Pascalongsor, Penghasilan Pemulung Berkurang

by -

METROPOLITAN.ID | CIBUNGBULANG – Pascalongsor, ribuan pemulung yang menggantungkan hidupnya dari sisa sampah TPA Galuga di Kampung Moyan, Desa Galuga, Kecamatan Cibungbulang, terkatung-katung.

Seorang pemulung, Junaedi (60), mengatakan, dalam sehari ia hanya mendapatkan uang rata-rata Rp35.000 dari hasil menjual sisa sampah yang didapat dari tumpukan sampah di TPA Galuga. Dengan terjadinya pergeseran sampah, tentu berpengaruh dengan penghasilan pemulung. Sehari, mereka hanya memperoleh Rp15.000.

“Di sini itu lebih dari 1.500 pemulung setiap harinya. Makanya terkadang kami berebut saat truk sampah datang. Kalau sampah Galuga ditutup, mau cari kerja ke mana lagi? Kita harap pemerintah memperhatikan nasib kami,” ujar warga RT 12/06, Desa Galuga tersebut.

Sementara itu, Camat Cibungbulang Iwan Setiawan menambahkan, keberadaan ribuan pemulung tersebut sangat membantu pemerintah dalam mengurangi tumpukan sampah Galuga. Mereka harus hati-hati. Sebab, tumpukan sampah di sini rawan longsor susulan. Sebelum dijadikan tempat pembuangan, di area tersebut danau dan mata air.

Sehingga wajar jika permukaan sampah sering bergerak dan menyebabkan longsor. “Kades Galuga sudah menyosialisasikan kepada pemulung agar tidak mengais sampah di area longsor. Kami juga sudah memasang reklame zona rawan longsor,” bebernya.

Sekadar diketahui, para pemulung bukan cuma dari Kecamatan Cibungbulang saja, ada pula dari luar. Pemerintah juga sudah memberikan pelatihan kepada pemulung khususnya warga Cibungbulang terkait penutupan Galuga. “Kita harap bukan cuma pelatihan yang diberikan kepada pemulung, tapi juga harus difasilitasi market dan modalnya,” tukasnya (ads/b/feb/py)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *