Berada di Tengah Warga, BTS di Kota Depok Akan Tetap Dibongkar!

by -

Metropolitan – DEPOK – Sikap tegas warga RT01/01 Kelurahan Pasir Gunung Selatan (PGS), Cimanggis, agar base transceiver station (BTS) yang berdiri di Jalan Swadaya tetap dibongkar, disampaikan di depan pengelola BTS.

“Warga tetap komitmen, bahwa BTS harus dibongkar dan disetujui pengelola BTS. Itu hasil rapat,” kata Wagiran, Ketua RT01/01, usai pertemuan
dengan pengelola BTS, Sabtu (3/9/2016).

Keinginan warga sudah bulat dan tidak bisa diganggu gugat. Sebab, kata Wagiran, warga tidak membicarakan masalah kompensasi, tetapi lebih kepada keselamatan jiwa.

“Sikap warga meminta agar tetap dibongkar. Ini sudah pertemuan ke 12 kali. Itu pun kami kirim ke kelurahan, kecamatan, pengelola BTS dan walikota. Hasil dari pertemuan walikota seminggu lalu bahwa walikota mengatakan silahkan dikembalikan ke warga,” tegas Wagiran.

Sebelum BTS dibangun pada 2004, lingkungan RT01/01 adem ayem. Tetapi sejak berdirinya BTS, warga menjadi cemas. Terlebih saat hujan, petir menjadi lebih sering terjadi di dekat BTS.

“Dulu sempat didata, ada 32 item barang yang rusak tersambar petir, seperti televisi, mesin cuci, telepon, meteran PLN dan lainnya. Bahkan ada (warga) yang pingsan juga,” katanya.

Wagiran melanjutkan, yang selama ini menjadi kekhawatirkan saat hujan turun warga selalu mematikan seluruh alat elektronik.

“Kalau hujan mayoritas mematikan listrik, takut petir nyambar,” katanya.

Ia mengatakan, BTS milik Indosat tersebut berdiri pada 2004, dan ada perpanjangan kontrak pertama di 2009 hingga 2014. Namun pada 2015, warga tidak tahu ada perpanjangan kontrak lagi.

“Tahu-tahu kontrak diperpanjang sampai 2019,” sambungnya.

Sementara, salah seorang warga RT01/01, Juwandi, mengatakan mencuatnya penolakan warga sebenarnya terjadi pada 2013, karena ada perangkat yang mau dinaikan tiga item seberat 1,05 ton ke tower BTS setinggi 55 meter.

“Itu minta ditaruh di paling atas. Kalau hujan saja towernya terlihat goyang, apalagi jika itu benar-benar dinaikan. Dari sana warga menolak untuk dipasang,” katanya.

Kata Juwandi sebenarnya dalam rapat pada hari Sabtu (3/9/2016), pihak pengelola BTS mengajukan opsi, yakni recoveri, tingginya dikurangi dan dibongkar. Tetapi suara warga bulat untuk menolak keberadaan BTS.

“Dari pengelola menawarkan tiga pilihan, tapi warga bersikukuh kalau minta dibongkar. Pokoknya tidak diberikan kesempatan berbicara, langsung dipotong,” katanya.

Selain itu, Juwandi melanjutkan, pengelola BTS meminta diberi waktu sampai enam bulan untuk membongkar BTS. Karena butuh waktu untuk mengurus administrasi dan lain sebagainya, tetapi warga meminta segera mungkin dilaksanakan.

“Mulai besok (Minggu, 4/9/2016) sudah ada action, untuk melakukan pembongkaran,” kata Juwandi.

sumber : republika

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *