Dana Siswa Dipotong, Orang Tua Siswa SMA Plus Cibinong Tuntut Kejelasan

by -

METROPOLITAN.id – Puluhan orang tua siswa kelas 12 SMA Plus PGRI Cibinong mendatangi sekolah, Rabu (29/7) siang. Mereka menuntut transparansi pemotongan dana yang dilakukan sekolah setelah berbagai kegiatan batal terlaksana karena pandemi covid-19.

Rupanya, selain meminta konfirmasi, kedatangan mereka bersama kuasa hukum juga menyampaikan somasi ketiga, lantaran dua somasi yang sudah dilayangkan sebelumnya tidak mendapat respon. Mereka diterima Wakil Kepala Sekolah bidang Sarana Prasarana Ferdi Siahaan di depan gerbang sekolah.

Salah satu orang tua siswa kelas 12, Selvia mengatakan, awalnya para orang tua murid hanya menuntut kejelasan kemana larinya uang dana tur hasil tabungan siswa yang tidak dikembalikan penuh.

Ternyata, potongan uang pengembalian tidak hanya dana tersebut, namun juga termasuk dana perpisahan, asuransi dan PIP.

“Tuntuan awal hanya itu, tapi ada dana lain yang diduga digelapkan sekolah juga. Ada dana perpisahan, perpustakaan, asuransi dan dana PIP yang tiap tahun kami bayar, tapi nggak ada informasi jelas kemana uang yang harusnya kembali penuh,” kata Selvia, Rabu (29/7).

“Kami minta penjelasan saja. Somasi kedua sudah dijawab tapi nggak masuk akal, penjelasan lewat YouTube. Kan kami menyerahkan kuasa hukum dan ada alamat kantornya,” sambungnya.

Selvia menambahkan, dana yang sudah dibayarkan oleh orang tua siswa kelas 12 yang berjumlah 645 orang itu masing-masing sekitar Rp4 juta. Sebetulnya, para orang tua siswa memaklumi jika ada pemotongan dana pengembalian, namun jumlah yang dipotong tidak masuk akal bahkan cuma 60 persen dari dana yang disetorkan.

“Misalnya uang tur itu bayar Rp2,4 juta. Dikembalikan cuma Rp1 juta. Uang perpisahan bayar Rp300 ribu, cuma dikembalikan Rp100 ribu. Oleh dana tur sudah dipotong uang kaos, masa segitu yang dipotongnya? Ya transparan aja, pemotongannya nggak jelas, kita minta konfirmasi itu,” ujar Selvia.

Sementara itu, Kuasa Hukum orang tua siswa, Victor Harianja menuturkan, melihat pengaduan dari orang tua siswa, ada ketidakwajaran dalam proses kelulusan anak kelas 12. Pihaknya sudah melayangkan dua somasi, namun tidak mendapat jawaban memuaskan. Alhasil, pihaknya melayangkan somasi ketiga Rabu (29/7).

“Kami ingin ada klarifikasi, jika memang yg disampaikan benar, ya berikan bukti-buktinya saja. Kenapa diklarifikasi lewat Youtube. Makanya kita somasi lagi, tapi nggak boleh masuk dan diterima wakasek saja,” ungkap Victor.

Jika nantinya somasi ketiga belum juga diberikan jawaban oleh sekolah, pihaknya bakal membawa kasus ini ke ranah hukum.

“Kita ketemu di pengadilan, kami akan buat surat pengaduan tentang somasi kami. Surat kami sudah ke Kemendikbud, Kejari, Kapolres, kami turun minggu depan,” tandasnya.

Menanggapi hal itu, Wakil Kepsek bidang Sarana Prasarana SMA Plus PGRI Cibinong, Fredi Siahaan mengakui sudah menjawab somasi yang dilayangkan. Termasuk memanggil dan membuat klarifikasi melalui media sosial YouTube. Ia pun enggan membeberkan lebih lanjut dan menyarankan pewarta untuk mengambil keterangan dari klarifikasi di medsos.

“Kami sudah sampaikan di medsos klarifikasinya. Yang jelas kalau somasi ketiga ini, kita terima,” tuntasnya. (ryn/b/fin)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *