DLH Angkut Gunungan Sampah 136 Ton

by -

METROPOLITAN – Bertahun-tahun lamanya sampah ber­bagai jenis yang menggunung di sekitaran jalur rel kereta api menuju Stasiun Nambo, Ke­camatan Klapanunggal, tak kunjung usai. Lokasi gun­ungan sampah itu berada di Kelurahan Puspanegara, Ke­camatan Citeureup, dan Desa Gunungputri, Kecamatan Gunungputri. Pada November 2019 lalu. Pemerintah Keca­matan Citeureup melakukan pengangkutan bersama Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kabupaten Bogor. Sayang, tak semua sampah yang telah melanggar aturan perkeretaa­pian itu tuntas dibersihkan.

Kemarin, DLH bersama Pe­merintah Desa Gunungputri melakukan tindakan yang sama. Sebanyak 30 unit se­cara bergantian mengangkut sampah tersebut. “Rata-rata dua ton per unit. Kami be­kerja sama dengan unsur For­kopikcam Gunungputri, Pem­des Gunungputri, PT Kereta Api Indonesia, serta Indoce­ment, kali ini titik opsih dila­kukan di jalur rel kereta api,” kata Sekretaris DLH Kabupa­ten Bogor, Anwar Anggana, kemarin.

Ia menyebut proses peng­angkutan akan berlanjut pada Rabu (24/6). Terdapat 50 truk yang nantinya akan dikerahkan untuk proses pengangkutan di hari ke dua tersebut. Ia tak menampik bahwa sampah di wilayah perbatasan tersebut menjadi permasalahan kurun waktu yang cukup lama. “Di­perkirakan tumpukan sampah sebesar 420 kuintal atau seki­tar 136 ton,” ungkapnya.

Nantinya, sambung Anwar, sampah tersebut akan dibuang ke TPAS Galuga. Pembersihan sampah di sekitaran rel ke­reta ini sudah seharusnya ditangani secara serius. “Ma­syarakat juga diminta agar tidak lagi membuang sampah di sana. Sehingga nantinya tidak kembali terjadi gun­ungan sampah,” katanya.

Anwar juga menyarankan pihak Kelurahan Puspane­gara, Kecamatan Citeureup, maupun Desa dan Kecamatan Gunungputri, membangun TPA sementara hingga nanti tidak ada lagi sampah liar yang tingginya bisa mencapai tiga meter.

Camat Gunungputri Didin Wahidin berharap masyara­katnya peduli kepada ling­kungannya, baik dengan mem­buang sampah di tempatnya maupun melaksanakan Pola Hidup Bersih dan Sehat (PH­BS). ”Pemerintah tidak bisa sendiri dalam menjaga ling­kungan dan butuh peran ma­syarakat, kami akan bentuk satuan tugas (satgas) di tingkat RT dan RW yang nantinya pu­nya tugas menjaga lingkungan bersih dari sampah liar,” harap Didin. (reg/rb/ink/els/run)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *