RELOKASI PKL PUNCAK CUMA KHAYALAN

by -

CISARUA – Puing-puing bekas pem­bongkaran PKL Batulayang, Puncak, masih berserakan. Hal itu pun menore­hkan luka mendalam bagi pedagang oleh-oleh. Mereka hanya bisa melihat lapak yang dijadikan untuk mencari nafkah kini tinggal cerita. Padahal, pem­bongkaran bangli Puncak menjadi am­bisi Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Bogor guna menertibkan Puncak dari pedagang liar. Namun ironisnya, selain puing berserakan, pemkab seolah tak punya solusi bagi pedagang yang saat ini menjadi pengangguran.

Buruknya kinerja pemkab dalam me­nertibkan bangli yang tanpa solusi, membuat Koalisi Kerakyatan Bogor Se­latan (KKBS) Ahmad Rendra angkat bicara. Menurut dia, apa yang dilakukan pemkab dalam upaya menertibkan bangli Puncak dinilai sebuah arogansi. Sebab, pemangku kebijakan di Bumi Tegar Be­riman dinilai telah memperlakukan pe­dagang tak lebih seperti binatang. ”Ke­napa saya bilang begitu, kenyataannya pemkab hanya bisa mematikan pedagang tanpa menempatkan pedagang untuk bisa berjualan kembali,” tegasnya.

Ia melanjutkan, KKBS tak akan berhen­ti menyuarakan nasib pedagang yang saat ini tidak lagi punya penghasilan pasca pembongkaran beberapa waktu lalu.

Hal senada disampaikan Ketua Pemuda Panca Marga (PPM) Rudi Hasan. Menurut dia, belum usai nasib pedagang yang terbongkar, kini pemkab malah beren­cana kembali membongkar bangli di wilayah Puncak hingga perbatasan Cianjur. ”Kan yang kemarin saja belum selesai, kenapa pemkab berencana membongkar lagi, apa memang sengaja pemerintah mematikan pedagang,” kesalnya. Saat ini, nasib 142 pedagang yang terkena pem­bongkaran belum jelas.

Sebelumnya, Wakil Ketua DPRD Kabu­paten Bogor Ade Munawaroh Yasin me­nolak rencana pembongkaran pedagang Puncak tahap II. ”Kami tidak setuju jika pembongkaran pedagang Puncak dila­kukan tanpa menyiapkan lahan relokasi,” pungkasnya.

(ash/b/sal/py)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *