Hoax Gencar Di Medsos

by -

METROPOLITAN – Verifikasi terhadap perusahaan yang membidangi segala bentuk media-media yang dilakukan Dewan Pers kini masih dalam proses ratifikasi pendataan. Guna mengantisipasi berbagai masukan berita bohong (hoax), Dewan Pers bertanggung jawab mengawasi berbagai pemberitaan yang sudah diterbitkan.

Menyoal hoax, Ketua Dewan Pers Nasional, Yosep Ari Prasetyo menjelaskan memang saat ini  gencar diperbincangkan dan diberitakan dari berbagai media social yang masih memprihatinkan untuk dipercaya. Demi menjaring berita yang terpercaya, Yosep mengimbau kepada masyarakat agar selalu menelusuri sumber kebenaran berita tersebut. “Untuk penyebaran berita hoax, lebih banyak dari media sosial whatsapp. Sekitar 200 blog juga sudah diblokir oleh Kementerian Infomasi dan Komunikasi,” kata Yosep.

Baca Juga  Kapolres Minta Warga Jangan Tersulut Berita Hoax

Ditakutkan Yosep, penyebaran berita hoax yang sedang marak ini akan berdampak pada radikalisme, rasisme, serta kepentingan dari berbagai elite politik. Walaupun beberapa situs internet sudah diblokir, namun masih ada banyak cara untuk membuat situs itu kembali. “Jika sudah diblokir, tapi tetap saja ada yang mengganti domainnya, yang sebelumnya menjadi .id berubah menjadi .co. Beberapa kasus yang sudah kami temui berita yang belum tentu kebenarannya, yaitu berita penculikan anak di Jawa Timur. Selain itu kami juga sudah membuat situs yang bisa langsung melaporkan apakah berita tersebut benar atau tidak dan masyarakat bisa langsung melaporkan serta mengkroscek berita yang sudah diterbitkan,” tegas Yosep.

Baca Juga  Polda Jabar Kerahkan 20 Ribu Anggota

Di sisi lain, Yosep Ari Prasetyo mengatakan, hingga saat ini sudah terdata sekitar 100 perusahaan media yang tercatat dalam memenuhi segala persyaratan serta komitmen yang dibangun dalam perusahaan media. Perusahaan tersebut tersebar disekuruh Indonesia, baik media cetak, televisi maupun online.”Verifikasi tersebut untuk mengecek empat komitmen yang sdah dibangun, diantaranya perlindungan wartawan, kesejahteraan dan kompetensi wartawan. Untuk di Kaltara, saat ini belum ada yang terverifikasi,”ungkap Yosef saat ditemui Radar Tarakan.

Lanjut Yosep, guna untuk menghindari wartawan abal-abal verifikasi tersebut dimaksudkan untuk taat kepada kode etik jurnalis. Bukan hanya dewan pers yang terlibat dalam penanganan verifikasi tersebut, turut juga menggandeng Serikat Penerbit Surat Kabar (SPS) dan Asosiasi Televisi Lokal Indonesia (ATVLI) demi mempercepat hasil verifikasi tersebut di berbagai media di daerah. “Pada peringatan Hari Pers Nasional sudah tercatat 77 perusahaan media yang terverifikasi,” pungkasnya.

Baca Juga  5 Fakta tentang Clubhouse, Medsos Baru yang Tengah Naik Daun

SUMBER : prokal.co

Leave a Reply

Your email address will not be published.