Sidang Ahok,Dua Polisi Bogor Diperiksa

by -115 views

PERSIDANGAN dugaan penistaan agama dengan terdakwa Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok akan kembali digelar di Kantor Kement­erian Pertanian (Kementan), Jakarta Selatan. Hari ini agendanya menden­garkan keterangan penyidik untuk mengklarifikasi keterangan saksi pel­apor, Wilyuddin Abdul Rasyid Dhani. Dua polisi Bogor pun akan dipanggil.

Dua petugas kepolisian tersebut adalah Bripka Agung Hermawan dan Briptu Ahmad Hamdani. Keduanya diperiksa menyusul adanya kesalahan pencantuman tanggal dan lokasi tempat kejadian perkara di berkas Berita Acara Pemer­iksaan (BAP) salah satu saksi.

“Jadi laporan pertama perka­ra ini berasal dari Polresta Bogor kemudian dilimpahkan ke Bareskrim Mabes Polri. Ada perbedaan antara isi laporan polisi dan BAP-nya, baik tang­gal dan tempat kejadian klien kami,” Ketua Tim Penasihat Hukum Trimoelja D Soerjadi.

Pada laporan tersebut, sam­bung Trimoelja, disebutkan bahwa peristiwa saat Ahok menyampaikan pidato adalah tanggal 6 September, padahal seharusnya 27 September. “Kemudian lokasi tempat ke­jadian perkaranya juga ber­beda. Lokasinya juga ditulis Tegallega, Bogor, padahal kan di Pulau Seribu. Makanya dua polisi itu akan dipang­gil majelis hakim untuk me­minta klarifikasi terkait hal ini,” terangnya.

Willyudin pun berdalih bahwa waktu dan lokasi ke­jadian dalam surat laporannya adalah salah pengetikan oleh polisi. “Kesaksian saya adalah kesalahan ketik polisi,” kata Willyudin.

Baca Juga  Diputarputar Demi Dapatkan Pelayanan RSUD Ciawi

Keterangan lokasi kejadi­an di laporannya, Willyudin mengaku melihat video pi­dato Ahok melalui Youtube di rumahnya yang berlokasi di Tegallega, Kota Bogor. Berdasarkan video itu pula ia melaporkan Ahok atas tudu­han penistaan agama.

Majelis hakim kemudian berdiskusi beberapa saat. Ketua Majelis Hakim Dwi­arso Budi pun mengambil keputusan meminta jaksa penuntut umum menghadir­kan dua polisi yang membuat dan menandatangani surat laporan tersebut. “Demi men­cari kebenaran materiil, maka memerintahkan jaksa penun­tut umum menghadirkan polisi sambil membawa buku register, apa betul kesalahan ketik,” ujar Dwiarso.

Sementara itu, Pengamat Hukum dari Universitas Al-Azhar Rahmat Bagja men­gatakan, masyarakat harus menghormati kinerja pen­egak hukum yang berupaya melakukan pembuktian kasus tersebut. “Proses sidang Pak Ahok ini harus dihormati. Proses hukum kan sekarang masih berjalan, tentu ma­syarakat harus menghormati,” katanya.

Baca Juga  Tanahnya Dibeli, Enur Mau Berangkat Haji

Menurut Rahmat, banyaknya masyarakat yang datang ke lokasi sidang Ahok bisa jadi dipicu karena tak adanya kepastian hukum. “Masyarakat sebaiknya bisa menunggu karena proses hukum itu wak­tunya lama. Dalam prosesnya, para penegak hukum ini kan juga sudah menerima alat bukti,” terangnya.

Sementara arus lalu lintas di depan Kementan, Ragunan, Pasar Minggu, Jakarta Selatan, akan ditutup berkaitan den­gan sidang kasus Ahok.

Kabid Humas Polda Metro Jaya Kombes Argo Yuwono mengatakan, penutupan arus lalu lintas dilakukan dini hari untuk mempersiapkan pen­empatan kendaraan taktis seperti kawat barrier hingga water canon. Sebab, massa yang pro dan kontra juga di­prediksi akan kembali mema­dati kawasan tersebut untuk melakukan aksi. “Dari hasil evaluasi, massa kedua kubu ini harus kita atur supaya tidak ada bentrokan. Makanya kita perlu waktu untuk persiapan,” imbuh Argo.

Baca Juga  Menhub Buka Trayek BSD-Zam-zam Park Bogor

Selain itu, Tim Gegana juga akan diturunkan ke lokasi untuk melakukan sterilisasi gedung guna mengantisipasi hal-hal yang tak diinginkan. “Sterilisasi itu tetap, protap pagi-pagi. Gegana tetap di situ. Setelah steril, baru Pam Obvit yang jaga,” lanjut dia.

Untuk personel pengaman­an, lanjut Argo, masih sama seperti sebelumnya. Selain mengamankan ruang sidang, konsentrasi pengamanan juga dilakukan di ring dua dan tiga sekitar Gedung Kementan. “Pengamanan tidak ada yang berubah, masih sama seperti sebelumnya,” tandasnya.

Terpisah, Gubenur DKI Ja­karta non-aktif Basuki Tjahaja Purnama mengaku pusing se­lama proses persidangan yang digelar setiap Selasa. Apalagi ketika ia harus duduk di persi­dangan hingga larut malam. Di antaranya saat jaksa penuntut umum mendatangkan empat saksi pelapor pada Selasa pekan lalu. “Tiap Selasa sidang sampai malam. Pusing, pusing, saya,” ujar Ahok.

(de/feb/run)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *