Kasus Corona Di Kota Bogor Meluas, Awas! Gelombang Kedua

by -

Tingginya kasus penyebaran virus corona di lingkup rumah sakit rujukan di Kota Bogor membuat kekhawatiran tersendiri. Musababnya, bukan tidak mungkin tingginya kasus penularan secara massal dari fasilitas kesehatan itu bisa menimbulkan gelombang kedua pandemi Covid-19 di Kota Hujan.

SAAT ini, Kota Bogor tengah mengalami lonjakan penam­bahan kasus positif corona selama sepekan terakhir. Aneh­nya, penambahan kasus po­sitif itu ternyata berpusat di rumah sakit yang menjadi rujukan penanganan pasien corona.

Pakar Epidemiologi Univer­sitas Indonesia (UI), sekaligus Tim Ahli Kota Bogor, Tri Yunis Miko, menilai penambahan sebelas kasus positif yang be­rasal dari rumah sakit di Kota Bogor itu masih terbilang aman.

”Kota Bogor melaporkan sebelas kasus kebanyakan di rumah sakit yang kebanyakan perawat dan dokter. Saya bilang itu masih tergolong aman ka­rena sumber infeksinya keta­huan yaitu di rumah sakit,” kata Tri Yunis Miko, kemarin.

Namun, Tri tetap mewanti-wanti akan terjadinya gelom­bang kedua pandemi corona di Kota Bogor jika sampai terjadi penularan massal dari locus rumah sakit. Sebab ber­dasarkan anjuran WHO (Or­ganisasi Kesehatan Dunia, red), jika sampai terjadi outbreak (perjangkitan, red) dari rumah sakit maka harus melakukan investigasi Standar Operasio­nal Prosedur (SOP) Protokol Kesehatan kepada minimal empat rumah sakit.

”Kalau petugas tidak patuh, akan merebak ke mana-mana. Saya sarankan tempat-tempat umum untuk dilakukan survei (eliminasi melalui tes massal, red), stasiun dilakukan survei via rapid test sebulan sekali,” ucapnya.

Untuk itu, Tri meminta Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Bo­gor melakukan tracing (men­gusut, red) agar bisa menekan angka penyebarannya. Sebab, 50 persen kunci ditekannya angka penyebaran adalah melalui isolasi yang dilakukan Orang Dalam Pemantauan (ODP) dan Pasien Dalam Pengawasan (PDP) yang ter­jaring hasil tracing.

”Nanti kuncinya ada di iso­lasi mandiri. Menurut saya, di Kota Bogor ini tingkat kepa­tuhan masyarakatnya cukup tinggi. Jadi kalau sudah diiso­lasi mandiri, sekitar 50 persen pekerjaan kita sudah selesai untuk menekan angka penye­baran,” ujarnya.

Menanggapi hal itu, Wakil Wali Kota Bogor Dedie A Rachim menyebut tingginya penularan virus corona tidak hanya terjadi di rumah sakit. Menurutnya, penyebaran juga terjadi di beberapa tem­pat lain. “Dalam satu minggu ini naik 43 orang, 60 persen mereka yang terkait dengan kegiatan di rumah sakit,” ka­tanya.

Untuk itu, Dedie meminta masyarakat mengikuti proto­koler kesehatan. Sebab, penye­baran bisa terjadi bukan hanya di rumah sakit, tetapi juga bisa terjadi di tempat lain. “Itu tinggal kembali ke masyarakat untuk tetap mengikuti proto­koler kesehatan. Kalaupun ada, seperti itu,” ujarnya.

Sementara itu, kekhawatiran terjadinya gelombang kedua pandemi Covid-19 di Kota Bo­gor tidak hanya berasal dari penyebaran di lingkup rumah sakit. Adanya tambahan dan kasus positif baru dari klaster Balai Kota Bogor (BKPSDM Kota Bogor yang menjadi tu­runan klaster sertifikasi PBJ Kota Bogor, red), mal (Toko Mitra 10, red) serta pasar tra­disional wajib diwaspadai.

Dedie pun mengonfirmasi sejauh ini sudah ada 17 Pega­wai Negeri Sipil (PNS) yang terpapar virus corona, dengan rincian sembilan orang dari Dinkes, tiga dari staf setwan Kota Bogor dan lima dari Ba­dan Kepegawaian dan Peng­embangan Sumber daya Ma­nusia (BKPSDM) Kota Bogor. ”Yang terbaru yaitu BKPSDM merupakan turunan dari klas­ter sertifikasi Pengadaan Barang dan Jasa (PBJ). Salah satu PNS BKPSDM sempat melakukan kontak dengan staf setwan yang positif. Sampai saat ini kami masih melakukan tracing un­tuk penyebarannya,” bebernya.

Ia menjelaskan, klaster ser­tifikasi PBJ berawal saat Pe­merintah Kota (Pemkot) Bogor menggelar sertifikasi PBJ un­tuk 33 PNS Eselon III dan IV di Hotel Salak Pajajaran pada Kamis (11/3) silam. Dalam kegiatan tersebut, ternyata salah satu peserta sudah ter­papar virus corona. Alhasil, di Dinkes terpapar empat orang, dengan Almarhum Drg Budi, di antaranya Staf Setwan Kota Bogor dan PNS BKPSDM Kota Bogor.

Soal pegawai Toko Mitra 10 positif corona, Dedie membe­narkan hal tersebut. Ia me­nyebut ada tiga karyawan yang dinyatakan positif usai dila­kukan tes massal pihak ma­najemen. “Yang benar ada tiga karyawan. Artinya semua karyawan dan manajemen yang berinteraksi menjadi ODP dengan ketentuan melakukan isolasi mandiri, memeriksakan diri dengan rapid maupun swab test,” katanya.

Untuk itu, Dedie mengaku sudah meminta pihak Mitra 10 agar melakukan rekomen­dasi yang sudah dikeluarkan. Di antaranya memberikan data karyawan/manajemen yang melakukan kontak erat dengan pegawai positif Co­vid-19 dan melalukan uji PCR/swab mandiri pihak manaje­men/staf/karyawan/keluarga atau berkoordinasi dengan Dinkes Kota Bogor.

Kemudian melakukan pem­bersihan lingkungan kerja atau penyemprotan disinfektan Toko Mitra 10 yang diawasi Gugus Tugas Covid-19 Kota Bogor secepatnya, lalu mela­kukan koordinasi dengan Gu­gus Tugas terkait pelacakan dan penelusuran kontak erat karyawan yang terinfeksi un­tuk dilakukan upaya penyel­enggaraan protokol kesehatan selanjutnya.

“Terakhir, kami meminta pihak manajemen Toko Mitra 10 menghentikan sementara kegiatan atau penutupan toko selama 14 hari dan atau dapat dibuka dengan persetujuan Gugus Tugas Covid-19 Kota Bogor,” paparnya.

Dalam kesempatan itu, De­die juga mengimbau kepada warga yang dalam dua ming­gu terakhir berbelanja di Toko Mitra 10 agar memeriksakan diri dan melakukan isolasi mandiri. Jika ada gejala terpa­par corona, warga diminta menghubungi fasilitas kese­hatan terdekat. “Kami imbau bagi pengunjung yang dalam 14 hari terakhir berbelanja di sana untuk memeriksakan diri dan melakukan isolasi mandiri,” pintanya.

Menanggapi hal itu, Manajer Operasional Toko Bangunan Mitra 10 Kota Bogor Rully Di­antino menyebut ketiga orang yang telah dinyatakan positif Covid-19 itu merupakan ka­ryawan supplier. ”Baru tiga yang lapor. Karena kalau supp­lier tidak bisa kontrol karena dia luar mitra, pihak ketiga. Juga sudah nggak masuk sejak reaktif,” kata Rully.

Kemudian beberapa karya­wannya yang reaktif hasil rapid test di pemeriksaan awal pada 5 Juni 2020 dinyatakan negatif usai ditindaklanjuti dengan uji swab di Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Kota Bogor. ”Swab di RSUD. Kalau sudah positif, sudah Gugus Tugas yang menangani. Jadi yang satu sudah dibawa RSUD. Yang dua baru tahu positif. Jadi saya melarang masuk dari awal setelah reaktif,” ujarnya.

Sementara itu, berdasarkan data Satuan Gugus Tugas Per­cepatan Penanganan Covid-19 Kota Bogor, terdapat tambahan kasus positif sebanyak empat pasien per Selasa (16/6). “Jum­lah pasien terkonfirmasi po­sitif bertambah empat kasus. Total pasien positif Covid-19 di Kota Bogor sebanyak 70 orang,” kata Kepala Dinkes Kota Bogor Sri Nowo Retno. “Sementara jumlah pasien sembuh bertambah satu pasien, PDP/Perawatan bertambah tiga kasus, serta pasien me­ninggal hari ini tetap,” tandas­nya. (dil/c/rez/run)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *