Jadi Identitas Warga Betawi Ora, Pusaka Barong Parung Tetap Lestari

by -

Memiliki sepasang topeng yang telah berusia ratusan tahun, Topeng Barong Parung hingga kini terus dilestarikan secara turun-temurun oleh keluarga Jayadi. Terletak di Kampung Jati, RT 02/07, Desa Parung, Kecamatan Parung, Kabupaten Bogor, sosok lelaki berbadan gempal yang kesehariannya berjualan es di pasar itu terlihat begitu telaten dalam merawat wasiat dari orang tuanya tersebut.

KI Raden Minak Jinggo dan Nyi Raden Minak Jingga, ter­simpan rapi di kamar tengah rumah sederhana keluarga Jayadi. Kicauan burung pun menemani wartawan media itu saat mengunjungi kedia­man sang pawang barong yang tak jauh dari Pasar Parung. Memiliki tiga anak dan satu istri, Bang Jay, sapaan karib­nya, sudah 25 tahun sejak 1995 diamanatkan merawat sepa­sang topeng oleh neneknya. ”Topeng ini kalau tidak salah dibuat dari kayu cendana,” kata Bang Jay.

Saat pertama kali diberikan amanah untuk merawat to­peng, ia bercerita sempat mengobati warga yang kera­sukan makhluk gaib. ”Warga itu pun langsung takut ketika melihat sosok topeng barong,” ucapnya.

Barong ini juga sering disebut barong Ki Musan, yang meru­pakan kakek buyut Jayadi. Setiap malam Jumat, barong diberikan sesajen berupa kopi pahit, kopi manis, rujakan hingga bakaran hiu. ”Alham­dulillah, keluarga ikut men­dukung untuk melestarikan topeng barong yang juga men­jadi ciri khas masyarakat Parung maupun Kabupaten Bogor, sebagai identitas warga Be­tawi Ora,” beber Jay.

Setiap perayaan satu Muha­ram, Hari Jadi Bogor hingga 17 Agustusan, Topeng Barong Parung selalu tampil men­ghibur masyarakat. Berbahan bambu yang dibalut kain me­rah dan putih, badan barong terbuat dari kayu bambu yang kemudian diarak keliling kam­pung.

Di balik kisahnya kini yang selalu menghibur masyarakat, ada cerita kelam sewaktu za­man penjajahan Belanda. Konon topeng barong ini sempat mau diambil sang penjajah. Beruntung, kakek buyut Jayadi menyembunyi­kannya di atas langit-langit rumah lantaran ingin mem­pertahankan warisan leluhur­nya tersebut. ”Dahulu ada tiga topeng, namun topeng ketiga yang bernama si Kom­pan yang merupakan sosok anak dari topeng barong lain­nya hilang,” bebernya.

Semua itu terjadi lantaran dulu topeng-topeng tersebut sempat tidak ada yang men­gurus dari keluarganya. Jaya berharap keberadaan topeng barong terus dilestarikan hingga akhir zaman, sebagai ciri khas Betawi Ora di Kabu­paten Bogor. (yok/run)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *