Selamat Tinggal Istriku… (11)

by -

NANTI kalo perlu apa-apa panggil suster aja ya! Ayah ngatuk dan cape, jangan bangu­nin ayah ya!” Dengan isyarat lemah ia mengi­yakan permintaanku, ia mengusap tang­anku kemudian menuliskan sesuatu “ayah tidur aja gapapa kok, bunda juga mau isti­rahat.”

Rabu, 14 Mei 2008 …

Entah mengapa pagi ini aku sangat ingin merawatnya. Ketika ia kembali diserang diare berkali-kali yang sangat hebat aku sendiri yang membersihkan semuanya. Kemudian memandikannya dan meng­ganti pakaiannya. Pagi itu aku minta Lia anak sulung kami yang masih duduk di kelas 5 SD untuk menjaga bundanya, sebe­lum kemudian aku tinggal berangkat kerja.

Siang pukul 11 Lia menelpon “Ayah, bun­da pingsan nafasnya cepet banget.” Aku kaget dan sangat khawatir. Selang 15 menit Lia sms “bunda sekarang ada di ruang ICU”. Astaghfirullah haladziim… apa yang terjadi pada istriku. Segera aku minta izin mening­galkan kantor.

Di Rumah Sakit aku dapati Lia menangis sesegukan tak berhenti. “bunda yah… to­longin bunda yahh….!”

Kuhampiri istriku yang tergolek taksadar­kan diri. Perawat memasang semua perala­tan pada tubuh istriku, entah alat apa saja ini. Kuusap perlahan keningnya, dingin sekali. Tangan dan kakinyapun sangat ding­in. Hingga menjelang maghrib aku tak be­ranjak dari sampingnya. Tak hentinya mu­lut ini memanjatkan doa. Sementara di luar ruang ICU sudah banyak kerabat ber­datangan.

Tekanan darahnya sangat rendah dibawah 70. Dokter memberikan obat penguat teka­nan darah dengan dosis tinggi.

Tekanan darahnya sempat naik namun masih dikisaran 75-80, sangat rendah. Ber­kali-kali dokter menyuntikkan obat perangs­ang namun hasilnya tetap sama tak berubah.

bersambung

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *