KRB Mulai Dibuka Bertahap

by -

METROPOLITAN – Kepala Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19 (GT­PPC-19) Doni Monardo men­gatakan bahwa tempat pari­wisata alam tipe konservasi maupun nonkonservasi boleh kembali dibuka bertahap dengan protokol kesehatan ketat.

Doni Monardo mengung­kapkan bahwa syarat utama pembukaan adalah menerap­kan protokol kesehatan yang telah ditetapkan. Sebagai­mana tercantum dalam Ke­putusan Menteri Kesehatan Nomor HK.01.07/MEN­KES/382/2020 tentang Pro­tokol Kesehatan bagi Masy­arakat di Tempat dan Fasilitas Umum dalam Pencegahan dan Pengendalian Covid-19.

“Tempat wisata boleh mulai dibuka bertahap dengan pen­gunjung maksimal 50 persen dari kapasitas normal,” jelas Doni.

Kawasan pariwisata alam yang dimaksud terdiri dari wisata bersifat konservasi seperti kawasan wisata ba­hari, kawasan konservasi perairan, wisata petualangan. Lalu taman nasional, taman wisata alam, taman hutan raya, suaka margasatwa, geopark.

Sementara pariwisata non­konservasi bisa berupa kebun raya, kebun binatang, taman safari, desa wisata dan kawa­san wisata alam yang dikelo­la oleh masyarakat.

”Saat ini kawasan pariwi­sata alam diizinkan dibuka adalah kawasan pariwisata alam yang berada di wilayah kabupaten/kota dalam zona hijau dan atau zona kuning,” katanya.

Sementara pembukaan ka­wasan pariwisata lain diatur sesuai kesiapan pemerintah daerah serta pengelola kawa­san pariwisata yang dimaksud.

Doni menyebut ada 270 ka­bupaten/kota yang berada pada zona hijau dan kuning. Pengambilan keputusan ini diserahkan kepada bupati/ wali kota setempat.

Pengambilan keputusan harus proses musyawarah dengan Forum Komunikasi Pimpinan Daerah (Forko­pimda) yang melibatkan pengelola pariwisata alam, Ikatan Dokter Indonesia (IDI) di daerah.

Pakar epidemologi, pakar kesehatan masyarakat, pakar ekonomi kerayatan, tokoh agama, tokoh budaya dan tokoh masyarakat, pegiat kon­servasi, serta pelaku indrustri pariwisata.

“Tentunya pembukaan ha­rus didahului penciptaan prakondisi, antara lain edu­kasi, sosialisasi dan simulasi sesuai karakteristik kawasan tersebut,” jelas Doni.

Prakondisi termasuk me­nyiapkan protokol kesehatan, manajemen krisis hingga tingkat operasional, serta mo­nitoring dan evaluasi.

Doni berharap pemda mem­berikan rekomendasi kepada pengelola yang memenuhi protokol kesehatan sesuai Keputusan Menkes.

”Jika dalam perkembangan­nya ditemukan kasus positif atau pelanggaran protokol, maka tim Gugus Tugas (GT) akan melakukan pengetatan, bahkan penutupan kembali secara berkonsultasi dengan GT provinsi dan GT pusat,” pungkasnya.

Untuk diketahui, Kota Bogor merupakan kawasan zona kuning dalam hal penyebaran Covid-19. (ps/feb/run)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *