Waduh, Bos pasar Diduga KKN

by -

Direktur Utama (Dirut) Perusahaan Daerah Pasar Pakuan Jaya (PD-PPJ) Andri Latif Asikin dituding telah menghambur-hamburkan uang perusahaan. Andri juga diduga telah memanfaatkan jabatannya sebagai pimpinan di perusahaan pelat merah itu untuk ‘mengeruk’ keuntungan pribadi. Tak hanya itu, Andri diduga telah membawa kroni-kroninya dari perusahaan daerah yang sama saat ia bekerja dulu di Kabupaten Bogor untuk membantunya di PD-PPJ.

Sumber Metropolitan menyebutkan, Andri Latif patut diduga telah melakukan praktik Korupsi, Kolusi dan Nepotisme (KKN). Sebab, bos pasar itu dengan sewenang-wenang telah memasukkan sejumlah rekan kerjanya dulu di Kabupaten Bogor untuk bergabung di PD-PPJ. Ini tercermin dari adanya wajah baru yang langsung menduduki posisi strategis di salah satu Badan Usaha Milik Daerah (BUMD) itu. “Bahkan ia pun telah membuat aturan baru bahwa direksi PD-PPJ setiap bulannya mendapat uang bensin untuk operasional Rp1,5 juta per bulan,” ujar sumber yang namanya enggan disebutkan.

Baca Juga  Pesan Terakhir Aiptu Sajarwo Bikin Sedih

Hal ini, kata sumber, berbanding berbalik dengan perkataan Andri Latif yang mengatakan jika saat ini PD-PPJ sedang melakukan efisiensi (pembatasan) penggunaan anggaran. Namun pada kenyataannya, pria berkacamata itu diduga telah bertindak sewenang-wenang. Belum lagi soal penggunaan Dana Representatif (DR) atau dana operasional direksi yang nilainya ratusan juta rupiah.

Sumber Metropolitan yang bertubuh tidak besar ini menyatakan, pengelolaan DR oleh Andri Latif tidak transparan. Jika sebelumnya DR digunakan untuk membeli baju dan pembagian uang Tunjangan Hari Raya (THR) untuk juru parkir di setiap pasar, namun kini dana DR tidak jelas peruntukannya. “Patut diduga DR dimanfaatkan untuk kepentingan pribadi. Sebab, tidak ada keterbukaan soal penggunaan uang ini,” kata sumber.
Menanggapi tudingan ini, ketika dikonfirmasi Dirut PD-PPJ Andri Latif mengatakan, dirinya menambah pegawai sesuai kebutuhan yang ada di perusahaan. Rekrutmen pegawai pun disesuaikan dengan kemampuan keuangan perusahaan. “Kalau memang masih dibutuhkan ya tentunya kita menambah, dengan tentunya memperhatikan kemampuan perusahaan,” kilah Andri Latif kepada Metropolitan.

Baca Juga  Pelototi Burger King Bodong !

Rekrutmen yang dilakukan lantaran melihat masih ada unit-unit pasar yang masih memerlukan tenaga tambahan. Hal itu pun masih dikaji bagian kepegawaian dan direktorat umum sebagai yang membidangi khususnya K3. “Jika memungkinkan pasti melakukan rekrutmen, tetapi kalau tidak kita maksimalkan tenaga yang ada,” terang Andri singkat sambil berlalu dan meninggalkan pewarta.

Terpisah, Ketua LSM Lanskip Abdurahman Saleh menjelaskan, kebijakan yang diambil Andri sebagai dirut PD-PPPJ yang akan meminimalisir pengeluaran perusahaan hanya menarik simpatik saja. Menurut dia, tidak pantas jika dirut PD-PPJ menyatakan hal tersebut jika pada kenyataannya ia malah menghamburkan uang milik perusahaan. “Seharusnya dana taktis seperti dana representatif itu tidak ada. Karena kegunaannya sulit dipertangungjawabkan. Lebih baik dikembalikan ke perusahaan,” paparnya.

Baca Juga  Pasirmulya Jadi Percontohan Lomba Kebersihan

Sementara menurut Abdurahman, uang bensin direksi sebesar Rp1,5 juta per bulan seharusnya merupakan sebuah risiko pekerjaan yang harus ditanggung sendiri, bukan perusahaan. “Kalau yang dapat hanya direksi itu tidak adil. Sedangkan kalau yang dapat semua karyawan dapat membuat rugi perusahaan, sebaiknya itu pun dihapuskan,” katanya. (mam/b/ram/wan)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *