Kembangkan Vaksin Corona saat Hamil

by -

Pandemi Covid-19 saat ini masih belum juga terselesaikan. Salah satu cara yang dapat dilakukan untuk menghentikan pandemi adalah dengan menemukan vaksin corona. Itulah mengapa saat ini banyak ilmuwan yang sedang berlomba-lomba untuk menemukan vaksin virus corona, salah satunya ilmuwan wanita asal Indonesia, Frilasita Aisyah Yudhaputri MbiomedSc.

Menariknya, Frilasita be­kerja di tengah kondisi tengah mengandung. Ia tergabung dalam Lembaga Biologi (LBM) Eijkman sejak 2008. Saat ini ia menjadi koordinator yang mengepalai proyek di dalam Emerging Virus Research Unit (EVRU) LBM Eijkman Indo­nesia.

”Sebetulnya pada saat pan­demi ini memang sudah se­dang hamil, jadi sudah sedang mengandung. Alhamdulillah, kehamilan saya bisa dibilang lebih mudah daripada bebe­rapa kehamilan lainnya. Jadi mungkin nggak ada mual, nggak ada capek dan seper­tinya bayinya juga mau jadi peneliti kali ya, ikut mau men­dukung,” kata Frilasita.

Frilasita mengaku tidak men­galami kesulitan berarti se­lama bekerja di saat dirinya tengah hamil. Hanya saja karena hamil, dirinya perlu sedikit membatasi pekerjaan­nya dan tidak diperbolehkan untuk masuk laboratorium.

”Sayangnya saya mungkin nggak bisa mewakili secara umum ibu hamil ya karena memang kehamilan saya juga agak anomali, mungkin karena saya di Eijkman, tidak terlalu berpengaruh terhadap hormon dan sebagainya. Justru malah saya baru tahu hamil itu juga setelah empat bulan kayaknya,” ucap Frilasita.

Wanita yang kini sedang melakukan riset mengenai Whole Genom Sequencing (WSG) SARS-CoV-2 untuk menemukan vaksin corona itu mengaku bahkan baru mengetahui jika tengah hamil ketika usia kandungannya sudah menginjak empat bu­lan. Itu menandakan bahwa ia telah melewatkan fase mual tanpa merasakannya sedikit pun.

Namun bukan itu saja yang menjadi alasan mengapa di­rinya masih tetap aktif be­kerja untuk menemukan vaksi corona saat tengah ha­mil. Faktor lingkungan tempat kerja juga menjadi alasannya terus bertahan walaupun saat ini sedang terjadi pandemi corona dan dirinya sendiri tengah hamil.

”Suasana di tempat kerja saya memang homie, friendly dan semua saling mendukung. Itu saya rasa menjadi poin penting di sebuah lembaga penelitian yang pressurenya tinggi, ting­kat kegagalannya tinggi. Na­manya research, kita saling mendukung, saling back up, saling bantu trouble shoohing. Itu akhirnya yang membuat saya tetap bisa bertahan,” pungkas Frilasita. (dtk/rez/run)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *