Pandemi Belum Usai, Kondisi Sopir Angkot Memprihatinkan

by -

METROPOLITAN.id – Gelombang penyebaran virus Corona di Kota Bogor masih belum juga surut.

Angkutan Perkotaan (Angkot) menjadi salah satu bagian yang terdampak dari pandemi tersebut.

Ketua Organisasi Angkutan Darat (Organda) Kota Bogor, M. Ishack mengatakan, kondisi yang tengah dialami para pemilik dan sopir angkot sangat memprihatinkan.

Pasalnya, selama pelaksanaan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) di Kota Bogor, pendapatan yang diterima oleh para supir angkot dan pemilik angkot jauh di bawah pendapatan normal.

“Kalau rata-rata sehari setorannya Rp100 ribu, selama PSBB ini ya cuma Rp50 ribu,” jelas Ishack, Selasa (23/6).

Berkurangnya pendapatan para supir angkot ini juga dipengaruhi oleh berkurangnya jumlah angkot yang mengaspal selama pandemi.

Menurut catatan Organda, dari 3400 angkot yang tercatat di Kota Bogor, hanya sekitar 1700-an angkot yang beroperasi selama PSBB.

Contohnya adalah trayek 05 Cimahpar yang dalam seharinya hanya sekitar 100 angkot saja yang mengaspal.

“Untuk trayek 04 Rancamaya juga hanya 100 angkot saja dari total 170 angkot yang terdata. Setoran juga cuma Rp40 ribu,” ungkapnya.

Keadaan ini juga diperparah dengan tidak adanya subsidi dari Pemerintah Kota Bogor. Hal ini membuat beberapa pemilik angkot di Kota Bogor berusaha menjual angkot-angkotnya agar bisa menutup biaya operasional dan perawatan angkot yang dimilikinya.

“Sudah banyak yang nawarin bahkan sampai harga Rp20 jutaan, tapi tetap saja tidak laku. Saya berharap pemerintah mau memperhatikan mereka,” harap Ishack.

Terpisah, supir angkot 07, Junaedi, mengaku sempat tidak narik angkot pada PSBB I dan II karena jumlah penumpang yang naik sangat rendah.

Jika biasanya dalam sehari ia bisa mendapatkan sekitar Rp200 ribu hingga Rp300 ribu, kini ia hanya bisa mengantongi Rp120 ribu saja. Itupun ia harus rela ngetem selama kurang lebih 30 menit sampai 1 jam.

“Pendapatan ilang banget saat anak-anak sekolah pada libur. Kalau cuma ngandelin nganter sayur ke pasar Anyar mah nggak nutup,” ungkap Junaedi.

Junaedi juga mengaku kecewa dengan peraturan pembatasan jumlah penumpang. Sebab jika sekali berangkat ia bisa mendapatkan Rp30 ribu kalau penuh, kini ia hanya mendapatkan Rp10 ribu saja.

“Saya harap angkot bisa diperhatikan lah oleh pemerintah,” pungkasnya. (dil/b/fin)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *