70 Ribu Paket Bansos Jabar Gagal Diserahkan

by -

METROPOLITAN – Seba­nyak 70 ribu paket bantuan sosial (bansos) dari Provinsi Jawa Barat (Jabar) yang gagal diserahkan akibat ketidaka­kuratan data penerimanya, akan disalurkan kepada se­jumlah yayasan sosial, panti atau warga terdampak Covid-19 yang belum mendapat ban­tuan dari mana pun.

Ketua Divisi Logistik Gugus Tugas Percepatan Penanggu­langan Covid-19 Jabar Arifin Soedjayana mengatakan, pu­luhan ribu paket pangan dan uang tunai senilai total Rp500 ribu tersebut gagal serah atau diretur karena data dan alamat penerimanya tidak tepat. Ba­nyak di antaranya data pene­rima yang sudah pindah alamat atau meninggal dunia sehing­ga barang tersebut tidak bisa diterima siapa pun.

”Dari total yang kita salurkan sebanyak 1,7 juta paket, yang returnya itu sekitar 70 ribuan. Ini yang akan kita salurkan ke yayasan sosial, panti asuhan, sampai ke warga yang belum mendapatkan bantuan dari mana-mana. Semua data pe­nerimanya ditentukan bu­pati atau wali kota,” kata Arifin yang juga Kepala Dinas Per­industrian dan Perdagangan Provinsi Jabar di kantornya, Senin (29/6).

Arifin menjelaskan sebagian besar paket sembako yang sempat gagal serah itu masih dalam keadaan baik karena memiliki waktu kedaluwarsa beberapa bulan lagi atau sam­pai tahun depan. Namun, ada perlakuan khusus kepada jenis bantuan berupa telur yang hanya memiliki waktu layak konsumsi sampai dua minggu.

Arifin mencontohkan, di Kota Depok terdapat 4.256 paket yang diretur. Kemudian 300 paket telur di antaranya yang berpotensi busuk ter­paksa dimusnahkan, sedang­kan sisanya hampir 4.000 paket telur sudah disalurkan ke yayasan sosial atau panti sebelum masa layak konsums­inya habis. Paket sembako jenis lainnya pun segera dibe­rikan kepada yayasan sosial dan lainnya.

”Paket yang gagal serah atau yang retur itu adanya di hub PT Pos. Nah dari awal kita su­dah minta ke PT Pos di Jabar, kalau barang yang cepat rusak seperti telur itu bisa segera didistribusikan kepada panti asuhan, yayasan sosial, panti jompo dan lainnya, sebelum rusak. Hampir semua Kantor Pos sebenarnya sudah dilaku­kan, tapi kemudian yang De­pok ini mungkin terlambat mengeksekusi sebagian di antaranya,” tuturnya.

Saat telur sudah berpotensi rusak, lanjutnya, lebih baik dimusnahkan supaya tidak menimbulkan penyakit. Namun, ada kebijakan unik seperti yang dilakukan di Kota Tasikmalaya. Dari sekitar 10 ton telur yang gagal serah di Kota Tasikmalaya karena alasan yang sama, telur yang sudah tidak bisa disalurkan lagi ke yayasan sosial diberikan kepada Balai Benih Ikan se­tempat.

”Telur rusaknya di Kota Ta­sikmalaya itu direbus, diolah, kemudian dijadikan pakan ikan. Kami sudah minta ke PT Pos se-Jabar, kalau ada telur yang sudah berpotensi rusak diberikan ke Balai Benih Ikan setempat untuk diolah juga. Kemudian paket lainnya yang tidak mudah rusak dan masih sangat layak konsum­si diberikan kepada yayasan sosial setempat segera, se­suai data dari kabupaten/kota,” bebernya.

Pemusnahan telur, tambah­nya, memang terjadi di sejum­lah daerah lainnya di Jabar, walaupun jumlahnya terbilang sangat kecil jika dibandingkan jumlah yang berhasil disera­hkan. Kasus kegagalan penyalu­ran yang akhirnya berujung pengembalian bansos ini selalu disebabkan hal sama, yakni data penerima yang tidak valid dan tidak up to date.

Ia mengaku kejadian di penyaluran bantuan tahap pertama itu akan dievaluasi dan menjadi bahan kajian supaya penyaluran bantuan di tahapan kedua sampai ke­empat berikutnya lebih cepat dan tepat sasaran. Untuk para penerima bantuan yang tidak masuk Data Terpadu Kesejah­teraan Sosial (DTKS) di Jabar yang mencapai 1,39 juta orang, angka retur atau gagal serah bantuannya hanya sekitar 2,3 persen atau 33 ribuan akibat kendala yang sama.

Arifin mengatakan, minggu ini Gugus Tugas Percepatan Penanggulangan Covid-19 Jabar akan mengevaluasi usu­lan untuk mengganti telur menjadi bahan makanan sum­ber protein lainnya yang lebih mudah didistribusikan dan memiliki masa layak konsum­si lebih lama.

”Karena telur ini di sisi peng­irimannya repot ya. Kemu­dian dari sisi kekuatan juga kependekan dan ada berbagai dinamika mengenai telur ini di lapangan. Gugus Tugas juga merekomendasikan un­tuk telur ini di tahap kedua tidak ada. Rencana diganti dengan yang lain, misalnya kornet ataupun juga susu. Tapi ini masih dibahas karena sambil nunggu data yang kita punya untuk evaluasi,” pung­kasnya. (cn/feb/run)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *