Bisnis Belum Berjalan, Paus Bakar Curhat ke Dedie Rachim

by -

METROPOLITAN – Paguy­uban Pengusaha Bar, Cafe dan Restoran (Paus Bakar) Kota Bogor curhat ke Wakil Wali Kota Bogor, Dedie A Rachim, tentang nasib para pengusaha di tengah Pra Adaptasi Kebiasaan Baru (AKB).

Keluh kesah dan sejumlah proble­matika dunia usaha dan hiburan di Kota Hujan, jadi topik utama dalam pertemuan yang berlangsung di Alin Coffee Shop, kawasan Perumahan Royal Tajur, Kecamatan Bogor Timur, Kota Bogor, Selasa (7/7) sore. ­

Penyebabnya, Pemerintah Kota (Pemkot) Bogor hingga kini belum memberikan sinyal bagi pengusaha dunia hibu­ran untuk beroperasi kem­bali di tengah pandemi Co­vid-19.

Dedie A Rachim mengata­kan, pihaknya sudah me­minta pengusaha hiburan segera mengajukan konsep bagaimana membuka kegia­tan rumah bernyanyi saat pandemi ini. Sejumlah kon­sep penerapan protokol kese­hatan sempat dibahas dalam pertemuan yang dihadiri Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Atep Budiman dan sejumlah unsur Musya­warah Pimpinan Kecamatan (Muspika) Bogor Selatan itu.

Dedie pun mendengarkan sharing antara pengusaha dengan karyawan karaoke tersebut. Tak hanya itu, me­reka juga menyampaikan keluh kesah lantaran tidak ada pemasukan, sehingga kebingungan menggaji ka­ryawan.

”Mereka berharap usaha seperti karaoke bisa difasili­tasi untuk memulai berope­rasi. Intinya, kita memper­timbangkan kegiatan usaha masyarakat secara mandiri itu,” katanya.

Akan tetapi, sambung Dedie, ada beberapa sektor usaha yang harus hati-hati dengan mempertimbangkan berba­gai faktor, salah satunya ka­raoke.

”Karaoke ini harus lihat konsumen aman, pegawai aman, mulai dari ruangan protokol Covid-19-nya. Harus dipilah agar bisa direkomen­dasikan untuk diuji coba. Tapi jika berisiko, mereka harus mau dievaluasi,” ujar­nya.

Mantan petinggi KPK itu menambahkan, pemkot saat ini belum memiliki konsep baru karaoke di era new nor­mal ini.

”Harus dipikirkan kalau dulu pegang mikrofon gan­tian. Nah, mungkin nanti nggak usah. Tadinya selalu tertutup, bagaimana caranya supaya masuk kategori aman. Silakan berkreasi. Intinya, kita lindungi masyarakat dan seluruh pegawai,” tuturnya.

Oleh karena itu, masing-masing pengusaha karaoke wajib membuat konsep. Pem­kot Bogor pun harus mela­kukan perbandingan dengan daerah lain yang mungkin sudah lebih dulu beroperasi.

Sementara itu, Kepala Di­nas Kebudayaan dan Pari­wisata (Disbudpar) Kota Bogor, Atep Budiman, menga­ku akan memfasilitasi usulan dari Paus Bakar tersebut. Menurutnya, konsep yang nanti diberikan akan disan­dingkan dengan referensi SOP Kementerian Kesehatan (Kemenkes) untuk usaha ruang publik.

”Kita juga punya draft tek­nis untuk wisata dan sektor usaha lainnya, sesuai aturan yang berlaku. Intinya, kita siap memfasilitasi selama protokol kesehatan diterap­kan,” paparnya

Terpisah, Ketua Paus Bakar, Erik JW, berharap Pemkot Bogor betul-betul memper­timbangkan untuk bisa mengi­zinkan karaoke kembali be­roperasi. ”Kita pasti mene­rapkan protokol kesehatan dan mengajukan proposal kepada pemerintah,” ucapnya.

Hingga kini, menurut Erik, sudah ada empat tempat usaha yang mengajukan pro­posal ke Pemkot Bogor. Namun, ada sejumlah ca­tatan yang diwanti-wanti pemkot.

”Mereka (Pemkot Bogor, red) akan mengkaji dulu. Catatan dan masukan pasti ada. Seperti tempat disemprot disinfektan, sarung mikrofon diganti setiap tamu dan me­mastikan semua dalam kon­disi bersih,” ujarnya.

Senada, owner Alin Coffee Shop, Alin, berharap, Pemkot Bogor segera mengambil langkah untuk menyelamat­kan dunia usaha di Kota Bogor.

”Kita berharap ada jalan keluar bagi pelaku usaha. Walau bagaimana pun kita semua masyarakat Bogor. Apalagi, sejumlah sektor ini berkontribusi demi penda­patan asli daerah,” pungkas­nya. (ogi/b/mam/py)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *