Pengajian Jadi Warisan Turun-temurun

by -

METROPOLITAN.ID | PAMIJAHAN – Desa Cimayang, Kecamatan Pamijahan, hanya memiliki enam RW, namun di dalamnya terdapat sembilan masjid yang megah. Seluruh masjid tersebut digunakan bapak-bapak mengadakan pengajian bulanan. Pelaksanaannya pun bergilir dari masjid pertama hingga kesembilan.

Kepala Urusan Kesejahteraan Rakyat Desa Cimayang Agus Kurnia mengatakan, pengajian dilakukan untuk menguatkan agama bagi para jamaah yang hadir. Sehingga bisa mengubah keseharian warga menjadi masyarakat yang agamis. “Pengajian kaum pria, keliling setiap bulan, itu sudah rutinitas dari dulu, warisan dari kades-kades sebelum sekarang ini,” ujarnya kepada Metropolitan, kemarin.

Sementara untuk kaum ibu, pengajian dilaksanakan di majelis taklim. Ia menjelaskan, Desa Cimayang memiliki 13 majelis taklim, semuanya digunakan untuk agenda pengajian, baik mingguan maupun bulanan. Menurut dia, pengajian dapat memperkooh tali persudaraan antarwarga Desa Cimayang. Kegiatan bulanan itu juga bisa digunakan sebagai ajang melepas kerinduan antar sesama jamaah pengajian. “Pengajian merupakan budaya agama, tapi di dalamnya banyak hal yang bisa dimanfaatkan, yang utamanya sebagai ajang silaturahmi,” tuturnya.

Sementara itu, Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) Desa Cimayang Udin Saepudin mengatakan, baginya pengajian merupakan tradisi di kampungnya yang dilakukan secara turun-temurun. Banyak pihak yang ingin acara keagamaan itu terus berjalan seperti saat ini. Meski zaman sudah banyak berubah, ajaran agama tetap harus diwariskan kepada para generasi selanjutnya. “Zaman berkembang itu baik, tapi budaya apalagi menyangkut agama tidak boleh ditinggalkan, makanya kami berusaha aktif menggelar pengajian,” pungkasnya. (ano/b/els/wan)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *