementara itu, sejak PSBB diterapkan di Kabupaten Bo­gor pada pertengahan April lalu, rupanya tren pelanggar kebijakan yang sedianya demi menekan angka kasus Covid-19 itu mencapai ri­buan orang. Bahkan hampir tembus 10 ribu pelanggar.

Kepala Satuan Lalu Lintas (Kasatlantas) Polres Bogor AKP Fadli Amri mengatakan, pelanggar selama PSBB di­berlakukan di Bumi Tegar Beriman rupanya menembus angka hampir 9.000 pelanggar.

Ia menyebut pelanggaran paling banyak lantaran pengendara tidak mengguna­kan masker, sesuai aturan dalam PSBB. Untuk itu, pi­haknya memberlakukan sanksi berupa peneguran disertai pendataan agar tidak mengulanginya.

”Sampai akhir pekan kema­rin, untuk pelanggaran seluruh Kabupaten Bogor hampir menyentuh angka 9.000. Nah, yang paling banyak itu pelang­gar tidak menggunakan mas­ker. Lalu kita hanya membe­rikan blanko peneguran saja,” katanya kepada Metropolitan.

Ia mengaku pelanggar PSBB tersebut hanya diberi teguran tertulis dan pendataan saja. Tidak disertai hukuman lain, seperti push-up atau hukuman lainnya. ”Nggak ada, penegu­ran saja. Nggak ada push-up atau lainnya,” jelas Fadli.

Dari jumlah tersebut, lanjut­nya, para pelanggar cenderung tersebar di berbagai titik check point, yang berjumlah 17 check point se-Kabupaten Bogor. Beberapa titik utama, misal­nya jalur selatan Gadog, Ci­sarua-Puncak Pass, perbata­san Bogor-Sukabumi (Cigom­bong-Caringin) hingga di Cibinong Raya, seperti di Flyover Cibinong.

”Hampir merata ya (jumlah pelanggar, red). Namun ang­gota di lapangan mengingat­kan terus di total 17 titik check point. Yang utama ya perba­tasan ya, seperti di Gadog, Cisarua-Puncak Pass, Cigom­bong-Caringin dan Flyover Cibinong,” beber Fadli.

Sementara itu, Dinas Per­hubungan (Dishub) Kabupa­ten Bogor menyebut jumlah pelanggar PSBB di Bumi Tegar Beriman cenderung menurun. Ia pun berharap penurunan itu tak hanya sementara dan kesadaran masyarakat terus meningkat.

Kepala Bidang Angkutan pada Dishub Kabupaten Bo­gor, Dudi Rukmayadi, men­jelaskan penurunan angka pelanggar PSBB itu berdasar­kan laporan petugas per 6 hingga 16 Mei.

Rinciannya, pada 6-12 Mei atau minggu terakhir PSBB tahap kedua, jumlah pelang­gar tercatat ada 2.076 orang. Dari jumlah itu, mayoritas pelanggar tidak menggunakan masker sebanyak 1.594 orang.

”Sisanya pelanggaran phy­sical distancing sebanyak 482. Kami mendata di dua jenis pelanggaran itu saja, sesuai tugas Dishub. Yang tidak mengenakan masker dan tidak menjaga jarak di dalam ken­daraan atau angkutan umum,” kata Dudi.

Jika dirata-rata, selama se­minggu itu ada 296 pelanggar PSBB setiap harinya. Untuk PSBB tahap ketiga, Dudi me­nyebut terjadi tren penurunan jumlah pelanggar. Data per 13-16 Mei, baru ada 899 pe­langgar. Rinciannya 632 pe­langgar tidak mengenakan masker dan 267 lainnya tidak mengindahkan physical dis­tancing. ”Jika dirata-rata, per hari jumlah pelanggarnya sebanyak 224. Artinya ada peningkatan kesadaran ma­syarakat. Terbukti dengan penurunan jumlah pelang­garan. Data ini laporan dari 35 lokasi check point di Ka­bupaten Bogor,” pungkasnya. (ogi/ryn/c/fin/mam/run)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *