Duh, DLH Kota Bogor Panen Belatung Magot

by -

METROPOLITAN – Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Bogor akan menerap­kan pengolahan sampah organik dengan metode magot di setiap kelurahan. Hal itu diungkapkan Ke­pala Bidang Persampahan DLH Kota Bogor, Dimas Tiko PS, saat memanen ma­got di Tempat Pengelolaan Sampah Reuse, Reduce dan Recycle (TPS3R) di kantor DLH, Senin (27/7).

Dimas mengatakan, ke­giatan yang dilakukan ada­lah mencoba memanen magot setelah 20 hari di­tempatkan dalam baskom. Untuk jumlah yang dihasil­kan, pihaknya masih men­ghitung karena tidak seben­tar untuk mema­nennya.

”Dari awalnya empat ember, dibuat delapan ember. Setelah 14 hari hasilnya mudah-mudahan mak­simal. Bibitnya itu 12 gram untuk ditebar ke empat ember awalnya, tapi hasilnya be­rapa hasil panennya bisa ada yang mencapai satu gram menghasilkan satu kilo. Ke depan hasil panen ini akan diuji lab apakah bagus atau tidak. Saat ini tidak terlalu banyak, hanya sedikit karena ini satu mediator,” jelasnya. ­

Dimas melanjutkan, magot ini bisa menjadi teknologi menghabiskan sampah orga­nik minimal di tingkat RT, karena tidak bau dan larva ini dari lalat hitam. Kalaupun ada lalat hijau hinggap di bak be­risi magot, lalat hijau akan mati. Pakan magot dari Ming­gu lalu hingga saat ini.

”Sebelum diterapkan ke masyarakat, dicontohkan oleh aparatur di DLH setiap hari­nya membawa foot wash atau sampah organik sebagai pakan dari magot. Ini sebagai contoh positif, menghabiskan sampah organik itu seperti ini loh,” tambahnya.

Apabila pasokan makanan kurang karena magot semakin besar serta makannya sema­kin lahap, Pohan coba memi­lah sampah dari truk DLH yang akan membuang sampah ke Tempat Pembuangan Akhir Sampah (TPAS).

”Kami juga mendorong teman-teman supermaket, restoran, hotel dan lainnya memilah sampah. Bukan hanya non organiknya bisa dimanfaatkan, tapi orga­niknya bisa dimanfaatkan. Pagi-pagi saja saya sekarang membawa keresek berisi sampah organik dari rumah ke kantor. Ini untuk men­ghitung juga sehari berapa banyak sampah organik yang dihasilkan dari satu kelu­arga,” tambah mantan Kabid Dalops Satpol PP ini.

Dimas berharap perconto­han di DLH Kota Bogor bisa dikembangkan di tingkat RT dan RW, karena tujuan awal untuk mengurangi sampah organik tadi. Selama ini tu­juannya mengurangi sampah yang diangkut dari sumber­nya sampah. ”Saat ini sudah ada beberapa kelurahan yang tertarik, termasuk skala RT sudah menanyakan. Akan didorong TPS3R yang sudah mengelola lebih maksimal. Minimal mereka datang be­lajar dulu sambil praktik,” harapnya.

Dimas menerangkan, untuk biaya itu bibit dan alat-alat lainnya harus disiapkan juga. Nanti diproyeksikan di kantor DLH ada kandang bibit, hasil panennya akan dikirim ke TPS3R Mutiara Bogor Raya (MBR). Magot ini apakah un­tuk pakan lele atau seperti apa akan dilihat mana yang lebih memungkinkan. Meski saat ini lebih banyak untuk pakan lele.

”Tapi kembali lagi siklus ini untuk mengurangi sampah organik. Kenapa tidak, dengan metode ini lebih dikembang­kan dan didorong untuk me­nambah nilai ekonomisnya,” pungkasnya. (inl/mam/py)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *