LAPAK OLEH-OLEH DIBONGKAR, VILA LIAR KAPAN

by -

METROPOLITAN – Rencana pembongkaran yang akan dilaksanakan Satpol PP Ka­bupaten Bogor terhadap sejumlah bangunan yang berdiri di Daerah Milik Jalan (Damija) di sekitar Warung Kaleng pada Senin kemarin, ternyata belum terlaksana.

Kendati demikian, sejumlah pemilik bangunan yang diberi surat peringatan oleh Satpol PP Kabupaten Bogor, tetap ketar-ketir. Terutama para Pedagang Kaki Lima (PKL) yang menggunakan Damija sebagai tempat bangunannya.

Usaha untuk menghindari pembong­karan pun dilakukan para PKL, mulai dari memundurkan bangunannya sampai menyurati anggota dewan. Sangat ber­beda dengan pemilik kios elit yang be­rada di sekitar Warung Kaleng, mereka terlihat santai seolah tak akan terjadi apa-apa.

Selain bangunan-bangunan PKL yang berada di Damija, di Puncak juga banyak berdiri bangunan-bangunan vila di lahan-lahan konservasi atau lahan kawasan lindung bahkan di lahan Perhutani. Me­ski beberapa kali polisi penegak perda itu menyegel bangunan tersebut, sampai kini belum pernah ada pembongkaran.

Seorang pedagang di Lapak Batu Lay­ang, Iman mengatakan, mereka hanya berusaha menyampaikan pendapat ke Pol PP untuk memahami kondisi eko­nomi mereka saat ini. ”Kami coba mun­durkan bangunan kami, mudah-muda­han saja tidak kena bongkar,” harapnya.

Usaha lain pun dilakukan pedagang lain, Nazierin. Dia mencoba menyurati anggota DPRD Kabupaten Bogor meski sampai kini belum ada balasan. ”Kami hanya menginginkan penangguhan pembongkaran saja sampai kami me­miliki bangunan yang berdiri di lahan yang semestinya,” pintanya.

Kabid Dalops Satpol PP Kabupaten Bogor Asnan mengaku tetap akan mem­bongkar lapak-lapak PKL yang berdiri di Damija. ”Untuk bangunan yang ber­diri di Damija dan Rumija tetap akan dibongkar. Tetapi kalau untuk lahan pribadi akan dikaji lagi,” pungkasnya.

(ash/b/sal/run)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *