Pungli Terminal Dinikmati Pejabat Dishub?

by -

Besaran pungutan liar (pungli) di Terminal Baranangsiang menjadi sorotan sejumlah pihak. Sebab berdasarkan informasi yang dihimpun Metropolitan, pungli yang mencapai miliaran rupiah itu dinikmati oknum pejabat Dinas Perhubungan (Dishub) Kota Bogor.

Pungli di Terminal Baranangsiang terjadi karena kesepakatan pengusaha bus di Terminal Baranangsiang untuk menentukan batas mangkal dengan para oknum di Dishub Kota Bogor.

Terlebih setiap bus yang mangkal lebih lama ini dikenakan biaya setidaknya Rp100 ribu. Hal tersebut merugikan para PO bus yang lainnya, lantaran setiap PO bus saat ini lebih sedikit memberangkatkan bus-busnya lantaran banyak bus yang mangkal lebih lama.

Ternyata, aliran dana pungli yang dipungut dari bus untuk mangkal lebih lama tersebut diduga mengalir kepada salah satu pejabat di Dishub Kota Bogor yang bertanggung jawab di terminal. Sebab tidak ada pejabat yang berwenang mengatur terminal selain UPTD Terminal Baranangsiang itu sendiri.
Kondektur bus Bogor-Bandung Rahmatul Hakim mengatakan, praktik pungli di setiap terminal merupakan hal yang wajar terjadi. Bahkan, praktik tersebut terjadi sudah lama dan terjadi di setiap terminal.

“Apalagi waktu diperbolehkan bus menginap di sini, setiap malam bus yang menginap memang harus membayar kepada petugas dan yang lainnya. Karena kalau tidak gitu kita tidak bisa mendapatkan penumpang yang akan berangkat pagi,” ujarnya kepada Metropolitan.

Baca Juga  GP ANSOR GUNUNGPUTRI GELAR LOMBA HADRAH

Beberapa waktu lalu, kata Rahmat, memang telah disepakati batas waktu mangkal di dalam Terminal Baranangsiang. Menurut dia, hanya disepakati bahwa 30 menit batas maksimal satu bus Bogor-Bandung untuk mangkal di Baranangsiang, namun karena penumpangnya hanya sedikit Rahmat mengaku sering memberikan uang rokok kepada salah satu petugas agar diperbolehkan mangkal lebih lama. “Kalau tidak seperti itu masa kita bawa penumpang dari Bogor ke Bandung hanya tiga orang,” terangnya.

Rahmat pun tidak mengetahui pungli tersebut mengalir ke mana saja. Namun, pungli tersebut pasti mengalir kepada pejabat yang mempunyai kewenangan di Terminal Baranangsiang. “Selain memberikan kepada petugas di lapangan, petugas pos kontrol yang memberitahu keberangkatan bus pun pasti mendapatkan bagian, seperti kepala terminal atau Kepala UPTD Terminal Baranangsiang,” katanya.

Adanya pungli yang dilakukan anggota dishub ternyata bukan kali pertama. Sebelumnya Kepala UPTD Terminal Baranangsiang Islahudin pun pernah dipanggil sekretaris daerah (sekda) lantaran terjadi pungli kepada sopir bus-bus yang menginap di dalam terminal.

Baca Juga  Bisa Atasi Rambut Rontok dan Kusam

Sementara itu, Pengamat Transportasi dari Masyarakat Transportasi Indonesia (MTI) Djoko Setijowarno mengatakan, adanya kondisi Terminal Baranangsiang yang seperti itu tentu sangat merugikan masyarakat dan para pengusaha bus.

“Kalau fasilitas dan pelayanannya bagus maka pasti banyak masyarakat yang lebih memilih terminal untuk pemberangkatan, tetapi dengan kondisi seperti itu, masyarakat kini lebih memilih menggunakan travel atau pun mobil online yang saat ini booming,” paparnya.

Ia meminta agar Pemkot Bogor merevitalisasi Terminal Baranangsiang. Hal tersebut agar masyarakat yang akan berpergian merasa lebih nyaman untuk berangkat dari Terminal Baranangsiang.

Setiap PO bus dapat memberikan pelayanan maksimal kepada masyarakat yang akan menggunakan jasa bus tersebut. “Kalau masih ada pungli yang dilakukan oknum petugas, seharusnya Pemkot Bogor bertindak karena jika dibiarkan jelas akan merugikan masyarakat mau pun PO Bus,” katanya.

Djoko juga menilai kondisi Terminal Baranangsiang saat ini sangat semrawut. Tidak ada pengawasan yang baik dari petugas dishub untuk mengatur kendaraan yang ada di terminal.

Baca Juga  PDJT Terus Jadi Beban Pemkot

“Memang dibutuhkan orang-orang yang kreatif dan inovatif untuk mengelola, sehingga terminal pun menjadi lebih baik,” jelasnya.

Terpisah Kepala Dishub Kota Bogor Rakhmawati mengaku telah melakukan pelayanan semaksimal mungkin di terminal. Terkait time table yang ada di Terminal Baranangsiang memang telah ada aturannya, namun karena dianggap terlalu sedikit para PO bus melakukan kesepakatan bahwa waktu mangkal bus menjadi 30 menit. “Kalau kita semakin cepat pemberangkatan justru lebih baik, karena di dalam terminal tidak padat,” tuturnya.

Adanya pungli di terminal Baranangsiang, Rakhmawati meminta agar ada pembuktian terkait pungli tersebut sehingga ia bisa menindak anggotanya yang melakukan pungli tersebut.

“Laporkan saja siapa yang pungli, kita akan tindak sesuai aturan terlebih saat ini sudah ada tim saber pungli,” katanya.

Sementara itu, Kepala UPTD Terminal Baranangsiang Islahudin tidak merespons SMS, Whatsapp mau pun telepon dari Harian Metropolitan.

(mam/c/els/dit)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *