Geng Raid Incar Bocah Bogor

by -

Orang tua di Bogor diminta ekstra mengawasi pergaulan anak-anaknya, terutama anak perempuan. Komisi Nasional Perlindungan Anak (Komnas PA) memberi peringatan akan adanya geng pemerkosa massal. Pelaku dan korbannya anak di bawah umur.

SESUAI catatan Komnas PA, pada tahun ini sudah ada tiga kasus pemerkosaan yang dila­kukan segerombolan anak muda. Mulai di Bogor dengan pelaku sebanyak tujuh orang yang memperkosa remaja be­rusia 14 tahun, lalu di Beng­kulu dan Semarang. Ketua Komnas PA Arist Merdeka Sirait menjelaskan, sebenarnya fenomena Geng Raid ini ter­jadi ketika situasi keadaan negara tengah dilanda keka­cauan seperti terjadi peperang­angan atau sebagainya.

Namun untuk tahun ini, di Indonesia sedikit berbeda. Ne­gara dalam keadaan baik namun Geng Raid terjadi di mana-mana. “Kami juga tak menger­ti dan agak aneh kenapa bisa ada pemerkosaan bergerom­bolan,” kata Sirait.

Baca Juga  Jalan Desa Dan Jaling Jadi Pekerjaan Utama

Menurut Sirait, terjadinya fenomena ini akibat tsunami teknologi. Di mana teknologi saat ini sudah tak bisa diben­dung sehingga menjadi pe­micu anak-anak berbuat di luar kewajaran. “Jadi gini. Ke­tika pemicunya adalah tekno­logi, dalam artian anak-anak diberikan tayangan porno­grafi atau pornoaksi, lalu me­reka untuk mendorong yang dikonsumsinya (tayangan por­nografi, red) melalui minuman keras (miras). Sehingga wajar jika sampai anak di bawah umur berani melakukan pemerko­saan,” ucap dia.

Ia juga menuturkan, feno­mena ini terjadi tak hanya di kota-kota besar, melainkan turut terjadi di beberapa per­kampungan. Sehingga, tak ayal jika fenomena Geng Raid ini bisa dikatakan menakutkan. “Fenomena ini menakutkan karena sebagian besar pela­kunya anak-anak. Bahkan, mereka bergabung dengan orang dewasa,” tuturnya.

Untuk mengantisipasi feno­mena ini tak berkelanjutan, pi­haknya akan mengajak atau memberi akses kepada masy­arakat agar bisa menjaga wilay­ahnya masing-masing. Yakni melalui gerakan perlindungan anak sekampung yang akan dilakukan masyarakat sekitar. “Selain koordinasi dengan pe­negak hukum, kita juga akan mengajak di setiap wilayah da­pat memperhatikan anak me­reka dari tindak kekerasan orang lain. Karena jika warga saja tak bisa menjaga wilayahnya sen­diri dari ancaman terhadap anak, lalu siapa lagi?” yakinnya.

Baca Juga  Tragis Bocah Cikeas Tewas Disiram Air Mendidih

Ia menambahkan, secanggih apa pun teknologi jika anak mendapat pengawasan dari orang tua, fenomena Geng Raid ini tak akan mungkin terjadi. Walaupun di zaman saat ini tak ada yang tak bisa dilakukan teknologi canggih. “Semua kembali ke keluarga dan warga sekitar. Pengawasan harus terus dibe­rikan terhadap anak agar anak tidak hancur oleh kecanggihan teknologi,” ujarnya.

Sementara itu, pemerkosa bergerombol memang pernah terjadi di Kabupaten Bogor, Oktober 2016 lalu. Ada tujuh remaja pria berusia antara 16-20 tahun yang ditangkap atas pidana pencabulan dan pe­merkosaan terhadap seorang siswi berusia 14 tahun. Kapol­res Kabupaten Bogor AKBP M Dicky Gading Pastika menga­takan, polisi mengetahui aksi bejat tujuh pelaku saat orang tua korban melapor. Polsek Kemang Resor Bogor bertindak cepat untuk menangkap tujuh pelaku.

Baca Juga  Satpol PP Sita 64 Dus Miras

Ketujuh pelaku masing-ma­sing berinisial MS (17), HMY (18), SF (20), MIM (16), MRM (17), AC (18) dan JH (18). Ke­jadian ini berawal saat siswi kelas tiga SMP itu pulang se­kolah sendirian. Ia dalam per­jalanan ke rumah temannya untuk mengerjakan tugas se­kolah pada Rabu (26/10) lalu. ”Di tengah perjalanan, korban dicegat ketujuh pelaku dan dicekoki obat-obatan dan mi­ras jenis ciu sehingga tak sa­darkan diri,” tutur Dicky.

(rez/c/els/run)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *