Bertaruh Nyawa Demi Sekolah

by -

MENGENYAM pendidikan di gedung sekolah yang layak mungkin masih se­batas angan-angan bagi anak-anak Kam­pung Kukuksumpung, Desa Gobang, Kecamatan Rumpin.

Untuk sampai ke gedung sekolah Kelas Jauh SDN Gobang 04, para siswa setiap harinya harus melewati tebingan Gunung Eusing yang menjulang tinggi sejauh dua kilometer. Bahkan sebelum sampai se­kolah, seragamnya telah dibasahi ke­ringat dan lumpur.

Tak hanya akses sekolah yang jauh, ku­rangnya ruang kelas mengharuskan siswa berbagi kelas. Walaupun kondisinya sangat memprihatinkan, namun tak men­ghentikan niat seratus siswa bersekolah.

Guru Kelas Jauh SDN Gobang 04 Uneb Sunaebi (23) mengaku sekolah paket A awalnya berdiri sejak 2000. “Hingga 2008, sekolah ini berubah menjadi Kelas Jauh SDN Gobang 04 yang menginduk ke SDN Gobang 04 di Kampung Cibuluh,” ujar Uneb saat ditemui Metropolitan, kemarin.

Kondisi kelas yang murat-marit, sambung dia, akhirnya di 2016 Dinas Pendidikan (Disdik) Kabupaten Bogor membangun empat kelas. Padahal, gedung SDN ideal memiliki tujuh ruang kelas. Dam­paknya, siswa kekurangan dua kelas lagi. “Siswa kelas satu, dua dan tiga masih menggunakan gedung sekolah lama dengan kondisi memprihatinkan dan rawan roboh,” bebernya.

Uneb menambahkan, karena keku­rangan ruang kelas, pihak sekolah ber­sama orang tua siswa sepakat menyekat ruang kelas dengan menggunakan triplek. “Karena disekat, siswa kelas satu harus berbagi ruang kelas dengan siswa kelas dua dan proses belajar mengajar jadi tidak maksimal,” imbuh Uneb.

Dia mengaku sedih dengan bangunan sekolah yang mulai usang itu. Selain tak memiliki jendela, lantai pun hanya bera­las tanah. Begitu juga dengan kondisi meja serta kursinya. “Karena mengguna­kan bangunan lama, ketika hujan, buku dan baju siswa kebasahan,” keluhnya.

Hal senada juga diungkapkan guru ke­las tiga, Supriyadi. Gedung sekolah tak hanya digunakan SDN Kelas Jauh Gobang 04, siang harinya diisi siswa SMP terbuka Asifa. Tak hanya kekurangan ruang kelas, sekolah ini juga tak memiliki toliet. Siswa pun terpaksa BAB ke hutan atau pulang ke rumah. “Siswa yang BAB biasanya langsung pulang ke rumah dan tidak lagi ke sekolah,” katanya.

Dengan jumlah murid seratus siswa dan empat guru yang masih honor, sekolah ini masih kekurangan prasarana dan guru. Tak hanya itu, kondisi jalannya juga sangat memprihatinkan dan membuat Kampung Kukuksumpung terisolasi. “Kami minta pemerintah kabupaten membangunkan dua kelas dan memperbaiki akses jalan,” pungkasnya.

(ads/c/yok/run)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *