Dedie Ajak Warga Lestarikan Budaya Sunda

by -

METROPOLITAN – Wakil Wali Kota Bogor Dedie A Rachim mengajak semua pi­hak di luar Dinas Pariwisata dan Budaya (Disparbud) turut serta melestarikan bu­daya Sunda. Hal tersebut disampaikannya saat mem­buka Sosialisasi Perwali Nomor 55 Tahun 2020 tentang Peles­tarian Budaya Sunda secara daring di Posko GTPP Kota Bogor, kemarin.

Di sektor pendidikan, ia meminta aktif melestarikan budaya Sunda. Di antaranya bisa dengan upaya mening­katkan kapasitas atau kemam­puan anak didik dalam me­nerima pelajaran bahasa Sunda dan ekstrakurikuler berbasis budaya daerah khas Sunda. ”Jadi, porsinya bisa ditambah,” katanya.

Untuk sektor kepariwisa­taan, para pelaku restoran dan perhotelan diminta meman­faatkan budaya dan seni tra­disional Sunda menjadi ba­gian dari seluruh proses bis­nis. “Sehingga ada keterkaitan antara pelestarian budaya dengan mengangkat tingkat perekonomian masyarakat di bidang seni tradisi dan kuliner tradisional,” jelasnya.

Ia menilai Pemerintah Kota (Pemkot) Bogor harus memi­liki landasan seni budaya yang kuat, misalnya pemakaian baju adat Sunda di momen tertentu lebih diformalkan. ”Ke depan, masyarakat umum dan sektor lainnya diajak un­tuk melestarikan,” pintanya.

Bahkan, ada beberapa ide untuk menjadikan totopong (ikat kepala khas Sunda, red) sebagai suvenir khas Kota Bogor, penggunaan pakaian budaya khas Sunda oleh para pegawai hotel, termasuk potensi batik Bogor sebagai bagian atribut dan yang lain­nya.

Sementara itu, Kepala Dis­parbud Kota Bogor Atep Bu­diman mengaku pihaknya membentuk Gerakan Sunda Teh Abdi yang terdapat dalam Perwali Nomor 55 Tahun 2020. Di mana ada sembilan stra­tegi yang akan dilaksanakan, di antaranya memanfaatkan ruang publik untuk aspek budaya, penerapan budaya Sunda dalam penyelengga­raan pendidikan, penggu­naan adat Sunda (nyunda), memperkenalkan kerajinan/ suvenir/dan kuliner tradisio­nal khas Kota Bogor, mencip­takan seni yang kreatif, re­sponsif, proaktif dan dinamis.

Selanjutnya mendorong fasilitas media dalam peles­tarian budaya Sunda, men­gusulkan penetapan warisan budaya Kota Bogor, penerapan teknologi untuk mempermu­dah pemahaman generasi muda dan masyarakat, serta membangun sistem penda­taan kebudayan terpadu.

Atep menjelaskan, dalam perwali tersebut dimaksudkan untuk mengatasi permasala­han masih rendahnya minat/ rasa cinta generasi muda dan masyarakat terhadap peles­tarian budaya Sunda. Sedang­kan budaya lain masuk dengan sangat mudah karena tekno­logi informasi. ”Dikhawatirkan budaya Sunda semakin ter­kikis,” ujarnya. (*/rez/run)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *