Asyik.. Mahasiswa Boleh Cicil Bayaran Kuliah

by -

METROPOLITAN – Pandemi Covid-19 tak hanya berdampak pada ekonomi dan sosial masyarakat, tapi juga berimbas pada dunia pendidikan. Salah satunya kisruh biaya Uang Kuliah Tunggal (UKT) di se­jumlah perguruan tinggi. Hal ini pula yang belakangan ramai dibahas di sejumlah media sosial.

Menanggapi isu tersebut, Plt Direktur Jenderal Pendidikan Tinggi Kementerian Pendi­dikan dan Kebudayaan (Ke­mendikbud), Prof Nizam, akhirnya angkat suara. Ia mengeluarkan empat rekomendasi yang mesti dila­kukan seluruh Perguruan Tinggi Negeri (PTN) maupun swasta. Pertama, Kemendik­bud memastikan tidak ada kenaikan UKT di masa pan­demi Covid-19. ­

”Sesuai laporan yang dite­rima Kemendikbud, jika ada PTN yang menaikkan UKT, keputusan tersebut diambil sebelum masa pandemi dan diberlakukan pada maha­siswa baru sesuai kemam­puan ekonomi orang tua. Selain itu, keputusan ter­kait UKT tidak boleh meny­ebabkan mahasiswa tidak bisa kuliah,” katanya dalam keterangan tertulis yang di­terima Metropolitan, kema­rin.

Kedua, pada 6 Mei, Majelis Rektor Perguruan Tinggi Negeri (MRPTN) telah me­nyepakati sejumlah poin yang harus diterapkan PTN dan PTS lantaran wabah virus corona.

”Sebelumnya, kita sudah menyepakati beberapa opsi bagi mahasiswa terdampak untuk mengatasi masalah UKT. Di antaranya seperti menunda dan menyicil pem­bayaran, mengajukan penu­runan UKT, mengajukan bantuan finansial bagi yang berhak dengan mekanisme pengajuan dan keputusan diatur masing-masing PTN,” ujarnya.

Untuk mendapatkan ke­ringanan UKT, sambung dia, mahasiswa dapat mengaju­kan permohonan kepada pimpinan sesuai prosedur di masing-masing PTN dan PTS.

Meringankan beban ma­hasiswa terdampak, pemerin­tah memfasilitasi pembe­rian bantuan seperti Kartu Indonesia Pintar (KIP) Ku­liah. KIP Kuliah ini diperun­tukkan mahasiswa PTN maupun PTS.

Tahun ini, menurut Nizam, pemerintah telah mengalo­kasikan KIP Kuliah bagi 400 ribu mahasiswa (tiga kali lebih banyak dari tahun lalu, red).

Pemerintah sangat menga­presiasi perguruan tinggi yang telah membantu mahasiswa tidak mampu, dengan ban­tuan pulsa serta dukungan logistik dan kesehatan selama pembelajaran dari rumah. Dukungan dari masyarakat dan alumni juga sangat luar biasa.

”Kemendikbud mengapre­siasi dan mengajak seluruh pihak saling membantu. Semoga dengan bergotong-royong, pandemi ini dapat kita atasi bersama,” tuturnya.

Sementara itu, Rektor Uni­versitas Ibn Khaldun (UIKA) Bogor, Ending Bahrudin, men­gungkapkan, baik PTN mau­pun PTS sudah banyak yang menerapkan hal ini. Meski PTS sangat bergantung keu­angan mahasiswanya, seba­gian besar PTS sudah men­jalani imbauan tersebut. Ia menilai meningkatkan tarif UKT di tengah pandemi sang­at tidak elok.

”Saat kondisi Covid-19 ini tidak mungkin menaikkan biaya perkuliahan. Bahkan sudah ada beberapa PTS yang dalam promosi penerimaan mahasiswa baru TA 2020/2021 dengan berani menurunkan biaya kuliahnya sampai dm50 persen,” ujarnya.

Ending menceritakan, di UIKA sendiri para maha­siswa masih banyak yang belum membayar kuliah. Bahkan, pendaftaran calon mahasiswa baru terbilang sedikit.

”Untuk UIKA Alhamdulil­lah masih bisa berjalan, dengan tidak menaikkan maupun menurunkan biaya perkuliahan. Tapi tetap ada bantuan untuk mahasiswa tertentu,” katanya.

Disinggung soal keringanan yang diberikan, Ending mem­berikan sejumlah kemudahan bagi mahasiswa terdampak Covid-19.

”Kami berikan keringanan bagi mahasiswa tertentu dengan cara dicicil, diper­panjang tempo pembayaran­nya dan atau disubsidi dari lembaga bantuan yang kita khususkan bagi mahasiswa tidak mampu,” tutupnya. (ogi/b/mam/py)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *