Punya Target Rp8 Miliar, PPE ’Hidup’ Lagi

by -

METROPOLITAN – Setelah beralih kepengurusan, PT Pra­yoga Pertambangan Energi (PPE) kembali beroperasi. PT PPE mulai memproduksi Aspalt Mixing Plant (AMP) dan Quar­ry di wilayah Sentul, Kecama­tan Babakanmadang, Kabupa­ten Bogor.

Bupati Bogor Ade Yasin me­minta direktur yang baru agar membuktikan lebih dahulu produksi di bidang AMP dan Quarry ini. Sebab, sampai saat ini Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Bogor enggan mem­berikan modal terlebih da­hulu.

“Buktikan dulu. Jika bisa men­ghasilkan, kita akan bahas. Kita ingin buktinya dulu. Mu­dah-mudahan tidak minta dan bisa jalan sendiri. Kalau peru­sahaan ini bisa stabil dan jalan, terutama bisa berkontribusi kepada PAD, itu sudah oke,” ujarnya saat mengunjungi pe­rusahaan milik daerah itu, Senin (29/6).

Ade Yasin mengapresiasi Di­rektur PT PPE yang baru, Agus Setiawan, karena telah mem­buktikan dan mulai mempro­duksi.

“Kenapa saya bilang orang nggak waras? Bayangkan saja, orang masuk ke sini (PPE, red) nggak ada modal atau nol ru­piah, sehingga dijalankan sen­diri berbagai upaya dilakukan, sehingga bisa jalan kembali. Jangan ragu lagi untuk meme­san ke sini (PPE, red), baik dari kabupaten atau kota di sekitaran Jawa Barat. Karena perusahaan ini dari jatuh, kini sudah berdiri kembali,” ucap­nya.

Sementara itu, Direktur PT PPE Agus Setiawan mengatakan, dalam satu minggu pihaknya baru mendapatkan order dari perusahaan sebanyak 300 ton. Menurutnya, setelah berganti kepengurusan, PPE baru bisa melakukan produksi dalam satu hari sebanyak 20 ton.

“Nanti kita juga punya pro­duksi Quarry baru setelah izin­nya keluar, rencana maksimal produksi pertama blacking 10 ribu ton,” katanya.

Agus menargetkan produksi yang mulai beroperasi kem­bali ini bisa mengambil keun­tungan sebesar Rp8 miliar sampai akhir 2020. Sebab, di­rinya juga memprediksi pada Juli nanti akan berdiri pabrik semen milik PPE.

“Dari awal saya tidak berpikir dikasih modal, saya berjalan dan akan membuktikan tanpa disuntik modal. Uang yang saya sudah keluarkan sekitar Rp1 miliar. Itu uang pribadi. Nanti ketika ada keuntungan sekitar 51 persen itu untuk daerah dan sisanya untuk kembali ke pe­rusahaan,” pungkasnya. (bd/feb/run)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *