Siaga Pangan, Kelompok Pemuda Manfaatkan Lahan Tidur

by -

METROPOLITAN – Aksi se­kelompok anak muda di Kelu­rahan Tegallega yang meman­faatkan lahan tidur patut dia­presiasi. Mereka membuat inovasi kebun organik berben­tuk lambang peace (perda­maian, red) di wilayah Kelura­han Tegallega, Kecamatan Bogor Tengah, Kota Bogor.

Kreativitas dan inovasi yang dibuat itu dimaksudkan seba­gai upaya mempersiapkan ketahanan pangan dan siaga pangan di tengah pandemi Covid-19. Karena itu, kebun ini diberi nama BORAC.19.

Koordinator Program Men­anam Kembali, Gema Sastra Nasution, menjelaskan kenapa kebun balai bibit ini dibuat dalam lambang peace. Itu ada maknanya. Berdasarkan his­tory dan filosofi, lambang peace yang berupa lingkaran dan hurup ND itu dipakai se­bagai simbol Campaign for Nuclear Disarmament (CND) atau Kampanye untuk Pelucutan Senjata Nuklir (CND). Logo ini dirancang dari kode angkatan laut (semaphore).

“Simbol huruf merupakan kode untuk ND yang berarti Nuclear Disarmament. Tapi ND di sini kita maknai ‘Nanem Deui’ atau menanam kembali. Se­dangkan lingkaran yang menge­lilingi N dan D bermakna TO­TAL. Di samping lambang peace kita buat juga tulisan hope (harapan, red) yang di dalamnya kita isi juga dengan tanaman,” jelasnya, Selasa (23/6).

Kebun balai bibit yang di­beri nama BORAC.19 (Bogor Rise Against Corona) itu, sam­bungnya, dibuat pada Maret 2020 lalu saat maraknya penye­baran pandemi Covid-19. Ba­lai bibit ini dikelola sekitar 30 anak muda lintas komunitas yang ada di Bogor.

“Agar tidak dianggap hanya eksis di momen corona ini, maka pada Mei kepanjangan dari nama BORAC.19 kita ganti menjadi Bogor Respond Antisipation Crisis, bukan lagi Bogor Rise Against Corona. Karena kita ingin usaha ini berkelanjutan terus meskipun bencana wabah corona sudah selesai,” ungkapnya.

Ia menjabarkan, di kebun ini terdapat cabai rawit, kangkung, caisim, pakcoy, terong ijo, terong ungu, bayam merah, bayam hijau, sawi, seledri, buncis, kacang panjang dan tomat ceri.

“Selain budi daya, kita juga menyediakan bibit cabai rawit dan benih sayuran untuk di­bagikan gratis kepada warga yang ingin bercocok tanam. Kita kasi ke warga 200-250 bibit cabai rawit. Sedangkan benih sayuran kita kasi satu sampai dua pack. Bebas mau pilih sayuran apa pun,” bebernya.

Sedangkan hasil panen dari kebun ini, sambung Gema, sebagian besar dierikan ke­pada warga yang membutuh­kan. “Mereka bisa datang langsung ke kebun saat panen. Jika berminat bercocok tanam kita beri juga edukasi tentang bagaimana menanam secara organik,” tambahnya.

Gema melanjutkan, untuk menggaungkan kampanye gerakan menanam kembali, kelompok ini juga membuka jaringan di tiap wilayah yang dinamakan local heros. Saat ini sudah ada sekitar 30 local heros yang tersebar di Kota dan Kabupaten Bogor.

“Sasaran kita adalah anak-anak muda milenial yang mau menanam. Jadi, mereka kita edukasi dengan harapan ilmu ini bisa diterapkan kepada warga di wilayahnya dengan memanfaatkan lahan tidur menjadi lahan komunal. Jadi, gerakan ini berkelanjutan,” harapnya.

Ia menegaskan, kampaye utama dari aksi berkebun ini adalah ‘Mari kita berkebun dan menanam kembali’. Jadi me­skipun stay at home, warga atau anak muda tetap produktif. Bahkan kegiatan ini bisa me­nambah pemasukan untuk kebutuhan hidup.

“Kita pilih bibit cabe karena nilai jual sekali panennya cukup lumayan. Nah, itu bisa jadi uang kas warga. Kita juga sudah menjalin komunikasi dengan pihak Perumda PPJ dan Dinas Pertanian agar produk hasil panen di sini bisa masuk ke pasar ke depannya,” ungkapnya.

“Ini upaya kita membuat ke­tahanan pangan di tengah kondisi PSBB karena adanya pandemi Covid-19. Jadi, biar di rumah tetap ada kegiatan dan bisa mengisi kantong. Ke­giatan ini pun untuk merubah kebiasaan masyarakat yang biasanya menunggu bantuan kini dibalik menjadi mau ber­bagi lewat hasil panen,” pung­kasnya. (*/feb/run)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *