Kabupaten Bogor Siap New Normal?

by -

METROPOLITAN – Kabar baik datang di tengah berakhirnya masa Pembata­san Sosial Berskala Besar (PSBB) Transisi di Kabupaten Bogor. Tercatat ada penambahan 20 pasien positif corona yang dinyatakan sembuh per Rabu (15/7).

Ketua Gugus Tugas Covid-19 Kabu­paten Bogor yang juga Bupati Bogor Ade Yasin men­gatakan, ke-20 pasien positif yang sembuh paling banyak berasal dari Kecamatan Gunungputri, ya­kni lima orang. Diikuti masing-masing tiga pasien sembuh di Kecamatan Cileungsi, Cibi­nong dan Tajurhalang. ”Lalu masing-masing satu orang pasien sembuh di Sukaraja, Babakanmadang, Ciampea, Ciomas dan BojongKecamatan Gunungsindur, gede,” kata Ade Yasin. ­

Menurut politisi Partai Persa­tuan Pembangunan (PPP) itu, penambahan pasien positif tersebut juga menambah ba­nyak orang yang sembuh dari virus corona sejak PSBB Transi­si berlaku sejak Jumat (3/7). Di mana total ada 124 pasien po­sitif dinyatakan sembuh. ”Sejak 7 Juni ada terus yang sembuh dari pasien positif. Tren jumlah yang sembuh naik terus. Mudah-mudahan bagus jelang Adap­tasi Kebiasaan Baru (AKB) nanti. Secara total, pasien sem­buh sudah berjumlah 237 orang,” ucapnya.

Ditanya soal Kabupaten Bo­gor apakah akan menerapkan New Normal, Ade Yasin menga­ku belum mengetahuinya karena harus dilakukan eva­luasi di masa akhir PSBB Transisi. Sementara itu, kasus positif di Kabupaten Bogor hingga akhir PSBB Transisi ini juga masih naik terus dan me­nyentuh angka total 415 kasus. Dengan 175 orang di antaranya berstatus positif aktif.

”Dari jumlah itu, pasien po­sitif yang dinyatakan mening­gal dunia ada 20 kasus. Se­cara umum hingga Rabu (15/7), jumlah Pasien Dalam Penga­wasan (PDP) totalnya berjum­lah 2.142 kasus, dengan 112 orang di antaranya berstatus PDP aktif. Sedangkan total Orang Dalam Pantauan (ODP) totalnya mencapai 1.720 kasus, dengan 19 orang masih ber­status ODP aktif,” ujar AY, sa­paan karibnya.

Sekadar diketahui, sebelum­nya Presiden Joko Widodo memberikan karpet hijau bagi daerah yang ingin mene­rapkan AKB atau New Normal. Namun, Jokowi menyebut setidaknya ada lima syarat utama yang harus dipenuhi sebuah daerah jika ingin mu­lai menerapkan normal baru atau New Normal saat pan­demi corona.

Di antaranya pemerintah daerah harus memastikan ma­syarakatnya siap kembali ber­aktivitas dengan gencar mela­kukan sosialisasi protokol kesehatan produktif dan aman Covid-19. Lalu pemerintah daerah harus benar-benar merujuk pada data yang dimi­liki Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19 Nasional untuk memperhitungkan kapan bisa memulai fase New Normal.

Kemudian pemerintah dae­rah tidak bisa langsung mem­buka semua aktivitas warga karena harus diperhitungkan kesiapan dari setiap sektor agar tidak terjadi gelombang kedua kasus pandemi Covid-19. Lalu pemerintah daerah untuk memperkuat koordinasi penanganan Covid-19 mulai dari tingkat tertinggi di Forum Koordinasi Pimpinan Daerah (Forkopimda) hingga tingkat desa, RT dan RW.

Terakhir, pemerintah daerah harus melakukan evaluasi ru­tin untuk memperbarui infor­masi terkini terkait penanganan Covid-19. Jika penerapan New Normal justru kembali mening­katkan kasus di daerah tersebut maka PSBB harus kembali dilakukan. ”Saya ingatkan jika dalam perkembangan ada ke­naikan kasus baru maka langs­ung akan kita lakukan penge­tatan atau penutupan kem­bali,” tegas Jokowi, beberapa waktu lalu. (ryn/b/rez/run)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *