Tradisi Ngabuburit Warga Sukabumi yang Menantang Maut

by -

METROPOLITAN.ID | SUKABUMI-Lain ladang lain belalangnya. Itulah peribahasa yang menggambarkan perbedaan tradisi di setiap daerah.

Seperti halnya cara menunggu waktu buka puasa bagi warga di Kampung Segog Desa Batununggal Kecamatan Cibadak, Sukabumi, Jawa Barat.

Mereka berkumpul di pelintasan kereta api. Tempat yang rawan terjadi kecelakaan. Bagaimana kegiatan ngabuburit mereka?

Rendi Rustandi – Wartawan Radar Sukabumi

Pelintasan Kereta Pangrango di titik 40 Kampung Segog RT 03/02 Desa Batununggal Kecamatan Cibadak selalu ramai setiap sore hari atau menjelang magrib.

Bagaimana tidak, warga setempat dan juga pengendara yang berhenti nampak menyemut seakan tidak takut pada bahaya saat deretan lokomotif (kereta, red) melintas. Ya, mereka berkumpul di perlintasan itu untuk ngabuburit.

Saat wartawan Radar Sukabumi mendatangi tempat ngabuburit itu, tidak ada satu pun mimik pengunjung yang takut akan bahaya. Sejumlah warga dan pedagang tampak santai seolah-olah nyaman melakukan aktivitas menjelang berbuka.

Baca Juga  Rumah Rusak karena Pergerakan Tanah Bertambah

Sebagian menjajakan barang dagangan untuk berbuka puasa, dan sebagian lainnya mengisi dengan mengalihkan nyanyian. Suasana pun jadi ramai di tempat ini.

Bagi sebagian pedagang ini, tempat menjajakan barang dagangan tidak harus kokoh dan juga mewah. Dengan mengandalkan gerobak dan juga keranjang berukuran kecil, mereka berhasil meraup pundi-pundi rupiah.

Setiap barang dagangan khususnya makanan yang dijajakan, selalu habis terjual. Warga setempat dan juga pengendara memburu makanan di tempat itu.

Berdasarkan pengakuan pedagang, aktivitas berjualan di perlintasan kereta ini sudah berlangsung beberapa tahun lalu, bahkan sudah menjadi agenda rutinan setiap bulan Ramadan.

Namun, keramaian saat ini tidak seramai tahun sebelumnya. Hal itu lantaran saat ini warga setempat tidak semuanya berada di kampung halaman.

“Tidak begitu ramai kalau tahun sekarang, beda dengan tahun lalu,” ujar salah seorang pedagang, Ruyani (45) kepada Radar Sukabumi.

Baca Juga  Sebelum Terguling, Truk Kontainer Tabrak 5 Kendaraan

Terkait dengan bahaya kereta, Ruyani menyebutkan warga sedikit pun tidak mengkhawatirkan. Pasalnya, setiap kereta melintas, ada aba-aba yang disampaikan baik oleh penjaga perlintasan kereta api dan suara klakson dari kereta itu sendiri.

Sehingga, warga yang berada di perlintasan langsung menghindar dan meninggalkan perlintasan kereta.

“Apa yang harus ditakutkan. Soalnya, dapat diketahui kalau ada kereta yang akan melintas baik itu dari petugas yang jaga maupun suara keretanya,” aku Ruyani.

Bagi Ruyani dan juga pedagang lainnya, keberkahan Ramadan benar-benar terasa. Pasalnya, dari setiap dagangan yang dijajakan, mereka mendapat keuntungan yang berlipat.

Hal itu tentunya dapat membantu untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari khususnya tambahan bekal untuk menyambut Hari Raya Idul Fitri.

“Alhamdulillah, berkahnya sangat luar biasa. Bisalah buat beli baju anak-anak lebaran nanti,” singkatnya.

Baca Juga  1.251 Warga Kabupaten Sukabumi Naik Haji

Sementara itu, penjaga perlintasan kereta 40 Segog, Haris Sunandar menambahkan, pihaknya tidak bisa melarang warga baik yang menjajakan barang dagangan maupun yang sengaja datang untuk ngabuburit. Pasalnya, berdasarkan data yang dimilikinya, sudah menjadi agenda rutin kegiatan tersebut.

“Kami gak bisa melarang, karena ini sudah menjadi hal yang biasa bagi masyarakat di sini. Yang penting bagi kami, semuanya waspada,” timpalnya.

Diakui Haris, perlintasan kereta api 40 Segog ini merupakan salah satu perlintasan yang rawan terjadi kecelakaan. Pasalnya, perlintasan ini berada di jalan utama arus lalu lintas yang aktivitas kendaraannya sangat padat. Kendati begitu, warga setempat sudah mengetahui dan paham betul waktu kereta melintas.

“Tahun lalu sempat terjadi kecelakaan di sini, semoga saja tahun ini tidak ada. Kami mengimbau kepada semuanya untuk tetap berhati-hati,” singkatny

(jawapos.com)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *