BLH Baru ‘Engeuh’ Lingkungan TPAS Galuga Tercemar

by -

CIBINONG – Pencemaran lingkungan yang terjadi di sekitar Tempat Pembuangan Akhir Sampah (TPAS) Galuga ternyata baru diketahui Badan Lingkungan Hidup (BLH) Kabupaten Bogor, belum lama ini. Padahal air lindi sampah yang membanjiri lahan pemukiman dan perta­nian milik warga di Desa Cijujung, longsor aki­bat gunungan sampah yang menumpuk dan menimpa lahan warga Desa Galuga serta pen­cemaran udara di Desa Dukuh, telah berlangs­ung bertahun-tahun.

Kepala BLH Ronny Sukmana mengetahui ter­cemarnya lingkungan di sekitar TPAS tersebut dari masyarakat sekitar yang mengatakan langs­ung saat aksi demonstrasi, beberapa waktu lalu. Setelah mendengar hal itu, BLH Kabupaten Bogor berkoor.  dinasi dengan Pemerintah Kota (Pemkot) Bogor terkait pence­maran tersebut.Hal itu lantaran dalam Perjanjian Kerja Sama (PKS), pemkot ikut bertanggung jawab atas pengelolaan TPAS Galuga. “Ya kita tahu bahwa ada pence­maran lingkungan di sekitar TPAS Galuga. Maka kita langsung koordinasikan dengan Pemkot Bogor,” ujar Ronny kepada Met­ropolitan saat ditemui di Kompleks Gedung Sekretariat Daerah Ka­bupaten Bogor, kemarin.­

Karena buruknya pengelo­laan TPAS Galuga tersebut, Ronny mengaku akan menata kembali lingkungan TPAS Ga­luga dengan Dinas Kebersihan dan Pertamanan (DKP), mulai dari melakukan reklamasi, pena­taan dan pemantauan ling­kungan, khususnya di Daerah Aliran Sungai (DAS) Cianten yang menjadi dampak ling­kungan dan tercemar air lindi yang berasal dari TPAS. “Dengan PKS yang baru, nantinya kita akan kembali menatanya ka­rena semua itu ada dalam PKS TPAS Galuga,” terangnya.

Meski BLH Kabupaten Bogor belum mengambil sampel air lindi yang mencemari lahan pemukiman dan pertanian warga, Ronny mengaku dari bau dan warna air yang hitam pun dapat dipastikan bahwa pengelolaan TPAS itu sangat buruk. Ia pun menyayangkan hal tersebut. Padahal menurut­nya banyak hal positif yang dapat dimanfaatkan di TPAS Galuga, seperti gas dari metan­nya, ekonomi kerakyatan be­serta beberapa hal lainnya. “Jika ini dikelola dengan baik, semua ini bakal dirasakan man­faatnya oleh warga sekitar TPAS Galuga. Tetapi karena peng­elolaan yang buruk, jadi im­basnya pun buruk,” paparnya.

Di bagian lain, Ketua Kelom­pok Swadaya Masyarakat (KSM) Cijujung Sehat Abas Ibnu Janim menjelaskan, harusnya DKP Kota Bogor dan Kabupaten Bo gor bisa mengelola TPAS Ga­luga secara baik dari awal dibukanya TPAS, sehingga tidak ada dampak kerusakan lingkungan yang ditimbulkan yang berim­bas kepada kesejahteraan ma­syarakat. Sampai-sampai lim­bah dari TPAS ini membanjiri lahan pemukiman dan perta­nian warga. “Semua ini gara-gara DKP tidak serius dan lambat mengelola TPAS. Kalau DKP baik dalam mengelola TPAS dari awal, mungkin tidak seperti ini,” kata­nya.

 (mam/b/ram/run)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *