Kisah Duka ‘Sekolah Terpal’ di Musim Hujan

by -

KABUT pagi bercampur tetesan hu­jan tak menjadi halangan siswa untuk tetap berangkat sekolah. Meski hujan mengguyur, nyatanya anak-anak di Kampung Cisarua, Kecamatan Cigudeg itu tetap beranjak pergi menuju ‘Sekolah Terpal’. Satu-sat­unya sekolah yang ada di kampung mereka. Bahkan, anak-anak di sana rela becek-becekan di kelas yang hanya tertutup tenda biru. Inilah sepeng­gal kisah duka di tengah anak-anak lainnya sibuk merayakan ‘Hari Kasih Sayang’, Valentine’s Day.

Ruang kelas terpal hanya berukuran 6 x 4 meter. Saat musim hujan seperti seka­rang, anak-anak di sana su­dah terbiasa dengan air yang menetes dari atap ruangan yang hanya dilapisi lembaran terpal. Meja dan kursi yang telah usang pun terpaksa ikut basah akibat atap yang bocor. Belum lagi lantai tanah yang berubah menjadi jeblok.

Beruntung, anak-anak di sana tak perlu takut sepatu ba­gusnya rusak. Sebab, mereka cukup mengenakan sandal sebagai alas kaki mungilnya. Tak perlu sepatu mewah untuk bisa mendapatkan haknya bersekolah. Bahkan, tak ada aturan bagi siswa untuk ber­seragam.

Baca Juga  Ratusan Bangunan Liar di Kemang Diratakan, Alat Berat Dikerahkan

Sejak 2010, kondisi ini se­cara turun-temurun dialami setiap siswa di ‘Sekolah Ter­pal’. Seakan tak ada pilihan, hanya tenda mirip warung Pedagang Kaki Kima (PKL) ini tempat yang bisa dijadikan pilihan anak-anak di Kampung Cisarua, RT 01/07, Desa Bany­uresmi, Kecamatan Cigudeg, Kabupaten Bogor.

‘Sekolah Terpal’ merupakan Kelas Jauh SD Negeri Sirnaasih yang sengaja didirikan ma­syarakat Kampung Cisarua. Sekolah itu didirikan dengan modal terbatas, hanya terpal dan bambu. Setelah tiga tahun dibangun, sekolah itu baru diresmikan. Namun, hingga kini nasibnya masih sama. Ma­sih dilapisi terpal dan beralas tanah yang setiap hujan selalu mebawa duka bagi anak-anak dan pengajarnya.

‘Kapan sekolah ini akan dibangun?’ Pertanyaan itu sering menghantui benak siswa dan pengajarnya. Ter­masuk juga di pikiran Kepala Sekolah Negeri Sirnaasih Be­nyamin yang selama ini turut mengawal keberadaan ‘Seko­lah Terpal’. “Sampai sekarang juga kita masih menunggu. Tanahnya sudah ada, tapi kan pembangunannya butuh ang­garan. Itu yang belum tahu,” kata dia.

Baca Juga  Lurah Gunungpuyuh Turun Tangan, Warga Gencar Bersih-bersih

Di Hari Kasih Sayang 14 Feb­ruari ini pun, harapan itu masih menggebu. Tak perlu peray­aan mewah dengan bingkisan bunga ataupun sepotong cokelat. Cukup keinginan agar sarana prasarana di ‘Sekolah Terpal’ bisa dipenuhi. Sebab saking keterbatasan fasilitas, kepala sekolah pun terpaksa membagi waktu mengajar menjadi dua shift.

“Untuk kelas satu, dua dan tiga masuk pagi. Sedangkan kelas empat, lima dan enam masuk siang. Kalau kelas satu di tenda, kelas dua di majelis dan kelas tiga di teras rumah pak RT,” bebernya.

Butuh kesabaran untuk men­gelola sekolah yang lokasinya jauh dari pusat kota. Bahkan untuk sampai ke lokasi ini, Harian Metropolitan juga harus melewati jalanan tanah dan berbatu. ‘Sekolah Terpal’ ini sudah berkali-kali pindah. Dari rumah warga, di masjid, rumah ketua RT sampai akh­irnya bisa menempati lahan sepetak yang dibuat seder­hana.

Baca Juga  KPU Masih Cicil Logistik Pemilu

Ketua RT 01 Cecep (54) yang merupakan tokoh setempat masih ingat bagaimana per­juangannya ikut mendirikan ‘Sekolah Terpal’. Sudah empat kali kelas jauh ini dipindahkan. Mulai dari bersekolah di mas­jid wilayah RT 02, rumah ketua RT 02, masjid RT 01 sampai akhirnya warga membangun di atas lahan seluas 25 me­ter. “Karena hanya bersifat sementara, makanya warga bersama guru bersama-sama hanya membuatkan satu kelas dengan atap terpal dan alas tanah. Sampai sekarang be­gini,” kenangnya.

Sementara untuk bangku dan meja sekolah, warga memperolehnya dari sekolah MI yang ada di Leuwisadeng. Namanya pemberian, tentu­nya kondisinya tidak mulus. Sebelum digunakan harus diperbaiki dulu. “Yang pent­ing anak bisa bersekolah dan memiliki ijazah,” harapnya.

(ads/b/de/feb/run)

Leave a Reply

Your email address will not be published.