Penyelenggara Hajatan yang Undang Rhoma Irama Jalani Pemeriksaan

by -

METROPOLITAN.id – Aksi panggung raja dangdut Rhoma Irama di acara hajatan warga di Pamijahan, Kabupaten Bogor, Minggu (28/6) lalu menjadi buah bibir masyarakat.

Bagaimana tidak, acara yang mengundang kerumunan itu digelar di tengah Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) Proporsional yang diterapkan Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Bogor untuk menekan penyebaran virus corona.

Bahkan sejak jauh hari, Gugus Tugas Covid-19 Kabupaten Bogor juga sudah meminta penyelenggara yaitu Surya Atmaja dan Rhoma Irama menunda konser, namun hal tersebut tak diindahkan.

Buntut aksi panggung Rhoma Irama, Gugus Tugas Covid-19 Kabupaten Bogor memanggil penyelenggara hajatan, Surya Atmaja dengan agenda pemeriksaan, Selasa (30/6).

Pantauan Metropolitan.id, Surya Atmaja tiba di kantor Sekretariat Daerah (Setda) Kabupaten Bogor sekitar pukul 11.00 WIB untuk menjalani pemeriksaan.

Sebelum tiba di Setda, tokoh Kasepuhan Banten itu terlebih dulu bertemu Bupati Bogor Ade Yasin di Pendopo Bupati.

Di sana, Surya Atmaja menyampaikan soal kronologi dan gambaran umum acara khitanan anaknya yang menampilkan banyak hiburan.

“Sebelumnya ke Pendopo dulu bertemu Bupati untuk menjelaskan secara lisan. Dia (Surya Atmaja, red) cerita dan sempat meminta maaf,” kata Sekretaris Daerah (Sekda) Kabupaten Bogor, Burhanudin, Selasa (30/6) siang.

Usai itu, Surya Atmaja langsung mengikuti pemeriksaan oleh Tim Gugus Tigas Covid-19 Kabupaten Bogor.

Hingga berita ini dilansir, Surya Atmaja yang datang bersama beberapa orang lainnya masih menjalani pemeriksaan di gedung Setda Kabupaten Bogor.

“Pak surya dan beberapa orang sedang dimintai keterangan oleh Gugus Tugas. Kita minta keterangan dulu bagaimana kronologi yang sebenarnya. Walaupun di media sudah tau ada hajatan, khitanan, nanggap wayang golek, ada dangdut lokal dan kebetulan yang kondangan jadi ikut menyumbangkan lagu. Makanya saya belum bisa komentar banyak karena masih dalam pemeriksaan. Nanti Gugus Tugas menjelaskan. Yang jelas hari ini dia kami mintai keterangan,” pungkasnya.

Sebelumnya, penampilan raja dangdut Rhoma Irama di acara khitanan warga di Desa Cibuniang, Kecamatan Pamijahan, Kabupaten Bogor, Minggu (28/6), berbuntut panjang.

Kepolisian berencana memanggil pihak terkait seperti penyelenggara hingga Rhoma Irama untuk menyelidiki acara yang digelar di tengah pandemi virus corona tersebut.

Padahal, Pemkab Bogor sudah mengirimkan surat peringatan agar tidak tampil diatas panggung sebelum hari-H.

Saat itu, Rhoma Irama pun memberikan keterangan lewat video singkat yang menyatakan pembatalan konsernya di Pamijahan.

Namun nyatanya, ‘konser’ tetap berlangsung dengan kerumunan massa dan telihat tanpa menerapkan protokol kesehatan pada masa Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) Proporsional.

“Kami sudah berikan laporan bahwa itu dilarang, surat juga sudah ada, kita sudah datang ke lokasi. Mereka juga bilang tidak akan melaksankan pertunjukan, termasuk pernyataan dari Rhoma Irama tidak akan melaksanakan pertunjukan. Ya kita percaya itu, ternyata pada hari H, mereka tetap tampil, lebih dari dua lagu ya bisa dibilang pertunjukan kan. Malah dengan banyak artis lain,” kata Bupati Bogor, Ade Yasin, usai rapat koordinasi bersama Kapolda Jabar dan Pangdam III/Siliwangi di Pendopo Bupati Bogor, Senin (29/6).

Ia pun mengaku kecewa dan marah serta merasa kecolongan lantaran sudah percaya dengan komitmen sebelum hari-H, namun kenyataannya berbeda. Belum lagi, penyelenggaranya merupakan tokoh setempat sehingga tidak ada alasan untuk tidak mempercayai komitmen soal tidak akan melakukan pertunjukan.

“Kita percaya, apalagi itu tokoh yang bilang. Ternyata jadi juga. Saya minta ditindak-lanjut, mulai dari teguran, lalu pemanggilan. Kalau ada melanggar aturan, kita akan proses dengan benar,” terangnya.

Menurut Ade Yasin, pemanggilan bakal dilakukan kepada semua pihak yang bertanggungjawab, mulai dari tuan rumah hingga artis yang datang dan mengisi acara tersebut. Ia pun bakal berkoordinasi dengan Kapolres Bogor terkait hal ini.

“Kita lihat bedah kasus dengan Kapolres dulu. Kita lihat siapa yang tanggung jawab. Kalau memang ada pelanggaran, kita proses hukum. Pelanggarannya ini PSBB yaa. Ada ancaman hukuman sanksi. Itu nanti berdasarkan pemeriksaan pada pemanggilan semua orang,” tegas Ade Yasin

Sementara itu, melalui video berdu­rasi tiga menit 53 detik, Rhoma Irama memberikan klarifikasi. Pernyataan itu ia bagikan melalui Facebook pribadinya.

“Assalamualai­kum Wr Wb. Waduh, saya terpaksa mesti klarifikasi lagi nih. Tiba-tiba ada be­rita saya mau diproses hukum oleh Ibu Bupati Kabupaten Bogor,” katanya mengawali pembukaan video.

“Sebetulnya begini, bahwa saya datang itu atas undan­gan dari Pak Surya. Karena dengan catatan waktu itu dengan komitmen tidak akan menyelenggarakan penam­pilan Soneta Group. Jadi saya datang lah dengan sendirian. Juga pakai baju sederhana saja, nggak pakai jas, nggak pakai batik karena undangan Pak Surya itu ya sifatnya ha­nya kumpul-kumpul saja,” sambungnya.

Sesampainya di lokasi khi­tanan tokoh Kecamatan Pa­mijahan tersebut, ia melihat sudah banyak masyarakat yang berkumpul di satu lo­kasi, yang sifatnya undangan resmi oleh penyelenggara acara. Selain itu, banyak juga karangan bunga yang berjajar di lokasi tempat ha­jatan itu diselenggarakan.

i sana juga saya lihat ada panggung, ada live music. Bahkan penyanyi-penyanyi dari Ibu Kota tampil di sana. Saya pikir saat itu kondisinya sudah aman gitu kan. Bahkan pada malam Minggu-nya pun ada wayang golek sampai pagi hari,” ucapnya.

Namun, sambungnya, tiba-tiba ada berita dirinya akan diproses hukum hanya ka­rena Raja Dangdut sempat tampil di atas panggung dengan menyanyikan bebe­rapa lagu.

“Ini buat saya aneh saja gitu. Seandainya mau dip­roses secara hukum, tentu­nya kan Ibu Bupati yang punya wilayah, begitu ber­diri panggung itu kan sejak hari Sabtu (27/6) lalu mes­tinya dilarang, kalau memang tidak boleh adanya acara di khitanan Pak Surya tersebut,” imbuhnya.

“Bahkan, malamnya ada wayang golek mestinya di­larang. Terus paginya ada penampilan musik mestinya dilarang. Saya sendiri datang sore hari pada Minggu (28/6) kemarin. Tapi tiba-tiba ke­napa saya yang jadi kena sasaran, saya yang harus mempertanggungjawabkan ini,” lanjutnya.

Baginya, ancaman orang nomor satu di Kabupaten Bogor itu dianggap tidak adil dalam menegakkan hukum yang berlaku untuk polemik tersebut. “Saya harap Bu­pati heureuy lah, bercanda gitu kan. Sebab kalau memang serius ya harus yang bertang­gung jawab yang mengada­kan pagelaran, yang menga­dakan acara itu. Saya undan­gan. Kalau saya tamu un­dangan harus bertanggung jawab, berarti seluruh un­dangan yang hadir di situ harus diproses secara hukum juga,” bebernya.

Rhoma berharap perma­salahan ini bisa diselesaikan secara musyawarah tanpa adanya pelaporan ke pihak berwajib. Sebab jika perihal ini tetap dilanjutkan, seluruh rakyat di negeri yang menge­tahui persoalan tersebut akan bingung.

“Mudah-mudahan klir ya, bahwa saya undangan dan tidak ada live conser oleh Soneta Group. Saya cuma datang ke situ, bahkan saya juga didampingi ketat oleh aparat. Bukan ditangkap tapi didampingi,” ujarnya.

Ia juga menyebut pendam­pingan yang diberikan apa­rat penegak hukum setempat itu dilakukan kepadanya sejak tiba di acara lokasi hingga naik ke atas panggung untuk memberi tausiah ke­pada tamu undangan yang hadir kala itu.

“Nah, ketika di panggung itu, saat saya memberi tau­siah singkat, pasti saya di­daulat nyanyi… nyanyi…. Karena permintaan itu, maka saya menyanyi lah satu-dua lagu. Dan bukannya ini suatu yang wajar kan, serta normal yang dialami artis Ibu Kota di mana pun saat hadir di suatu acara yang didatanginya,” ujarnya. (fin)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *