Tabungan Siswa Rp1 Miliar Lenyap di Sekolah

by -

Gedung SMA Plus PGRI Cibinong mendadak ramai, kemarin siang. Puluhan orang tua murid mendatangi sekolah yang berlokasi di Kelurahan Ciriung, Kecamatan Cibinong, Kabupaten Bogor, tersebut. Kedatangan mereka untuk mempertanyakan uang senilai Rp1.032.000.000 dari potongan dana tabungan siswa kelas 12.

UANG Rp1.032.000.000 itu merupakan dana yang harus­nya dikembalikan pihak se­kolah atas tabungan siswa. Tabungan tersebut rencana­nya akan digunakan untuk berbagai kegiatan sekolah, seperti study tour, perpisahan, perpustakaan, asuransi dan dana PIP yang setiap tahun dibayar orang tua murid. Namun karena pandemi Co­vid-19, kegiatan-kegiatan tersebut urung dilaksanakan.

Uang tersebut juga merupa­kan tabungan dari total Rp2.580.000.000 yang dikum­pulkan dari 645 siswa kelas 12. Di mana setiap siswa mem­bayar Rp4 juta untuk berbagai kegiatan. Namun bukannya dikembalikan full, pihak se­kolah hanya mengembalikan dana tersebut sekitar 60 per­sen per siswa. Para orang tua pun mempertanyakan sisa uang tersebut.

Seperti yang diungkapkan salah satu orang tua siswa ke­las 12, Selvia. Ia mengaku awalnya para orang tua murid hanya menuntut ke mana la­rinya uang dana tour hasil tabungan siswa yang tidak dikembalikan penuh. Terny­ata potongan uang pengem­balian itu tidak hanya dana tersebut, namun juga dana perpisahan, asuransi dan PIP.

”Tuntutan awal hanya itu. Tapi ada dana lain yang di­duga digelapkan sekolah juga. Ada dana perpisahan, per­pustakaan, asuransi dan dana PIP yang tiap tahun kami bayar. Tapi nggak ada infor­masi jelas ke mana uang yang harusnya kembali penuh. Ya dipotong,” katanya kepada pewarta, kemarin.

Ia mengaku datang ke seko­lah tersebut bukan kali per­tama. Bahkan, kedatangannya kemarin untuk menyampaikan somasi yang ketiga kalinya, setelah dua somasi sebelum­nya tidak mendapat jawaban memuaskan.

”Kami minta penjelasan saja. Somasi kedua sudah di­jawab tapi nggak masuk akal, penjelasan lewat YouTube. Kan kami menyerahkan ku­asa hukum dan ada alamat kantornya,” keluhnya.

Selvia menambahkan, dana yang sudah dibayarkan orang tua siswa kelas 12 yang ber­jumlah 645 orang itu total kurang lebih Rp4 juta per siswa. Sebetulnya para orang tua siswa memaklumi jika ada pemotongan dana pengem­balian. Namun, jumlah yang dipotong tidak masuk akal. Bahkan cuma 60 persenan dari dana yang disetorkan.

”Misalnya uang tour itu bayar Rp2,4 juta. Dikembali­kan cuma Rp1 juta. Uang per­pisahan bayar Rp300 ribu, cuma dikembalikan Rp100 ribu. Oleh dana tour sudah dipotong uang kaos, masa segitu yang dipotongnya? Ya transparan saja, pemotongan­nya nggak jelas. Kita minta konfirmasi itu,” ujar Selvia.

Sementara itu, kuasa hukum orang tua siswa, Victor Hari­anja, menilai ada ketidakwa­jaran dalam proses kelulusan anak kelas 12. Karena itu, pi­haknya sudah melayangkan dua somasi, namun tidak mendapat jawaban memuaskan. Alhasil, pihaknya melayangkan somasi ketiga pada Rabu (29/7).

”Kami ingin ada klarifikasi. Jika memang yang disampai­kan benar, ya berikan bukti-buktinya saja. Kenapa dikla­rifikasi lewat YouTube? Ma­kanya kita somasi lagi. Tapi nggak boleh masuk dan dite­rima wakasek saja,” katanya.

Jika somasi ketiga belum juga dijawab pihak sekolah, ia menegaskan pihaknya bakal membawa kasus terse­but ke ranah hukum. ”Kita ketemu di pengadilan. Kami akan buat surat pengaduan tentang somasi kami. Surat kami sudah ke Kemendikbud, Kejari, Kapolres. Kami turun minggu depan,” tegas Victor.

Menanggapi hal itu, Wakil Kepala Sekolah Bidang Sara­na Prasarana SMA Plus PGRI Cibinong, Fredi Siahaan, yang menemui para orang tua mu­rid, mengaku sudah menjawab somasi yang dilayangkan ke­pada sekolah. Termasuk me­manggil dan membuat klari­fikasi melalui media sosial (medsos) YouTube.

Namun, ia enggan membe­berkan lebih lanjut dan me­nyarankan pewarta untuk mengambil keterangan dari klarifikasi di medsos. ”Kami sudah sampaikan di medsos klarifikasinya. Yang jelas kalau somasi ketiga ini, kita terima,” katanya.

Sementara itu, pantauan Metropolitan di Chanel YouT­ube bernama SMA PLUS PGRI CIBINONG, Kepala SMA Plus PGRI Cibinong, Basyaru­din Thayib, menjelaskan ada enam poin jawaban atas so­masi para orang tua murid. Di antaranya; seakan-akan dana tour yang memotongnya ada­lah sekolah ini, salah dan ke­liru. Lalu tentang biaya UNBK, pada pertemuan Agustus dengan orang tua siswa, sebe­narnya sudah disampaikan dan itu adalah biaya persiapan UNBK, ujian sekolah, ujian praktik dan lain sebagainya.

Kemudian tentang dana perpisahan, sekolah hanya mengenal pelepasan siswa dan biaya diberatkan kepada kelas 10 dan 11. Lalu dana asuransi sekolah mengambil jangka waktu satu tahun. Se­lanjutnya dana KIP sekolah sama sekali tidak memotong, bahkan terlibat pun tidak. Dan dana BIP atau KIP sudah di­ambil siswa. Terakhir, dana perpustakaan, setiap sekolah memiliki kebijakan masing-masing dan pihaknya sudah merinci secara global dana yang diterima untuk angga­ran apa saja yang ditetapkan.(ryn/cr1/c/rez/run)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *