Puluhan Rumah Makan Disegel Paksa

by -

Momentum Lebaran yang kerap menjadi ajang silaturahmi dan rekreasi masih dilakukan segelintir orang meski di tengah penerapan kebijakan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB). Seperti di kawasan Puncak, sejumlah titik lokasi wisata diserbu para pelancong.

CORPORATE Communica­tion & Community Develop­ment Group Head PT Jasa Marga, Dwimawan Heru, me­nyebut pada hari pertama Lebaran tak kurang dari 37 ribu kendaraan meninggalkan Jakarta melalui jalan tol.

Diketahui 16.903 kendaraan di antaranya keluar pintu Tol Gadog/Ciawi untuk menuju Puncak atau Sukabumi, meski ada penurunan sekitar 53 per­sen dibandingkan 2019. Se­dangkan pada hari kedua Lebaran, ada 20 ribuan ken­daraan mulai menuju Jakarta dari pintu Tol Gadog/Ciawi hingga terjadi peningkatan jumlah kendaraan. ”Bisa ter­bilang ramai, padahal saat ini sedang dilaksanakan PSBB,” katanya.

Hal itu pun sudah disampai­kan Kasatlantas Polres Bogor AKP Fadli Amri kepada Tim Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19 di Ka­bupaten Bogor sehingga wi­layah Puncak harus diwaspa­dai. ”Kami harap wilayah Puncak yang sudah mulai menjadi hijau tidak menjadi merah lagi karena ada perge­rakan dari luar Kabupaten Bogor,” harapnya.

Fadli juga mengaku bakal melaksanakan pengawasan lebih lanjut di area Puncak. Sebab, kedisiplinan masyara­kat masih rendah lantaran kerap mengabaikan bahaya pandemi corona ini. ”Kita te­rus berusaha menertibkan dan mendisiplinkan masyarakat untuk menyadari Covid-19 ini harus kita hilangkan bersama-sama,” tegasnya.

Meski demikian, Fadli menga­ku saat ini jalur Puncak mulai lengang walau masih terjadi kepadatan di beberapa titik karena ruas jalan yang sempit. Namun, secara keseluruhan kepadatan jauh berkurang dibandingkan satu hari sebe­lumnya.

Berkurangnya kepadatan lalu lintas di Puncak disebab­kan adanya penyekatan yang dilakukan jajaran Satuan Lalu Lintas Polres Bogor di Simpang Gadog dan Rindu Alam yang menjadi perbatasan Kabupa­ten Bogor dengan Kabupaten Cianjur. ”Orang-orang dari Jakarta yang tidak berkepen­tingan kami cegat di Gadog,” ujarnya.

Tak sampai di situ, untuk menekan angka kunjungan di wilayah Puncak, jajaran Satpol PP Kabupaten Bogor pun terus melakukan penyegelan sejum­lah restoran dan rumah makan yang melayani pengunjung makan di tempat atau dine-in.

Karena itu, tim gabungan Gugus Tugas Divisi Penanga­nan dan Pengamanan Kabu­paten Bogor melakukan penyi­siran terhadap restoran dan rumah makan di sepanjang jalur Puncak, Selasa (26/5). Hasilnya, puluhan restoran dan rumah makan pun harus rela disegel Satpol PP lantaran tidak mengindahkan aturan PSBB, dengan membolehkan pengunjung makan di tempat.

Kepala Bidang Ketertiban Umum pada Satpol PP Kabu­paten Bogor Ruslan menga­takan, penertiban itu dilakukan lantaran banyaknya laporan masyarakat terkait masih be­roperasinya sejumlah rumah makan di jalur Puncak. Pada­hal dalam aturan PSBB, resto­ran dan rumah makan hanya boleh membungkus pesanan pelanggannya untuk dibawa pulang. Hal itu sesuai Peratu­ran Bupati (Perbup) Nomor 32 Tahun 2020.

”Masih banyak yang buka melayani dine-in atau makan di tempat. Ini jelas nggak bo­leh. Makanya kami tindak dengan melakukan pema­sangan garis Satpol PP Line, lalu menutup semua kegiatan di rumah makan itu,” kata Rus­lan.

Penyisiran itu dilakukan di beberapa tempat yang sudah dibidik lantaran dilaporkan melakukan pelanggaran PSBB. Ia pun tak menampik penyi­siran secara situasional juga dilakukan, dengan memantau rumah makan yang terlihat menyediakan meja dan kursi untuk pengunjung. Namun ia enggan menyebut secara gam­blang jumlah restoran yang disegel karena melanggar PSBB.

”Puluhan lah yang kita pasang. Kan kita lihat ada kursi atau nggak. Sementara kita lakukan penutupan sementara karena langgar aturan. Selain itu, ada sanksi lain berupa denda atau sanksi administrasi, denda sejumlah uang mulai dari Rp5-10 juta untuk perusahaan yang melanggar,” tegasnya.

Namun jika masih ada resto­ran yang beroperasi dengan menyediakan dine-in, ia mengancam akan menindak dengan upaya penyegelan hingga pencabutan izin usaha. Sejauh ini, ia menilai masy­arakat hingga pengusaha be­lum menyadari pentingnya aturan PSBB.

”Sejauh ini masih penutupan sementara. Nah, kalau masih bandel juga, baru tindakan selanjutnya. Bisa kita segel sampai cabut izin. Yang jelas kita harus saling sadar soal aturan ini supaya pandemi cepat selesai,” pungkas Ruslan. (dil/ryn/c/mam/run)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *