Dari Gorengan sampai Kue Hajatan

by -

METROPOLITAN.ID | PUKUL 04:00 WIB, mata Iyoh yang masih mengantuk dipaksa bangun. Sebab, ia harus mempersiapkan dagangannya. Setelah pukul 06:00 WIB, ia mulai melayani para pembeli. Begitulah rutinitas yang dilakukan ibu dua anak ini setiap pagi selama sepuluh tahun terakhir.
Dengan modal yang tidak begitu besar, yakni Rp200.000, Iyoh membelanjakan uangnya untuk membuat gorengan. Ia paham bahwa keuntungan menjual gorengan tidak bisa diandalkan. Namun setidaknya hasil itu cukup untuk memenuhi kebutuhannya setiap hari.
“Alhamdulillah, ada lah sisanya untuk kebutuhan sehari-hari dan sedikit untuk ditabung,” katanya kepada Metropolitan, kemarin. Iyoh mengaku nyaman menjalani usahanya itu. Meski tidak membuatnya kaya, menjual gorengan sudah cukup untuk menghidupi keluarganya sejak 10 tahun lalu. “Kedua anak saya sudah menikah. Hasil menjual gorengan ini hanya untuk saya dan suami,” jelasnya.
Sementara sang anak, Sri Hasanah (28), rajin membuat kue ulang tahun atau pernikahan yang dipesan dari pelanggannya.
“Bikin kue sudah menjadi hobi saya sejak 12 tahun lalu. Dalam seminggu pasti ada saja yang pesan, entah kue hajatan atau kue ulang tahun,” tambah ibu dua anak itu. (ano/b/feb/py)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *