Berland, Dulu Pasukan Khusus Belanda, Kini Sarang Narkoba

by -

METROPOLITAN.ID – Hari-hari belakangan, Kampung Berland, Kelurahan Kebon Manggis, Kecamatan Matraman, Jakarta Timur (Jaktim), ramai diberitakan media massa. Pemberitaan yang dimaksud membuat Kampung Berland semakin tercemar, bukan terkenal.Betapa tidak yang diberitakan adalah polisi melakukan penggerebekan bandar narkoba namun para bandar dan pendukungnya melawan dengan membacok polisi yang menyebabkan seorang polisi dan seorang informan polisi tewas dan satu polisi lainnya mengalami luka serius.Dari sejumlah literatur ditemukan, nama Kampung Berland berasal dari dua kata yakni bear dan land. Bear artinya beruang, dan land artinya tanah. Penjajah Belanda memberi nama pasukan khususnya (tentaranya) di Indonesia dengan nama Bearland. Pasukan khusus ini diasramakan di Kampung Matraman, waktu itu, dan nama kompleks untuk pasukan Belanda itu adalah Bearland. Karena masyarakat susah menyebut ejaan Bearland, maka mereka hanya menyebut berland, sehingga sampai sekarang disebut Kampung Berland bukan Kampung Bearland. Ketika Indonesia merdeka, asrama khusus tentara Belanda ini diambil alih oleh TNI yang kemudian asrama Belanda ini ditempati pasukan Zeni TNI. Sehingga tidak heran, sampai saat ini, masih ada rumah-rumah panjang dan besar di Kampung Berland, yang dulunya ditempati TNI. Namun, saat ini, hampir semuanya tidak ditempati TNI tetapi oleh anak atau cucu TNI bahkan dikontrakan kepada masyarakat biasa.Komandan Detasemen Polisi Militer/II (Dandenpom/II) Letkol Joni Kuswaryanto mengatakan, Kompleks Berland saat ini memang banyak dihuni warga luar yang non TNI. “Dulu memang asrama untuk TNI aktif, tapi sekarang dihuni pensiunan TNI dan banyak orang luar. Ada juga yang sudah campur, dulu bapaknya TNI sekarang sudah dihuni anak cucunya,” ujar Joni beberapa waktu lalu.Bentuk atap memanjang menyerupai barak itu, menurutnya, adalah ciri khas bangunan milik TNI. Ia tak membantah jika kompleks tersebut mestinya tak boleh lagi dihuni anggota TNI yang sudah tidak aktif apalagi warga sipil. “Aturannya memang tidak boleh karena harusnya yang boleh menempati kompleks TNI hanya anggota yang masih aktif. Bahkan yang pensiun TNI saja harusnya sudah tidak boleh di situ lagi,” tuturnya.Disinggung apakah ada rencana untuk penertiban kompleks tersebut, menurut Joni, rencananya sudah ada sejak lama. “Saya yakin sudah ada wacana itu, memang harus ditertibkan. Panglima (TNI) pun sudah memerintahkan, apalagi dipakai untuk transaksi narkoba seperti ini,” ucapnya.Kepala Penerangan Kodam Jaya, Kolonel Inf Heri Prakosa pun mengakui adanya sejumlah oknum yang menyewakan rumah dinas tersebut. Bahkan beberapa di antaranya menjadikan rumah dinas sebagai indekos. “Memang kemudian bangunan itu dibangun sendiri tanpa izin. Jadi lahan bisnis, malah saat dirazia, camat yang dimarahi penghuni,” katanya.Pihaknya pun akan seger mengambil tindakan tegas agar Kompleks Berlan tidak seperti Kompleks Batalyon Siliwangi, Cililitan yang pernah ditertibkan. Menurut Heri, Kompleks Batalyon Siliwangi, dulunya juga dikenal sebagai sarang kriminal hingga tidak ada aparat penegak hukum yang berani memasuki kawasan tersebut. “Ini akan jadi bahan evaluasi. Jangan sampai Berland seperti Kompleks Batalyon Siliwangi yang menjadi lokasi aman bagi pelaku kriminal,” tegasnya.

Sarang Narkoba
Penggerebekan bandar narkoba di Jalan Slamet Riyadi IV yang membuat Bripka Taufik dan informan polisi bernama Japri ditemukan tewas tenggelam di Sungai Ciliwung, dan Iptu Hariadi Prabowo luka dibacok bandar narkoba, membuat masyarakat prihatin. Prihatin yang pertama tentu karena polisi harus tewas dan luka dibacok bandar narkoba dan kedua karena sejak lama Kampung Berland menjadi sarang pemakai dan pengedar narkoba namun sepertinya sulit diberantas.Mantan Jaksa Agung, Abdurrahman Saleh, misalnya mengakui, sejak kakeknya masih hidup, Kampung Berland sudah menjadi sarang narkoba. Abdurrahmah Saleh binggung mengapa sampai saat ini Kampung Berland masih menjadi sarang narkoba. “Pasti ada yang salah di negara ini. Kok di tengah kota seperti Kampung Berland itu sulit diberantas narkobanya,” kata mantan aktivis LBH Jakarta ini, kepada pers beberapa waktu lalu.Sumiati, Ketua RW 03, Kebon Manggis, mengatakan, pusat transaksi narkoba itu justru terjadi di Jalan Slamet Riyadi IV, RW 04 yang berbatasan langsung dengan Kompleks Berlan. Di tempat itu pula polisi menggerebek rumah bandar narkoba, Mami Yola, pada Senin (18/1).Akses jalan yang sempit membuat para pembeli barang haram itu akhirnya memarkirkan kendaraannya di Kompleks Berland.Sumiati mengaku telah menandai siapa saja pembeli yang kerap datang ke kampungnya untuk mencari barang haram tersebut. “Mereka ini pendatang, entah dari mana. Saya gerah melihat mereka, makanya kita sweeping, tapi masih ada saja lagi,” tuturnya.Penghuni di Kompleks Berland pun, menurut Sumiati, banyak yang berasal dari pendatang. Tak sedikit pula yang seperti dirinya, anak purnawirawan TNI yang menempati rumah dinas milik orang tuanya. Ia mengaku sering meminta pada RT untuk mendata warga yang mengontrak atau sewa rumah di Kompleks Berland. “Isinya sekarang ya purnawirawan.Ada yang sudah meninggal, kemudian ditempati anak-anaknya, bahkan sampai cucu. Tapi saya keras ke RT, kalau ada yang kos atau kontrak tolong diperhatikan, karena aturannya kan memang tidak boleh disewakan,” ujarnya.Pensiunan PNS ini pun sering berkoordinasi dengan polsek maupun aparat keamanan setempat untuk mengamankan para pendatang yang masuk ke wilayahnya.Ade Badak, bandar narkoba yang tewas ditembak polisi, diakui Sumiati termasuk pendatang yang kerap berkunjung ke Kompleks Berland. Ia mengaku tak tahu dari mana asal pria yang memiliki tato di lengannya itu.
Ade Badak kerap datang ke Kompleks Berland sambil membawa-bawa senjata api (senpi). “Ade Badak itu memang suka ke ini, bawa-bawa senpi. Dulu juga pernah saya usir karena nongkrong di sekolahan dekat sini, dia nurut, tapi enggak lama balik lagi,” urainya.Namun perempuan yang telah 65 tahun tinggal di Kompleks Berlan ini mengaku tak kenal dengan Rico, bandar narkoba yang juga tewas ditembak polisi di kawasan Johar, Jakarta Pusat beberapa waktu lalu.Mami Yola, bandar narkoba yang rumahnya digerebek polisi itu pun sebelumnya tinggal di RW 03 Kompleks Berland. Namun, pasca kebakaran yang terjadi September 2015 lalu, Mami Yola kemudian pindah ke rumah petak di bantaran kali Jalan Slamet Riyadi IV yang kemudian digerebek. “Mami Yola itu juga baru sebentar tinggal di sini. Kita enggak begitu kenal karenajarang juga ketemu,” katanyaKendala yang dihadapi Sumiati dan warga lainnya tak hanya karena bebalnya para pendatang itu. Bahkan tak jarang mereka justru lebih galak jika ditegur warga.Disinggung apakah ada oknum TNI yang terlibat dalam transaksi barang haram itu, Sumiati pun tak membantahnya. “Ya sekarang dilogika saja, kalau sampai ada orang yang berani memasok narkoba ke sini, enggak mungkin kalau enggak ada yang backing,” ucapnya.Tak hanya anak muda, menurut salah seorang warga RW 03, Riyanto, para pendatang ini berasal dari berbagai kalangan usia. Mulai dari pengendara sepeda motor hingga mobil pun selalu bermunculan tiap hari. Jalan yang tak begitu luas membuat pendatang kerap memarkirkan kendaraannya jauh dari lokasi. Tak jarang beberapa dari mereka memilih berjalan kaki. “Adajuga dulu yang menggunakan pakaian dinas, terus jalan kaki ke tempat jualan (narkoba), mobilnya enggak tahu parkir di mana,” kata pria yang sejak lahir tinggal di Kompleks Berland.Para pendatang ini kemudian mencari tempat sepi untuk pesta narkoba. Riyanto mengaku beberapa kali menemukan jarum suntik bekas yang masih ada sisa darahnya di tempat terlarang itu. Ia beberapa kali pun berusaha menertibkan, namun para pengguna itu rupanya tak juga kapok.Siti (60) warga RT 07/025, Kelurahan Kebon Manggis (Kampung Berland), Matraman, mengatakan, sudah lama Kampung Berland menjadi sarang narkoba. “Sampai saat ini masih ada saja yang mati karena over dosis pemakaian narkoba di sini,” kata Siti.Irda (38), warga RT 18 / 025, Kebon Manggis (Kampung Berland), mengaku, suaminya beberapa kali masuk penjara karena sering berkumpul dengan pemakai dan bandar narkoba di Berland. “Mereka mengedar dan memakai narkoba di pinggir Sungai Ciliwung,” kata ibu dua anak yang hanya menempati satu kamar kontrakan di Kampung Berland ini.Senada Deta (32), warga RT 18 / 025 Kebon Manggis (Kampung Berland), mengakui, suaminya meninggal dunia sekitar tiga tahun lalu karena over dosis mengkonsumi narkoba. “Suami saya hampir tiap hari konsumsi narkoba dengan jarum suntik,” kata ibu satu anak ini.Karena begitu banyaknya orang mengkonsumi narkoba, terutma lelaki, sering warga Kampung Berland gemar mengambil tindakan kekerasan dan kriminal dalam menyelesaikan masalah. Seperti warga kampung ini sering melakukan tawuran dengan warga Kayu Manis di Jalan Matraman Raya. Karena sering melakukan tawuran, maka pihak TNI mendirikan sebuah mesjid di samping pintu jalan masuk ke Kampung Berland dari Jalan Mataraman Raya.Untuk memberantas sarang narkoba seperti di Kampung Berland, pertama, polisi harus bekerja sama dengan POM TNI karena bisa saja ada oknum TNI yang ikut sebagai bandar narkoba. Kedua, masyarakat harus ikut membantu polisi, seperti rumahnya tidak dikontrakan kepada pemakai atau bandar narkoba, serta memberitahu polisi kalau ada orang yang memakai dan mengedar narkoba.Ketiga, polisi harus tegas memberantas narkoba. Artinya polisi harus menerapkan pasal yang sesuai dalam UU 35 / 2009 tentang Narkotika seperti kalau pengedar atau bandar yang dijerat pakai pengedar dalam UU Narkoba bukan pasal pemakai,” kata dia.Keempat, jaksa dan hakim memvonis pemakai dan pengedar narkoba harus maksimal. Kelima, petugas lembaga pemasyarakatan (lapas) harus membina tahanan dan narapidana narkoba. Bukannya membiarkan mereka tetap memakai dan mengedar narkoba dalam lapas(beritasatu.com)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *