Selamat Tinggal Istriku… (9)

by -

“ke Sawangan aja rumah kita sendiri,” ja­wabnya melalui secarik kertas. Namun ter­nyata dua hari kemudian ia mengalami diare yang hebat ini adalah efek samping dari obat kemo, sehingga kondisinya kem­bali lemas. Rencana pulangpun harus dit­unda menunggu kondisinya membaik. Tetapi makin hari kondisi istriku makin drop. Hingga menjelang kemo tahap kedua malah albumin dalam darahnya menurun.

Selama dirawat istriku meminta agar saya sendiri yang memandikannya, bahkan aku juga yang membersihkan kotorannya. Se­muanya saya kerjakan dengan telaten ka­rena aku merasa sekarang saatnya untuk membalas semua kebaikan yang telah dila­kukannya kepadaku selama ini. Ketika istriku sehat dialah yang selalu merawatku, menemaniku dan selalu menyiapkan semua kebutuhanku.

Selama hampir satu bulan di Rumah Sakit kami merasa menemukan keluarga baru. Keakraban terjalin antara kami dengan team dokter, dengan para suster bahkan juga dengan cleaning service yang tiap hari mem­bersihkan kamar istriku. Saya merasa senang ketika suatu hari istriku dapat tertawa riang bercanda dengan para suster meski tawanya tanpa suara.

Minggu, 4 Mei 2008 …

Kemo tahap ke 2 dilakukan. Sepertinya Allah benar-benar menguji kesabaranku. Ketika hendak dilakukan kemo, tabung in­fus 1000cc yang digunakan untuk campuran obat kemo ternyata tidak ada.

Rumah sakit kehabisan stock, dan ini ada­lah sebuah kecorobohan yang mestinya tidak terjadi.

Karena tentunya pihak rumah sakit telah mengetahui jadwal pelaksaan kemo ini.

Dokterpun marah.

Kemudian Dokter menyarankan saya un­tuk segera membeli sendiri tabung infus di tempat lain.

bersambung

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *