Pafesta Diontrog Ormas

by -

METROPOLITAN – Pasar Festival Pariwisata (Pafesta) di Kelurahan Cisarua, Kecamatan Cisarua, diontrog ratusan ormas. Mereka adalah kelompok yang digerakkan PT Dwi Tunggal Teknis Utama (DTTU) sebagai kontraktor awal pembangunan Pafesta pada 2010. Aksi tersebut dilakukan sebagai upaya PT DDTU menuntut pembayaran pekerjaan yang sudah 10 tahun ini tidak ada kejelasan dari pengelola pasar, yaitu PT Guna Persada (GP).

Site Manager PT DDTU, Saeful, mengatakan, selama kontrak kerja pada 2010 dibuat hingga selesainya pekerjaan pasar yang digadang-gadang menjadi pasar pariwisata ini, pengelola (PT Guna Persada, red) belum juga memenuhi kewajibannya membayar pembangunan Pasar Pafesta dengan total nilai Rp12 miliar. Itu belum termasuk ganti rugi 1,5 persen per bulan. “Hari ini (kemarin, red) saya minta kepastian dari PT Guna Persada kapan uang itu akan dibayarkan,” ujar Saeful.

Namun sayangnya, PT GP hanya diwakilkan para marketing yang tidak bisa memutuskan persoalan ini. ”Saya hanya bertemu orang yang tidak kompeten, jadi percuma mereka tidak bisa memutuskan,” ungkapnya.

Meski demikian, dari penuturan perwakilan PT GP, persoalan ini akan dikuasakan kepada legal perusahaan. ”Iya kita diminta menunggu bagian legal yang katanya mau datang,” ujarnya.

Namun hingga pukul 15:00 WIB, bagian legal yang dijanjikan belum juga menunjukkan batang hidungnya. ”Kita tunggu hari ini (Rabu, 7/7). Kalau tidak bisa memutuskan, kita akan memaksa pedagang yang sudah masuk keluar atau ditutup,” tegasnya.

Sepuluh tahun ini, PT DTTU baru menerima pembayaran hanya 40 persen. Sementara sisanya jika dihitung dengan total kerugian 1,5 persen per bulan di kali 10 tahun bisa mencapai Rp20 miliar lebih. ”Ya bayangkan, sepuluh tahun ini kita baru menerima 40 persen pembayaran. Kalau dihitung dengan total kerugian bisa mencapai Rp20 miliar,” bebernya.

Setelah selesai pekerjaan, tambah dia, belum ada yang namanya serah terima pekerjaan dari kontraktor kepada penanggung jawab atau pengelola. Selama ini hanya berjalan masing-masing. ”Saya menunggu pembayaran. Pengelola terus melakukan transaksi penjualan kios, padahal kondisi kios terus bermasalah,” terangnya.

Sementara itu, perwakilan PT GP, Fauji, mengaku tidak bisa memberikan jawaban, karena hanya sebagai marketing. Sebab, untuk meminta pembayaran pekerjaan kepada kontraktor itu bukan wewenangnya. ”Bagian legal sudah dikontak, katanya mau datang, dia yang bisa memutuskan,” terangnya.

Terkait adanya rencana penutupan Pafesta oleh kontraktor, pihaknya menyerahkannya kepada bagian legal. ”Ya itu urusan bagian legal,” tandasnya.(ash/c/feb/py)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *