Puncak Nasibmu Kini…!

by -

CISARUA – Cisarua Puncak, wilayah kecil yang menyimpan banyak persoalan. Mulai dari pergeseran nilai sosial karena maraknya imigran, hingga lingkungan yang sampai kini masih belum terselesaikan.

Puncak sendiri seperti magnet yang mampu menarik siapa saja untuk datang, bahkan menetap di wilayah yang menjadi salah satu destinasi paling tenar di Tanah Air ini. Namun sayang, masih kurang bisa dimanfaatkan secara maksimal.

Hal tersebut terkuak dari pernyataan Wa­kil DPRD Kabupaten Bogor Iwan Setiawan. Dirinya mengaku paham betul akan seluk-beluk Puncak karena merupakan warga asli Puncak. Menurutnya, salah satu po­tensi yang belum tergali adalah sektor pajak, banyak vila-vila yang berdiri belum masuk ke wajib pajak. ”Banyak vila yang disewakan, tapi pajaknya tidak tertagih,” bebernya.

Saat ini di Puncak telah berdiri puluhan hotel serta ratusan vila dan rumah makan, sampai-sampai lahan resapan air banyak yang beralih fungsi. Akibatnya Puncak ke­hilangan 11.818 mata air. Hal itu diung­kapkan Kepala Seksi (Kasi) Pemerintahan Kecamatan Cisarua Ridwan. Sebelum be­rubah menjadi hutan beton, Puncak me­miliki ribuan mata air. ”Dulunya sih ribuan mata air ada di Puncak. Tapi saat ini hanya puluhan saja yang masih bisa dipergunakan,” tuturnya.

Meski segala pengorbanan telah diper­sembahkan Puncak, mulai dari potensi pajak yang tidak tergali, bergesernya nilai-nilai sosial sampai kepada hilangnya pulu­han hektare lahan resapan air dan ribuan mata air. Tapi sama sekali belum bisa ber­dampak untuk menyejahterakan masyara­kat Puncak secara keseluruhan.

Menurut Ridwan, masih ada 1.750 unit rumah yang berdinding bilik. “Saat ini ma­sih ada 1.750 rumah bilik yang dihuni warga. Umumnya merupakan rumah pang­gung dengan dinding bilik dan alas kayu,” ungkapnya.

Salah satunya rumah milik Eman (47) warga Desa Citeko, Kecamatan Cisarua. Rumah bambu berusia hampir 20 tahun itu menjadi tempatnya melepas lelah. Hingga kini, tidak ada niatan baginya untuk mengubah rumah biliknya menjadi rumah tembok. Penghasilannya sebagai penjual cilok baru mampu mengisi perut keluarga dan sekolah anak-anaknya. “Saya bersyu­kur saja pada Allah SWT masih diberi kese­hatan, istri dan anak yang baik serta rumah bilik yang saya bangun sendiri sejak saya bujangan,” ungkapnya.

(ash/b/suf/dit)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *