Santri tak Wajib Rapid Test

by -

METROPOLITAN – Gubernur Jawa Barat (Jabar) Ridwan Kamil menyrooti soal Kegiatan Belajar Mengajar (KBM) yang saat ini sebagian sudah berlangsung di pesantren.

Ridwan Kamil menyatakan, meski secara tegas tidak mewajibkan santri melakukan rapid test, pihaknya mengimbau agar santri tetap menjalani rapid test untuk mencegah hal-hal yang tidak diinginkan.

“Itu (rapid test, red) tidak wajib, tapi kalau bisa dilakukan tentu lebih afdal, kira-kira bahasanya gitu,” katanya.

Pemerintah Provinsi (Pemprov) Jabar mengeluarkan Keputusan Gubernur (Kepgub) Jabar No: 443/Kep.321-Hukham/2020 tentang Protokol Kesehatan untuk Pencegahan dan Pengendalian Covid-19 di lingkungan pondok pesantren.

Keputusan itu di antaranya telah mengatur protokol kesehatan umum, protokol di tempat belajar, protokol di kobong (penginapan santri, red), protokol di tempat makan, protokol di kantin, hingga protokol jika ada indikasi Covid-19 di pesantren.

Emil mengaku pihaknya telah mengizinkan ponpes untuk kembali dibuka dan menerima santri dengan persyaratan protokol kesehatan. Sebab, kurikulum dan sistem belajar di ponpes berbeda dengan sekolah formal. Sehingga dipersilakan bagi pesantren yang ingin kembali menjalankan proses pengajarannya. “Semua (ponpes, red) sudah bergerak hampir 90 persen kecuali sekolah umum,” kata Emil.

Namun, dibukanya ponpes tak berarti mengizinkan sekolah formal dibuka. Sebab, proses belajar sekolah formal harus dibuka secara serentak. “Kalau pesantren sudah mulai dipersilahkan tapi kalau sekolah menunggu ada zona hijau yang disepakati baik level kota, provinsi dan pusat,” terangnya.

Pengasuh Ponpes Al Falakiyah, KH TB Asep Zulfiqor, mengaku pihaknya telah memulai membuka pendaftaran santri. Namun, saat ini santri baru belum diperbolehkan untuk masuk ponpes. “Sudah lama dibuka tapi kita belum pikirkan kapan mereka masuknya, bisa saja Agustus,” kata KH TB Asep. (ogi/c/feb/run)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *